Pada akhir bulan kedua uji hotel, laporan mengenai sebulan penataan jadwal memperlihatkan selisih dengan rekap Danajaya. Jam yang ditukar dicatat pada kelompok berbeda dari lembur, membuat penghematan tampak lebih besar pada salah satu ringkasan. Davina meminta penjelasan sumber, Devon mendukung pemeriksaan tanpa menganggap pertanyaan tersebut tuduhan bahwa uang disembunyikan.
Tim keuangan serta pemeriksa dari kedua sisi menelusuri, menemukan perbedaan kategori, dan menyelesaikan koreksi selama dua hari. Pembayaran yang telah menjadi hak pekerja tidak dipotong agar tabel kembali sama. Laporan menjelaskan perubahan dengan penghematan yang ternyata lebih kecil daripada perkiraan awal. Aturan jadwal tetap berguna, tetapi tidak perlu diumumkan sebagai keberhasilan besar sebelum seluruh masa tiga bulan selesai.
Seorang anggota dewan sempat menyarankan mengambil angka terdekat dan merapikan kemudian. Devon menolak, menyampaikan alasannya sendiri tanpa mengatakan Davina yang mengharuskan. Laporan belum dikirim, dan koreksi dapat dilakukan sekarang. Sesudah selesai, ia menutup perangkat lebih lama daripada biasanya, merasakan letih yang tidak akan hilang hanya karena data akhirnya sama.
Davina menemukan suaminya di ruang tengah, memandang televisi yang belum dinyalakan. Ia menanyakan apakah mereka ingin keluar sebentar. Devon mengira ia memilih makan, tetapi istrinya justru mengusulkan bermain boling. Ia menatap beberapa saat, mencoba mengingat kapan terakhir memegang bola tanpa seseorang lebih dahulu menyiapkan jalur kegiatan untuk tamu perusahaan.
'Kamu bisa?' tanyanya.
'Sedikit. Kamu?'
'Bisa mencoba.'
Jawaban yang tidak sombong itu membuat Davina tertawa dan segera mengambil tas. Mereka pergi setelah memeriksa waktu yang tersedia, makan ringan dahulu, lalu menyewa perlengkapan pada tempat yang dipilih. Davina menukar ukuran sepatu karena yang pertama terlalu sempit. Devon menunggu sambil membaca penjelasan, kemudian mengaku peraturan yang diingat rupanya tercampur dengan permainan lain.
Ia melempar lebih dahulu dan bola bergerak terlalu jauh ke samping. Davina menahan tawa, gagal, lalu menerima tatapan yang sudah sangat dikenalnya. Devon menunjuk jalur seolah ada sesuatu yang berubah sejak terakhir ia bermain. Davina menanyakan apakah ia hendak mengajukan keberatan kepada lantai sebelum mencoba giliran kedua.
'Aku belum mengajukan apa-apa.'
'Wajahmu sudah menyiapkan tiga alasan.'
Ia ikut tertawa. Giliran Davina tidak jauh lebih baik, membuat Devon langsung duduk lebih tegak. Ia bertepuk tangan terlalu bersemangat pada jumlah kecil yang berhasil dijatuhkan. Davina berbalik dan membungkuk seperti menerima penghargaan, lalu hampir kehilangan keseimbangan karena terlalu sibuk menyindir. Keduanya tertawa sampai orang pada jalur sebelah menoleh sebentar.
Mereka mencoba lagi. Devon mulai menemukan gerakan yang lebih teratur, Davina sesekali memperoleh hasil baik tanpa dapat menjelaskan mengapa. Pada satu giliran, ia mengganti pilihan bola dan mendapati tangannya cepat lelah. Ia mengembalikan, memilih yang lebih nyaman, lalu meneruskan tanpa perlu membuktikan dapat memakai benda yang sama dengan suaminya.
Angka pada layar meningkat, kali ini tidak berkaitan dengan nama keluarga atau keputusan pemilik. Devon masih ingin menang. Davina juga. Perbedaannya, mereka dapat mengetahui hasil tanpa seseorang perlu mengatur ulang permainan agar hubungan tetap terlihat baik. Ketika Devon bersorak pada hasil terbaiknya, Davina memotret wajah yang terlalu senang dan memperlihatkan setelah ia kembali.
