Davina tiba di rumah hadiah pada Sabtu pekan kedua belas bersama pengacara keluarga dan pemeriksa bangunan. Ia sudah memberitahu Devon akan pergi sendiri. Suaminya tidak muncul di belakang kendaraan dengan alasan kebetulan mempunyai urusan, dan tidak mengirim daftar pertanyaan yang harus dipakai agar kunjungan menghasilkan keputusan yang dianggap paling masuk akal.
Pengurus membuka pintu dan menunjukkan bagian yang sempat dicatat pada kunjungan pertama. Noda pada dinding belakang tidak hilang setelah dibersihkan. Pemeriksa melihat asal masalah sebelum memperkirakan perbaikan. Davina menunggu, mendengar penjelasan, lalu meminta dibedakan pekerjaan yang memang perlu dan perubahan yang hanya membuat rumah lebih mudah dipasarkan dengan harga tertentu.
Ketika mereka berhenti memeriksa satu sisi, Davina membuka jendela yang menghadap halaman. Kaitnya sulit digerakkan dan ia hampir menarik lebih kuat sebelum pengurus menunjukkan cara yang biasa dipakai. Ia menurunkan tangan, mencoba sesuai penjelasan, lalu mendengar suara dari jalan masuk. Ada penjual lewat, kendaraan, serta orang yang memanggil tetangga. Ia baru dapat membayangkan rumah sebagai tempat seseorang bangun dan memulai hari, bukan hanya gambar yang diperlihatkan keluarga setelah resepsi direncanakan. Ia menanyakan jam paling bising serta bagian yang sering perlu dibersihkan setelah hujan. Pengurus menjawab dengan cerita yang jauh lebih berguna daripada pujian bahwa tempat itu bagus untuk pengantin. Davina mencatat beberapa hal untuk calon penghuni kelak, lalu menutup jendela dengan hati-hati agar pemeriksa dapat melanjutkan. Ia tidak perlu menyukai setiap ruangan untuk menganggap orang yang mungkin tinggal berhak memperoleh tempat yang benar terawat.
Cat mengelupas, pendingin yang harus diperiksa, serta perawatan taman membuat Davina bertanya lebih rinci mengenai pekerjaan rutin. Ia mulai mengerti bagaimana hadiah yang tidak dipakai tetap memerlukan biaya serta orang yang bertanggung jawab setiap bulan.
Pengacara menegaskan keluarga masih memegang kepemilikan. Rencana menjadi tempat tinggal pasangan tidak pernah diselesaikan sebagai pengalihan setelah mereka memilih penthouse. Jika rumah disewakan, pemilik atau kuasa yang sah menangani, dan hasil tidak otomatis menjadi uang belanja Davina serta Devon. Kontribusi persiapan dari keluarga Mahawira perlu diperjelas sesuai catatan, bukan diubah menjadi dua orang yang masing-masing dapat menjual seluruh bangunan.
Davina menanyakan apakah menolak tinggal berarti ia dianggap menolak keluarga. Pengacara mengatakan ia hanya dapat menjelaskan kedudukan dokumen; perasaan orang perlu dibicarakan kepada yang bersangkutan. Davina tertawa kecil, senang tidak diberi jawaban yang pura-pura mampu menuntaskan semua bidang dengan membaca satu halaman.
Sesudah pemeriksaan, ia duduk di beranda bersama pengurus. Ada semilir yang menyenangkan dan ruang cukup untuk beberapa orang berkumpul. Ia membayangkan keluarga lain tinggal di sana, bukan sebagai pengganti dirinya yang gagal memenuhi harapan, melainkan orang yang benar membutuhkan ruang. Kemungkinan itu membuat ia ingin menghitung perbaikan serta pendapatan sewa dengan lebih sungguh, bukan hanya memilih tidak demi membuktikan dapat menentang.
