Hasil pemeriksaan transaksi selesai pada Kamis pekan kesebelas uji hotel. Sebagian besar keputusan rutin dijawab dalam satu hari kerja setelah berkas lengkap. Ada pengajuan yang perlu waktu lebih lama karena informasi pemasok belum cukup. Satu urusan lain tertahan ketika pejabat Mahawira bepergian dan tidak ada pengganti yang mempunyai kewenangan.
Davina membaca penjelasan bersama penasihat, memastikan waktu dihitung dari keadaan yang sama. Ia tidak ingin berkas yang masih menunggu lampiran dipakai sebagai bukti orang Danajaya sengaja diam. Devon menerima temuan mengenai pengganti tanpa berusaha menghapus nama perusahaan sendiri. Mereka dapat memperbaiki kelemahan yang nyata tanpa menyimpulkan seluruh proses bersama perlu diambil satu pihak.
Pada pertemuan singkat, dewan menyetujui penunjukan pengganti dengan batas yang jelas. Percobaan empat minggu untuk pengaturan tersebut dimulai saat ditetapkan. Itu tidak mengulang uji hotel tiga bulan; bagian administrasi mempunyai waktu sendiri untuk diperiksa. Usul pemusatan ditahan, hak strategis tidak berubah, dan tim diberi tugas menunjukkan hasil penerapan yang benar.
Seorang direktur Danajaya kemudian mengirim ucapan selamat karena menganggap Davina berhasil menekan Mahawira. Ia menatap pesan, merasa terganggu pada pujian yang beberapa bulan lalu mungkin akan terdengar menyenangkan. Ia menjawab bahwa keputusan diambil untuk memperbaiki penyebab yang ditemukan, bukan memperoleh kemenangan keluarga. Ia meneruskan bagian yang perlu kepada ketua agar tafsir itu tidak menjadi arahan diam-diam bagi timnya.
Devon mendengar ketika ia menceritakan sesudah bekerja. Ia mengaku juga tidak ingin semua hal dilihat sebagai bukti siapa telah berhasil menguasai siapa. Davina merasakan sesuatu yang dahulu sangat diinginkan: suaminya tidak memerlukan ia berpura-pura selalu satu pikiran agar dapat pulang ke tempat yang sama.
Mereka tidak membawa perayaan ke restoran. Davina memilih memasak sederhana dengan bahan yang sudah ada, lalu meminta Devon mengambil beberapa barang yang kurang. Ia pergi, kembali membawa satu pengganti karena pilihan awal habis, dan menerima ketika Davina menjelaskan tidak dapat dipakai untuk masakan yang hendak dibuat. Mereka mengubah menu tanpa memperlakukan perjalanan belanja sebagai pengorbanan yang harus dihargai dengan memakan apa pun.
Saat mencicipi, Davina sempat terlalu banyak mengambil sambal dan perlu berhenti berbicara. Devon menggeser air sambil tersenyum menahan komentar. Ia menatap suaminya, mengangkat satu jari sebagai peringatan, lalu tertawa karena mengetahui betapa besar kesempatan membalas yang sedang ditinggalkan. Devon akhirnya hanya mengatakan ia juga pernah mengira tidak terlalu pedas. Mereka makan lebih pelan sesudahnya, bergantian mengambil wadah yang sulit dijangkau. Davina melihat perhatian yang tidak perlu disertai pengumuman. Ia ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sudah diketahui suaminya dari cara ia memilih duduk lebih dekat, tetapi ia tidak ingin terus menyerahkan tugas menebak kepada Devon.
Sesudah makan, Davina mengatakan ia ingin berjalan sebentar di balkon. Devon mengikuti dengan wajah yang sempat membuatnya tersenyum. Ia mengetahui suaminya mengingat pengakuan pada malam di balkon sebelumnya dan tidak ingin mengira setiap ajakan ke tempat itu akan menghasilkan jawaban. Davina sendiri baru tahu ia ingin mengatakan ketika melihat Devon menyingkirkan kursi agar pintu tidak terhalang.
