Davina mendengar Devon bersenandung ketika masuk dapur. Suaranya tidak cukup jelas untuk dikenali sebagai lagu tertentu, tetapi nadanya terlalu yakin bagi orang yang beberapa kali berpindah sesuka hati. Ia berhenti pada pintu, menunggu sampai suaminya menoleh, lalu mengangkat alis tanpa perlu mengatakan apa pun.
'Jangan menilai sebelum sarapan,' kata Devon.
'Aku belum punya kesempatan. Nadanya sudah pergi duluan.'
Devon tertawa, kembali memeriksa roti, dan menanyakan apakah ia ingin telur dengan cara biasa. Davina mengangguk, mengambil gelas, lalu menyiapkan bagian minum untuk mereka. Ia belum membalas pengakuan cinta pada malam sebelumnya. Suaminya tidak memandang setiap gerakan sebagai tanda jawaban akhirnya datang atau menanyakan apakah ia ingin kata itu ditarik kembali.
Ketenangan tersebut justru membuat Davina sulit berpura-pura tidak memikirkan. Ketika Devon menyodorkan piring, ia menyentuh pergelangan tangannya sebentar, mengucapkan terima kasih dengan suara lebih pelan. Pria itu menatap, tersenyum, lalu duduk. Mereka berbicara mengenai kegiatan hari itu, sementara Davina mengingat kalimat di balkon pada jeda yang tidak selalu terlihat dari luar.
Kabar biaya datang ketika ia tiba di kantor pada pekan kesepuluh uji hotel. Beberapa bahan naik, dan kontraktor mengajukan penyesuaian untuk bagian pekerjaan berikutnya. Dalam ringkasan pertama, perubahan tampak berlaku pada seluruh kelompok, padahal ada harga tetap yang sudah dijamin kontrak. Davina menandai satu baris, lalu salah memilih kolom pembanding sebelum analis memperlihatkan dasar yang seharusnya dipakai.
Ia meminta penjelasan ulang. Sesudah memahami, ia meneruskan pertanyaan dengan bahan yang benar kepada Anita. Manajer proyek tidak menghentikan seluruh pekerjaan. Bagian yang sudah pasti berjalan, sedangkan pengadaan yang dipersoalkan diperiksa bersama orang teknis serta keuangan. Mereka mempunyai tiga hari untuk menentukan pilihan sebelum jadwal benar terkena akibat.
Devon menerima penjelasan setelah rapat internal DM Electronics. Ia tidak langsung memilih menambah anggaran hanya agar pembicaraan selesai. Beberapa bahan memang berubah harga, satu alternatif ubin lebih mahal karena kontraktor mengambil pilihan yang tersedia cepat tanpa pembanding cukup. Pengiriman pilihan lain memerlukan tambahan dua hari pada area terkait, tetapi tidak menggeser seluruh pembukaan.
Davina hadir ketika kontraktor menerangkan. Ia tidak mempunyai bukti orang itu sengaja menipu dan tidak ingin kekeliruan dibandingkan sebagai kejahatan agar dapat terlihat tegas. Ia juga tidak akan menerima semua nilai hanya karena orang tersebut menyebut keadaan pasar. Selisih serta bagian tanggung jawab dinyatakan, pilihan dengan mutu setara diperiksa oleh yang berwenang, kemudian pekerjaan dipisahkan agar bagian lain tetap bergerak.
Ada pula pemberitahuan harga yang baru diteruskan setelah dua minggu. Kontraktor mengatakan ia menunggu perubahan terkumpul. Anita meminta risiko seperti itu diberitahukan ketika diketahui, bukan ketika semua orang akhirnya menerima tagihan yang jauh lebih besar. Devon mendukung, lalu menanyakan bagaimana memeriksa penerapan pada sisa tahap berjalan tanpa memberi Davina pekerjaan mengawasi setiap pesan.
