Dua hari setelah Davina mengatakan cinta, dokumen rumah tiba melalui pengacara keluarga. Ia membukanya pada Sabtu pagi pekan kesebelas uji hotel, masih mengenakan pakaian santai dengan sarapan belum selesai. Rincian pilihan sebagian sudah diminta sejak pembicaraan biaya. Yang membuat ia berhenti adalah kalimat bahwa penjelasan juga melanjutkan pembicaraan dengan Devon pada Senin sebelumnya.
Davina menatap suaminya yang sedang mencari pesan pada ponsel. Ia meletakkan sendok dan menanyakan percakapan apa yang dimaksud. Devon mengangkat wajah, melihat halaman di depan, kemudian mengatakan ayahnya pernah menelepon mengenai kemungkinan menjual bila rumah tidak akan dipakai.
'Senin lalu?'
'Iya.'
'Kita makan bersama sesudahnya. Aku bertanya ada yang perlu dibicarakan lagi atau tidak.'
Devon menurunkan perangkat. Ia mengatakan ia mengira lebih baik menunggu dokumen karena belum ada keputusan. Davina mendengar alasan tersebut, merasakan sesuatu yang dingin menggantikan kehangatan beberapa malam terakhir. Bukan karena rumah sudah dijual diam-diam. Justru ia belum mengetahui apa yang dibicarakan sementara seseorang lain memilih kapan ia siap menerima.
'Aku tidak menyetujui penjualan,' kata Devon. 'Aku bilang Papa perlu bicara langsung kepadamu dan pihak yang berhak.'
'Lalu kenapa kamu sendiri tidak bilang?'
'Aku takut kamu semakin merasa ditekan. Hari itu sudah berat. Aku pikir kalau sudah ada bahan lengkap kita bisa membicarakan lebih tenang.'
'Kamu yang memutuskan aku akan lebih tenang jika tidak tahu.'
Ia mengangguk perlahan. Davina berdiri membawa dokumen ke ruang tengah, perlu menjauh dari meja agar dapat berpikir tanpa terus memandang piring sarapan yang sempat terasa biasa. Ia mendengar Devon bergerak, kemudian berhenti pada jarak yang tidak menghalangi jalan.
'Aku tidak sedang menagih hak melarang Papa menjual miliknya,' katanya. 'Aku tahu pengalihan belum terjadi. Tapi semua membicarakan pilihanku, lalu Papa bertanya kepadamu sebelum kepadaku. Kamu menerima percakapan itu dan memilih menyimpan.'
'Aku salah.'
Davina memejamkan mata. Pengakuan datang lebih cepat daripada yang dibutuhkannya untuk merasa dapat menerima. Ia ingin mengetahui isi tepat, bukan hanya label bahwa Devon menyesal. Ia meminta waktu menelepon pengacara serta ayahnya sendiri dahulu, kemudian membaca catatan suaminya mengenai apa yang benar dikatakan.
Devon menyetujui. Ia tidak meminta menunggu sampai kemarahan turun agar penjelasannya lebih mudah diterima. Ketika Davina pergi ke kamar cadangan untuk menelepon, ia tidak mengikuti atau mengetuk sebelum dipanggil. Pintu yang dapat ditutup membuat Davina akhirnya dapat menarik napas tanpa merasa seluruh perasaan harus diatur agar suaminya tidak kecewa.
Pengacara mengonfirmasi belum ada penjualan atau persetujuan. Pak Danajaya meminta opsi disiapkan karena perawatan membesar, termasuk kemungkinan disewakan dan perbaikan yang diperlukan. Tidak ada perintah kepada Devon untuk membujuk Davina. Keterangan itu mengurangi ketakutan mengenai keputusan yang telanjur dibuat, tetapi tidak mengubah kenyataan ia menerima kabar sebagai orang terakhir pada percakapan yang disebut menyangkut dirinya.
Ayah menjawab pada panggilan berikut. Ia mengaku meminta gambaran kepada Devon karena menganggap pasangan tentu membicarakan dan dapat saling menyampaikan. Davina menanyakan mengapa pertanyaan tentang pilihannya tidak diberikan langsung. Pak Danajaya terdiam, kemudian mengatakan ia hendak memulai dari pembicaraan yang dianggap lebih mudah.
