Pada pekan kesembilan uji hotel, Devon menerima laporan bahwa petunjuk menuju ruang pertemuan dapat diperbaiki memakai papan digital yang sudah tersedia. Tamu beberapa kali mengikuti arah lama setelah jalur renovasi berubah. Pembaruan dilakukan dalam sehari, kemudian diperiksa oleh operasional yang benar memakai jalur tersebut. Ia menyetujui bagian yang berada dalam kewenangannya dan membiarkan pengelola menyelesaikan, tanpa mengubah satu papan menjadi rapat seluruh dewan.
Pekerjaan bulan ketiga masih berjalan. Tidak ada keputusan mengulang masa uji dari awal karena laporan sebelumnya perlu dikoreksi. Devon menutup bagian yang telah diterima, menyerahkan tindak lanjut kepada Anita, lalu meninggalkan kantor pada waktu yang memungkinkan ia makan bersama Davina.
Ia menemukan istrinya duduk di ruang tengah dengan amplop dari keluarga. Bukan kabar buruk yang perlu ditebak dari wajah. Davina langsung menunjukkan rincian biaya rumah hadiah, termasuk perbaikan yang membuat jumlah tahunan lebih tinggi daripada perkiraan awal. Ayahnya meminta jawaban sebelum akhir bulan agar dapat menentukan penggunaan serta perawatan berikutnya.
'Aku tidak ingin pindah hanya karena sekarang semua angka sudah ditaruh di depan,' kata Davina.
Devon duduk, membaca bagian yang disodorkan, lalu mengatakan ia juga belum mempunyai alasan meninggalkan penthouse. Dekat pekerjaan, lebih mudah dirawat, dan mereka mulai mempunyai kebiasaan yang sungguh disukai. Davina menanyakan apakah ia menjawab demikian karena takut berbeda pendapat akan membuat malam kembali buruk.
'Tidak. Aku memang ingin tetap di sini,' jawabnya. 'Tapi aku juga ingin tahu biaya apa yang menjadi kewajiban kita sebelum ada yang membayar karena merasa tidak enak.'
Rumah tetap milik pihak yang tercatat, dan pengalihan sebagai hadiah belum terjadi. Davina meminta biaya serta pilihan dijelaskan berdasarkan kedudukan itu. Ia ingin dapat menolak menempati tanpa otomatis menuntut orangtua mempertahankan bangunan kosong selamanya. Mereka menuliskan pertanyaan yang belum dijawab untuk dibicarakan bersama keluarga, bukan membuat keputusan menyewakan milik orang lain malam itu.
Sesudah selesai, Davina menutup map dan menanyakan apakah Devon ingin makan sekarang. Ia mengangguk. Di meja, mereka membicarakan boling dan foto yang belum dikirim kepada Hawa. Davina memperlihatkan masih tersimpan hanya pada tempat yang disepakati, lalu tertawa ketika suaminya mengaku ia tampak jauh lebih senang pada foto itu daripada yang diingatnya sendiri.
Devon memandang perempuan yang duduk di seberang. Ia mengenali keinginan yang terus kembali selama berminggu-minggu: pulang, mendengar cerita yang tidak berkaitan dengan proyek, mengetahui apakah kelas berjalan baik, serta berada di dekat saat Davina dapat tertawa tanpa menghitung siapa lebih dahulu membuat kesalahan. Keinginan itu tidak hilang ketika mereka berbeda pendapat atau ia perlu menerima jawaban yang tidak disukai.
Ia sudah terlalu sering menamainya kenyamanan, rasa penasaran, atau akibat hidup bersama. Ia dahulu memakai kata tidak akan pernah sebagai cara menguasai sesuatu yang sebenarnya belum dicoba. Kini menyangkal hanya akan membuat Davina terus menilai kehadirannya melalui pernyataan yang tidak lagi benar.