Pada Rabu pekan itu ia hampir membatalkan kelas agar dapat terus mengikuti pembaruan. Ia sudah membuka pesan kepada pengajar, kemudian melihat jadwal kerja yang diterimanya sendiri. Ada orang yang memang bertugas memeriksa rincian dan sudah mempunyai waktu memberi kabar. Ia menanyakan bagian yang perlu dijawab sebelum sore, menyelesaikan, lalu berangkat ke kelas dengan kepala yang belum sepenuhnya lepas dari angka. Pelajaran pertama terlewat karena pikirannya kembali ke kantor. Davina meminta contoh diulang ketika giliran latihan, menahan malu, dan mulai mengikuti dengan lebih baik. Ia tidak dapat memperoleh waktu untuk kehidupan lain hanya dengan menulis pada kalender lalu tetap membawa pekerjaan ke setiap kursi. Malam itu ia menyelesaikan latihan pendek sebelum membuka kabar yang memang menunggu, membiarkan pekerjaan ditangani orang yang mempunyai tugas tanpa merasa seluruh kepeduliannya lenyap karena dua jam tidak melihat layar.
Kamisnya, kesepakatan tersebut selesai sebelum sore. Davina menerima ringkasan yang dapat dibawa kepada pemilik, termasuk angka yang masih berupa perkiraan. Dewan meminta laporan akhir pekan, dan ia mulai merasakan betapa mudah hotel percobaan dijadikan ukuran seluruh merger. Bila cepat, orang menghendaki kendali dipusatkan agar lebih cepat lagi. Bila lambat, orang dapat menyalahkan adanya dua sisi yang perlu berbicara.
Ia menyampaikan kekhawatiran kepada Devon melalui panggilan singkat. Pria itu mengatakan laporan perlu menyebut apa yang sungguh diuji dan apa yang belum. Satu proyek tidak dapat dipakai untuk menjawab setiap keadaan pada dua keluarga usaha. Davina mengangguk meski tidak terlihat, kemudian meminta ia mengulang satu bagian karena suara di kantor terlalu ramai.
'Aku bilang jangan biarkan mereka memakai hasil yang belum ada sebagai kesimpulan.'
'Aku dengar yang itu. Setelahnya.'
Devon diam sebentar. 'Aku bilang aku ingin cepat pulang.'
Davina menatap layar, merasakan senyum muncul sebelum sempat dicegah. Ia mengatakan ia juga akan pulang setelah bagiannya selesai, lalu menutup dengan salam yang terdengar lebih hangat daripada percakapan kantor yang biasa. Orang pada meja sebelah bertanya apakah ada kabar baik. Ia menjawab ada urusan yang mulai lebih jelas, tidak menjelaskan bahwa yang memenuhi kepala justru sesuatu yang tidak tercantum pada laporan.
Di penthouse malamnya, ia menunjukkan satu gambar pilihan ubin kepada Devon karena warna pada contoh ternyata berbeda saat dilihat di bawah lampu. Ia menyebutnya sebagai hal lucu dari hari, bukan undangan rapat. Devon menceritakan ia pernah berkeras pada warna kemeja yang ternyata terlihat lain ketika sampai acara. Davina langsung meminta foto, dan ia mengaku tidak mempunyai niat menyerahkan bahan baru untuk komentar istrinya.
Mereka tertawa. Ketika makan selesai, Devon kembali bersenandung di dapur sambil merapikan. Davina berdiri pada pintu seperti pagi, mendengar nada yang tetap tidak dapat diandalkan. Ia mengatakan suara tersebut mungkin tidak akan lolos pemeriksaan mutu hotel. Devon menoleh, menyatakan ia tidak sedang melamar sebagai penyanyi, lalu tersenyum ketika Davina mendekat untuk membantu mengeringkan wadah. Ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih lembut daripada ejekan. Malam itu ia baru dapat menyandarkan bahu sebentar, membiarkan Devon mengetahui ia memilih berada di sana bahkan ketika tidak ada piring yang perlu dikerjakan.