'Lebih mudah untuk siapa, Pa?'
Tidak ada jawaban cepat. Davina menerangkan ia dapat menerima bahwa aset tetap milik keluarga dan biaya tidak dapat dibiarkan tanpa keputusan. Ia tidak dapat menerima bila namanya terus dipakai sebagai pihak yang diberi pilihan, sementara pendapat diminta melalui suami. Ia meminta dua minggu membandingkan setelah melihat kondisi sendiri, dengan bahan yang sama diterima orang lain. Ayahnya menyetujui dan meminta maaf telah melewati percakapan yang seharusnya dilakukan.
Sesudah panggilan, Davina tetap berada di kamar beberapa menit. Ia membuka pesan Em mengenai pengakuan cintanya, belum ingin membalas. Ia tidak merasa kata yang diucapkan Kamis menjadi palsu karena kini sakit hati. Ia juga tidak mau memakai cinta sebagai alasan menyingkirkan perasaan yang memberitahu ada kebiasaan lama kembali terjadi.
Devon telah mengirim kronologi ketika ia keluar. Senin, permintaan pendapat, penjelasan cenderung tetap di penthouse, serta pernyataan agar Pak Danajaya membahas kepada Davina. Ia mencantumkan bahwa tidak diminta merahasiakan dan ia sendiri memutuskan menunggu. Tidak ada kalimat yang menempatkan seluruh kesalahan pada ayah mertuanya.
'Kamu bisa mengatakan belum jelas,' ujar Davina. 'Aku tidak meminta kamu mengarang kepastian. Aku ingin tahu ada pembicaraan.'
'Aku ingin mempertahankan suasana yang terasa baik,' kata Devon. 'Aku takut merusaknya. Aku lalu melakukan sesuatu yang justru membuatmu tidak dapat mempercayai ketika aku bilang tidak ada yang perlu dibicarakan.'
Ia terdiam setelah kalimat itu. Davina mengatakan ia ingin memakai kamar cadangan sementara. Bukan mengubah kesepakatan tinggal tanpa bicara atau meminta Devon meninggalkan rumah. Ia perlu tempat beristirahat ketika belum ingin menerima kedekatan seperti malam sebelumnya. Devon mengangguk dan menawarkan memindahkan barang yang memang diminta, lalu berhenti ketika ia mengatakan dapat mengambil sendiri.
Davina membawa buku, pakaian untuk beberapa hari, dan pengisi daya. Pada pintu kamar utama ia berhenti ketika melihat dua bantal yang sejak kepulangannya mulai terasa biasa. Ia hampir kembali menaruh barang agar kesedihan tidak perlu dijalani. Kemudian ia mengingat mengapa tadi meminta ruang dan meneruskan ke kamar cadangan. Ia meletakkan buku pada meja, mencoba lampu yang sudah lama tidak dipakai, lalu merapikan ranjang. Tangannya masih sedikit gemetar ketika menarik ujung seprai. Tidak ada kepuasan melihat Devon berdiri pada jarak yang dipilihnya; ia justru ingin suatu hari dapat mendekat tanpa perlu menutup pertanyaan yang sama.
Malam itu mereka makan tanpa banyak gurauan. Davina menyebut akan pergi melihat rumah sendiri akhir pekan berikut, didampingi orang yang memahami bangunan serta pengurus. Devon menerima, tidak menyiapkan kejutan kendaraan atau ikut diam-diam agar dianggap mendukung. Ia menanyakan bagian praktis yang perlu dibantu dan tidak menerima tugas menilai apakah keputusan itu sudah cukup tenang.
Sebelum berpisah ke kamar, Davina memanggil namanya. Ia mengatakan ia masih mencintai dan justru karena itu tidak ingin berlatih mengabaikan kebohongan yang dibungkus sebagai penundaan demi kebaikan. Devon mendengarkan tanpa meminta pelukan untuk membuktikan kalimat pertama benar. Ia mengucapkan selamat malam, membiarkan Davina menutup pintu kamar pilihannya, lalu duduk menghadapi pesan yang sejak Senin sebenarnya sudah dapat dikirim.