'Aku sudah memikirkan ucapanmu,' katanya.
Devon memandangnya. Ia tidak menjawab dengan kalimat bahwa ia tidak perlu sekarang. Davina senang diberi ruang memulai tanpa penolakannya lebih dahulu diurus untuk membuat semua terlihat sabar.
'Aku juga mencintaimu,' ujarnya.
Ia melihat Devon menarik napas, menahannya sebentar, lalu tersenyum dengan cara yang tidak menyerupai senyum puas setelah memenangkan pertengkaran. Ia mendekat satu langkah, berhenti ketika Davina masih hendak bicara, dan menunggu.
'Aku masih punya hal yang perlu dipulihkan. Aku bisa marah dan tidak setuju. Aku tidak ingin kata ini dipakai membuat semua yang pernah terjadi terdengar tidak penting.'
'Aku mendengar.'
'Tapi aku juga tidak ingin terus berpura-pura semua kehangatan cuma salah baca. Aku merindukanmu kalau terlambat pulang. Aku ingin tahu harimu. Aku suka kamu yang kadang sangat tidak hebat memotong sayuran.'
Devon tertawa pelan, matanya tampak lebih basah daripada yang ingin disembunyikan. Davina mengulurkan tangan dan ia meraih. Ia mengatakan ia senang mendengar, kemudian berhenti karena suara tidak langsung cukup tenang. Davina tertawa dengan mata sendiri mulai panas. Mereka tidak memerlukan seseorang menyaksikan agar pengakuan terasa sah.
Ketika Devon memeluk, Davina mendekat atas pilihannya sendiri. Tidak ada janji bahwa sejak malam itu ia tidak boleh menarik diri ketika perlu ruang. Pelukan tersebut tidak digunakan untuk menahan kalimat yang belum selesai. Ia dapat mengangkat wajah, mencium sebentar, lalu kembali menyandarkan kepala tanpa merasakan kedekatan sedang dinilai sebagai persetujuan untuk semua yang belum dibicarakan.
Devon merasa ingin mengatakan seluruh yang dapat membuatnya tetap berada di sana. Ia juga teringat panggilan mengenai rumah yang belum disebut. Pikiran itu datang, lalu kembali dijauhkan dengan alasan penasihat akan menyampaikan dokumen. Ia tidak ingin mengubah malam pengakuan menjadi pembicaraan aset yang mungkin belum berarti apa-apa.
Davina tidak mengetahui bagian tersebut. Ia melepaskan pelukan untuk mengambil minum, mengajak Devon kembali duduk di ruang tengah, lalu menertawakan cara suaminya beberapa kali ingin berbicara pada saat yang sama. Ia memilih mendengarkan satu per satu. Cerita beralih pada kesalahan kecil di pekerjaan, kelas yang mulai lebih sulit, serta hal yang ingin dilakukan saat ada waktu luang.
Menjelang tidur, ia mengirim kabar singkat kepada Em bahwa hari itu ia akhirnya berani mengatakan perasaannya sendiri. Tidak ada tuntutan segera dijawab. Ia hanya ingin seseorang yang mengenalnya sebelum pernikahan mengetahui ia tidak lagi menyusun rencana membuat Devon patah hati. Ia masih mempunyai jalan untuk pergi jika perlu, dan malam itu ia memilih tinggal karena ingin membangun sesuatu bersama.
Devon mematikan lampu setelah Davina selesai membaca. Mereka berbaring pada sisi yang telah dipilih, lebih mudah saling mendekat tanpa harus menjadikan ranjang tempat menguji siapa kini paling menginginkan. Davina menggenggam tangannya sebentar, mengucapkan selamat malam dengan nama yang terdengar lebih lembut, lalu menutup mata. Devon membalas. Kalimat yang belum diberikannya mengenai rumah tetap tidak ikut keluar.