Ibu Davina mengundang keluarga Mahawira pada Kamis malam, setelah memastikan Jumat yang sudah dipilih pasangan itu tidak perlu diambil. Davina menerima sambil menanyakan apakah mereka akan kembali membahas proyek sepanjang makan. Ibunya tertawa dan mengaku ia hanya ingin beberapa orang duduk bersama tanpa menunggu ada berita pembukaan kamar.
Devon datang bersama Davina membawa kue. Ia memberikannya langsung kepada ibu, kemudian mengikuti Pak Danajaya ke ruang tengah. Davina membantu menyiapkan gelas sambil mendengar Hawa menceritakan balasan dari orang yang memasang ulang foto sekolah. Unggahan pada akun tersebut telah diturunkan setelah permintaan serta penjelasan disampaikan. Tidak ada jaminan semua orang yang pernah menyimpan ikut menghapus, tetapi gambar itu tidak lagi dipajang pada tempat yang sudah dapat mereka hubungi.
Davina memeriksa kabar pada ponselnya sendiri, mengangguk, lalu menyimpan. Ia senang ada sesuatu yang benar dilakukan tanpa Devon perlu mengancam relasi bisnis Darrel atau membuat masa SMP menjadi perkara baru di antara dua keluarga. Ia tidak hendak menemui Darrel untuk membuktikan sekarang sudah mempunyai suami yang lebih hebat. Ia hanya ingin orang berhenti memakai penghinaan itu sebagai lelucon yang seharusnya dinikmatinya.
Makan malam mulai dengan pembicaraan yang sungguh ringan. Ibunya menanyakan kelas bahasa, Hawa ingin mengetahui apakah Devon sudah dapat memahami jika Davina mengomel. Davina mengatakan latihan masih belum cukup, tetapi ia terus berusaha. Devon menatapnya dengan wajah dibuat khawatir, lalu meminta keluarga tidak membiayai pelajaran tambahan yang hanya ditujukan membuat ia kalah berdebat.
Mereka tertawa. Davina mulai melupakan perasaan perlu mengawasi setiap kata ketika seorang bibi menanyakan kapan keluarga akan memperoleh kabar cucu. Pertanyaan itu diucapkan sambil mengambil lauk, seolah tidak lebih pribadi daripada bertanya apakah ingin tambah nasi. Tangannya berhenti di dekat piring.
Devon meletakkan sendok. Ia memandang Davina sebentar, lalu mengatakan dari dirinya sendiri ia belum ingin mempunyai anak sekarang. Bibi itu menatap dengan terkejut, kemudian mengingatkan mereka sudah menikah. Devon mengangguk, tidak mengubah keputusan menjadi urusan pekerjaan Davina atau alasan bahwa istrinya belum memenuhi permintaan.
'Aku juga belum ingin menentukan jadwal untuk itu,' tambah Davina setelah dapat bicara. 'Kalau suatu hari kami punya kabar yang ingin dibagikan, kami akan mengatakan sendiri.'
Bibi mengatakan ia hanya bertanya dan tidak bermaksud menekan. Davina mengangguk, menerima penjelasan niat tanpa mengubah jawabannya. Ia tidak perlu menguraikan apa yang terjadi di kamar untuk membuktikan pertanyaan mempunyai akibat. Pak Danajaya hendak mengalihkan ke rumah hadiah, lalu berhenti ketika ibu Davina justru bertanya mengenai rasa kue yang dibawa Devon.
Topik berpindah. Tidak semua wajah tampak setuju, tetapi makan malam tetap dapat diteruskan. Davina menyadari ia sempat membayangkan meja akan runtuh dalam pertengkaran bila jawaban tidak sesuai harapan. Kenyataannya, ia masih dapat menyendok makanan dan mendengar Hawa meminta bagian kue yang lain tanpa seseorang perlu memberikan putusan bahwa pasangan pengantin sudah cukup mengecewakan keluarga.