'Hapus itu.'
Ia melihat senyum pada wajah suaminya, tetapi tetap menanyakan apakah sungguh ingin dihapus. Devon memeriksa gambar, tertawa, lalu mengatakan boleh disimpan untuk mereka, tidak dikirim kepada Hawa sebagai bahan ejekan malam keluarga. Davina menyetujui dan memasukkan ponsel, bukan menggunakan candaan untuk menguji apakah ia sebenarnya mau dipermalukan lagi.
Pada permainan terakhir, Davina tertinggal cukup jauh. Ia duduk melihat skor, berpura-pura menyusun strategi yang dapat mengembalikan seluruh selisih. Devon menawarkan penjelasan gerakan yang menurutnya berhasil. Ia mengatakan ia mau mendengar, tetapi tidak mau pidato panjang sebelum sempat mencoba. Devon memperlihatkan secukupnya, kemudian menyingkir agar ia mempunyai ruang.
Hasilnya lebih baik, belum cukup untuk mengejar. Davina tetap tersenyum ketika kembali, mengangkat tangan yang disambut Devon. Tepukan singkat berlanjut menjadi genggaman beberapa detik. Ia merasa senang suaminya dapat mengajar tanpa menahan tangannya sebagai cara menentukan setiap gerak, dan ia sendiri dapat menerima bantuan tanpa mengubah permainan menjadi ujian harga diri.
Sesudah selesai, mereka duduk minum sebelum mengembalikan perlengkapan. Devon mengaku ia sempat mengira malam akan kembali dipakai memeriksa pekerjaan. Davina mengatakan justru ia ingin melihat suaminya mengkhawatirkan angka yang dapat ditertawakan. Ia juga lelah melihat setiap tabel menentukan apakah namanya akan dianggap terlalu membela pihak lain.
Ia menceritakan bagaimana dahulu pernah bermain bersama Em dan tidak ada yang pandai menahan komentar ketika bola hampir sampai lalu melenceng. Devon mendengarkan, menanyakan apakah sahabatnya masih ingin bermain bila pemulihan sudah memungkinkan. Davina mengatakan ia akan bertanya pada waktunya, bukan membuat rencana untuk seseorang hanya karena malam ini sendiri merasa senang. Ia lebih dahulu ingin mengirim cerita bahwa suaminya ternyata dapat tertawa setelah gagal di depan orang.
'Kirim yang kamu tertinggal jauh juga,' kata Devon.
'Aku akan mempertimbangkan keutuhan laporan.'
Ia tertawa, menunjuk angka yang masih terlihat, lalu mengaku ia hampir ingin mencoba satu permainan tambahan hanya agar dapat meninggalkan hasil lebih baik. Davina mengatakan itu akan membuat mereka pulang terlalu malam dan ia masih perlu menyiapkan barang untuk kegiatan esok. Devon memeriksa jam, mengangguk, dan memilih berhenti pada hasil yang memang sudah terjadi. Davina memperhatikannya sebelum kembali minum. Ia tidak perlu mengatakan ia melihat keputusan kecil tersebut; ia hanya merasa lebih mudah mengusulkan bermain lagi suatu hari karena tahu suaminya dapat berhenti tanpa meminta malam terus berjalan sampai semua sesuai keinginannya.
'Aku senang kamu mengajakku,' kata Devon.
'Jangan berharap kubiarkan menang lagi.'
'Kubiarkan?'
Davina tertawa ketika ia menunjuk hasil yang masih terlihat pada layar. Tidak ada kesepakatan mengenai siapa harus memberi ciuman karena kalah. Mereka mengembalikan sepatu, mengambil barang, dan berjalan pulang dengan cerita yang tidak dapat dimasukkan ke notula. Di mobil, Devon masih tersenyum setiap kali mengingat istrinya membungkuk berlebihan menerima tepuk tangan. Ia ingin melihat wajah itu lagi, pada malam yang tidak perlu diadakan untuk merayakan hasil proyek.