Ia pulang dengan catatan tertulis. Devon berada di ruang tengah ketika ia datang, mengangkat wajah dari buku, lalu menanyakan bagaimana kunjungan. Davina menjawab ada beberapa pekerjaan perlu dilakukan dan ia belum memilih. Ia menaruh tas, mandi, dan baru kembali ketika ingin berbicara lebih jauh. Suaminya tidak mengulang pertanyaan selama ia belum muncul.
Davina menerangkan tiga pilihan yang masih mungkin. Devon mendengar sampai ia bertanya pendapat praktis. Ia mengatakan sewa dapat membantu biaya bila angkanya wajar, penjualan memberi kepastian lebih cepat, dan mempertahankan tetap kosong memerlukan sumber biaya yang jelas. Ia tidak memutuskan mana yang membuat istrinya paling cepat senang atau paling dekat kepadanya lagi.
'Aku akan berbicara kepada Papa hari Senin,' kata Davina. 'Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ingin diberikan, bukan hanya apa yang orang sebut hadiah.'
'Aku tidak akan menelepon lebih dahulu untuk menyiapkan jawaban,' ujar Devon.
Davina memandangnya, lalu mengangguk. Janji tersebut menyentuh hal yang benar mengganggu, tetapi ia masih perlu melihat. Ia mengatakan pertemuan awal akan dilakukan sendiri. Bila sesudahnya perlu membahas bagian yang menyangkut suaminya, ia akan mengajak dengan jelas, bukan membiarkan orang menganggap kehadiran Devon selalu mewakili dirinya.
Pada Senin pekan ketiga belas, ayah menerima di kantor keluarga. Davina menunjukkan hasil inspeksi dan menanyakan mengapa rumah disiapkan. Pak Danajaya mengatakan ia ingin anaknya mempunyai tempat luas serta aman bila membangun keluarga. Ia juga mengaku belum membayangkan Davina benar-benar akan memilih tempat lain untuk waktu panjang.
'Jadi ada harapan aku tinggal di sana,' kata Davina.
'Ada. Tapi harapan Papa bukan perintah yang membuatmu wajib pindah.'
Ia menanyakan bagaimana biaya direncanakan ketika disebut hadiah. Ayah menjelaskan bagian yang telah dipersiapkan, bagian yang belum, dan alasan kini ingin mengambil keputusan. Davina mendengar kecewa yang tidak langsung hilang. Ia ingin ayah mengakui sejak awal bahwa penggunaan tidak sama dengan kepemilikan. Pak Danajaya menerima hal tersebut tanpa mengatakan anaknya hanya mencari masalah pada pemberian yang seharusnya disyukuri.
Mereka menyepakati keluarga akan menilai perbaikan untuk sewa lebih dahulu, dengan pilihan menjual tetap dapat dipertimbangkan bila hitungan tidak masuk akal. Hasil perbandingan disiapkan sebelum batas dua minggu yang diminta Davina berakhir. Tidak ada penjualan diam-diam yang perlu dibatalkan; ada keputusan yang akhirnya dapat dibicarakan dengan orang yang sejak awal disebut mempunyai pilihan.
Di penthouse malamnya, Davina menceritakan seperlunya kepada Devon. Ia tidak ingin menyimpan agar suaminya merasakan bagaimana tidak diberi tahu. Ia juga tidak memberikan semua kalimat ayah sebagai tes apakah Devon akan kembali menghubungi di belakang. Ia mengatakan bagian yang perlu diketahui dan memilih berhenti ketika lelah.
Devon menanyakan apakah ia ingin minum sebelum melanjutkan membaca. Davina mengambil sendiri, lalu memilih duduk di ruang yang sama untuk beberapa waktu. Mereka tidak kembali tidur bersama malam itu. Ketika ia berpamitan menuju kamar cadangan, Devon mengucapkan selamat malam tanpa mengubah sore yang sedikit lebih tenang menjadi bukti semua telah dipulihkan. Davina membawa buku, menutup pintu, dan untuk pertama kali sejak Sabtu sebelumnya dapat memikirkan rumah sebagai pilihan yang sungguh sedang dipertimbangkannya.