Ia baru menyadari bahunya terlalu tinggi ketika hendak mengambil minum. Devon menggeser wadah yang menghalangi jangkauan tanpa memulai pembicaraan lagi. Davina berterima kasih pelan, lalu meneruskan makan. Pada ujung meja, bibi yang bertanya tadi berdebat mengenai rasa kue dengan orang lain. Hidup perempuan itu juga tidak berhenti pada jawaban mereka. Davina mendengar, merasa kesalnya belum hilang, tetapi tidak perlu terus mengawasi apakah seluruh ruangan sekarang menganggapnya sulit. Ketika Hawa menanyakan bagian kue yang diinginkan, ia memilih yang sungguh disukai, bukan mengambil apa saja agar tidak terlihat menambah masalah. Rasa manis membuat ia akhirnya dapat menarik napas lebih panjang.
Sesudah hidangan utama, ibunya memanggil sebentar ke dapur. Ia meminta maaf karena pertanyaan datang sebelum sempat dihentikan. Davina mengatakan ia lebih ingin bila lain kali ibu tidak ikut menanyakan melalui jalan berbeda. Perempuan itu mengangguk, tampak sedih karena niat mendukung belum selalu membuatnya mengetahui hal yang tepat.
'Mama ingin kamu bahagia,' katanya.
'Aku juga. Tapi aku perlu bisa memilih seperti apa, bukan hanya terlihat memenuhi yang biasanya disebut bahagia.'
Ibunya memeluk singkat setelah Davina mendekat. Tidak ada perjanjian semua keluarga kini akan mengerti pada percobaan pertama. Mereka kembali ke ruang tengah ketika seseorang menanyakan sendok yang hilang, dan Davina tertawa karena ternyata benda itu sejak tadi berada dalam wadah berbeda.
Dalam perjalanan pulang, ia menanyakan apakah Devon sungguh belum menginginkan anak atau hanya berbicara agar ia tidak ditanya lagi. Pria itu mengatakan jawaban tadi memang miliknya. Ia masih belajar hidup bersama seseorang tanpa membuat keinginan sendiri menjadi perintah. Ia tidak ingin anak datang sebagai cara membuktikan pernikahan berhasil atau membuat Davina lebih sulit pergi.
Davina menoleh, merasakan sesuatu yang hangat dan sakit datang bersamaan. Ia sendiri belum dapat membayangkan keputusan itu terpisah dari semua tekanan yang mengelilingi. Ia mengatakan ia tidak tahu apa yang akan diinginkan beberapa tahun lagi. Devon menjawab ia juga belum harus tahu, lalu kembali memperhatikan jalan tanpa meminta mereka segera menyusun rencana masa depan agar percakapan terasa lengkap.
Di rumah, Davina mengeluarkan brosur kelas yang terselip dalam tas. Ia menunjuk waktu yang bertambah pada pekan berikut dan mengatakan ingin mencoba sesi tambahan bila tidak berbenturan. Devon menanyakan apakah ia perlu mengubah jadwal makan bersama. Mereka memeriksa sebentar, menemukan pilihan yang masih sesuai, kemudian berhenti sebelum semua malam harus diberi pekerjaan.
'Tadi aku sempat ingin kabur dari meja,' kata Davina ketika mereka hendak tidur.
'Aku sempat ingin menjawab terlalu banyak,' Devon mengaku. 'Aku takut kamu diam karena tidak tahu bagaimana menghentikan.'
'Aku senang kamu menjawab untuk dirimu. Setelah itu aku bisa mengatakan bagianku.'
Ia tersenyum. Davina mendekat dan memeluk sebentar, membiarkan rasa lega dibagi tanpa harus menyebutnya kemenangan atas bibi atau orangtua. Ketika berbaring pada tempat yang dipilih bersama, ia tidak perlu membayangkan anak sebagai jawaban yang masih ditunggu dari tubuhnya. Ia dapat menutup hari dengan kehidupan yang sekarang benar-benar sedang dibangun.