Sesudah makan, ia mengajak ke balkon kecil di sisi ruang tengah. Davina membawa minum, berdiri melihat lampu kota, lalu menanyakan apakah ia hendak membicarakan kerja lagi. Devon menggeleng. Ia merasakan gugup yang lebih sulit daripada meminta keputusan direktur karena tidak mempunyai laporan yang dapat memastikan bagaimana jawaban diterima.
'Aku ingin menarik ucapanku sebelum menikah,' katanya.
Davina menoleh. 'Yang mana? Kamu cukup banyak mengeluarkan.'
Ia tertawa singkat, kemudian mengatakan yang dimaksud adalah tidak akan pernah ada cinta. Davina tidak lagi tersenyum. Devon memandangnya, menjaga tangan tetap pada pagar agar tidak mengubah kalimat menjadi sesuatu yang membuat istrinya harus mendekat sebelum sempat menjawab.
'Aku mencintaimu,' ujarnya. 'Aku tidak ingin terus menyebutnya hal lain hanya karena takut kamu mengingat siapa yang dulu paling keras mengatakan tidak.'
Ia hampir menambahkan lelucon ketika Davina belum menjawab. Sesuatu yang dapat membuat kalimat tadi terdengar lebih ringan, menyelamatkan wajah bila ternyata tidak diterima. Ia menahan, membuka jari yang terlalu erat memegang pagar, dan membiarkan keheningan tetap ada. Ia sudah memilih mengatakan dengan sungguh; ia tidak ingin mengambil kembali hanya karena beberapa detik berikut membuatnya takut.
Davina menatap lama. Angin menggerakkan rambut di dekat pipi, tetapi ia tidak mengangkat tangan untuk merapikan seperti sedang mencari pengalihan. Ia menanyakan apakah Devon yakin bukan hanya senang kini ia tidak selalu melawan. Pria itu mengatakan ia justru mulai mengenal saat istrinya masih dapat berbeda, mempunyai teman serta kegiatan, dan tidak menyerahkan seluruh malam untuk membuatnya merasa cukup.
'Aku tidak mengatakannya supaya kamu mengubah batas malam ini,' tambahnya. 'Aku ingin kamu tahu pernyataan lamaku tidak lagi menjadi tempat bersembunyi.'
Mata Davina berkaca-kaca. Ia tertawa kecil, malu karena pernah membayangkan hari ketika kalimat itu datang dan ia dapat membalas dengan dingin. Kini ia tidak ingin melihat Devon hancur hanya agar masa sakit hatinya seolah memperoleh bayaran yang adil.
'Aku dulu benar-benar ingin membuatmu jatuh cinta lalu meninggalkan,' katanya.
'Aku ingat kamu sudah mengaku.'
'Sekarang rasanya tidak seperti menang.'
Devon menunggu. Davina meletakkan gelas pada meja di dekat mereka, lalu meraih tangannya. Ia mengatakan perasaannya juga telah berubah, lebih dari ketertarikan yang semula dipakai bermain. Ia belum ingin memberi jawaban karena terdesak menyamai keberanian Devon pada menit yang sama. Ia ingin dapat mengatakan dengan yakin pada waktunya sendiri.
Devon mengangguk. Penantian tetap terasa, tetapi ia tidak menyesal mengatakan. Davina mendekat dan memeluk, wajahnya disandarkan pada bahu. Ia membalas dengan tangan yang tidak menahan ketika istrinya kemudian mengangkat kepala. Mereka tersenyum dalam jarak dekat, gugup pada sesuatu yang selama ini lebih mudah digoda daripada disebut.
Malam itu mereka kembali ke dalam sebelum angin terlalu mengganggu. Davina membawa gelas, Devon mematikan lampu balkon, lalu keduanya duduk di ruang tengah. Ia tidak mencoba mengulang pengakuan sampai memperoleh jawaban yang dianggap setara. Ketika Davina memilih menggenggam tangannya sambil bercerita tentang kelas berikutnya, ia mendengar sampai selesai. Kata cinta sudah diucapkan. Ia masih ingin mengetahui kehidupan perempuan yang dicintainya sesudah kata itu tidak lagi perlu disembunyikan.