Devon melihat nama Davina tercantum pada undangan sebelum istrinya mengetahui. Jamuan mitra lama keluarga akan berlangsung Sabtu malam, dan panitia menganggap mereka hadir berdua. Ia hampir meminta sekretaris meneruskan jam penjemputan ketika mengingat Sabtu sudah diisi kunjungan Davina bersama tim untuk mendengar staf yang tidak dapat ditemui pada hari lain.
Pada sarapan, ia menunjukkan undangan. Davina memeriksa waktu, lalu mengatakan sesudah kunjungan ia mungkin ingin beristirahat, bukan bersiap lagi untuk acara malam. Pekerjaannya di lokasi direncanakan pagi sampai sore, dan ia tidak ingin menerima dua kegiatan hanya karena di antara keduanya masih ada jam yang tampak kosong.
'Aku ingin kamu datang,' ujar Devon jujur. 'Ada beberapa orang yang sebenarnya ingin kukenalkan. Tapi aku tidak mau menjawab hadir atas namamu.'
Davina memandangnya, tersenyum sedikit, lalu mengatakan kali ini ia memilih kunjungan serta waktu istirahat sesudahnya. Devon mengirim perubahan jumlah tamu sebelum berangkat. Ia tetap kecewa, tetapi tidak mengganti alasan kepada ayah dengan cerita bahwa istrinya sedang merajuk atau terlalu sulit diajak bekerja sama.
Hari Sabtu, Davina pergi lebih dahulu. Salah satu hari kegiatannya sudah disesuaikan dengan kunjungan tersebut, bukan tiba-tiba semua akhir pekan diambil karena ia terlihat dapat bekerja. Devon mengurus pekerjaan sendiri, kemudian bersiap untuk jamuan. Ia melihat satu buku Davina terbuka pada meja dan menaruh kertas penanda yang terlepas, tidak memindahkan seluruh barang agar penthouse kembali terlihat seperti sebelum istrinya datang.
Di tempat acara, kursi di sebelahnya kosong sampai panitia menyesuaikan susunan. Seorang mitra lama ayah menanyakan apakah istrinya tidak menyukai makanan yang dipilih. Devon mengatakan ia mempunyai kegiatan lain dan perlu beristirahat. Lelaki itu tertawa, menyebut ia sudah berbeda dari Devon yang dahulu selalu dapat mengatur hari tanpa perlu memikirkan pendapat orang di rumah.
'Sekarang jadwalmu dipegang istri, ya?'
Devon merasakan keinginan tertawa mengikuti. Itu cara paling mudah membuat meja tetap akrab, membiarkan Davina menjadi orang yang tidak hadir tetapi dapat dipakai sebagai bahan lelucon. Ia menatap gelas, lalu mengatakan ia datang karena urusan yang memang menjadi bagiannya. Istrinya memilih kegiatan sendiri dan tidak sedang mengatur apakah ia boleh hadir.
'Maksud saya cuma bercanda.'
'Saya tahu. Saya hanya tidak ingin alasan dia tidak hadir berubah menjadi sesuatu yang berbeda.'
Ayahnya mengalihkan pembicaraan kepada usaha. Devon mengikuti tanpa menjadikan malam tersebut pertengkaran mengenai siapa paling menghormati perempuan. Ia tetap berbicara dengan mitra itu, menjawab bagian pekerjaan yang perlu, dan mendengar keterangan orang lain. Koreksi pada satu kalimat tidak mengharuskan semua orang di meja langsung menjadi musuh atau menyatakan mendukung perkawinannya.
Sesudah makan, ayah menghampirinya di dekat tempat minuman. Ia mengatakan Devon dapat menjelaskan lebih ringan agar mitra lama tidak merasa dipermalukan. Devon mendengar, lalu bertanya apakah ayah ingin ia membiarkan Davina dianggap mengatur hanya karena tidak datang. Pak Mahawira menggeleng, tetapi tampak belum suka putranya mengubah kebiasaan meja yang selama ini dibiarkan.
'Kamu dulu ikut tertawa kalau ada yang bicara begitu,' katanya.
'Iya. Aku sekarang tidak ingin memakai istriku untuk membuat suasana mudah.'
Ayahnya terdiam. Devon tidak menambahkan bahwa semua yang dilakukan sebelum menikah merupakan kesalahan orangtuanya. Ia sendiri pernah menganggap perempuan harus cukup senang karena dipilih. Ia berbicara dengan orang lain setelah percakapan tersebut, memberi ruang bagi ayah memikirkan tanpa menuntut pernyataan bangga pada malam yang sama.
Menjelang akhir, Devon mengirim kabar kepada Davina bahwa acara hampir selesai dan ia akan pulang sesuai perkiraan. Jawaban datang beberapa menit kemudian: kunjungan berjalan, ia sudah makan, mungkin tidur lebih dahulu. Devon tersenyum melihat satu tambahan mengenai sayur di rumah yang tidak perlu dianggap racun hanya karena warnanya tidak sesegar saat disajikan.
Ia masih berdiri dekat meja ketika seorang kenalan mengajaknya meneruskan percakapan di tempat lain sesudah jamuan. Devon berterima kasih, lalu mengatakan ia akan langsung pulang. Tidak ada orang melarangnya tinggal lebih lama. Davina bahkan sudah mengatakan mungkin tidur dahulu. Ia hanya merasa sudah cukup mendengar orang berbicara sambil menimbang apa yang perlu ditanggapi. Ia ingin melihat buku yang tadi terbuka, mengetahui apakah istrinya jadi menyelesaikan bacaan, dan menceritakan sesuatu yang tidak perlu diberi ringkasan untuk mitra. Keinginan tersebut membuatnya terkejut lebih daripada komentar di meja. Ia merapikan barang, berpamitan kepada ayah, dan keluar tanpa memakai jadwal Davina sebagai alasan agar pilihannya terdengar lebih terpaksa daripada sebenarnya.
Ia pulang dan mendapati lampu kecil menyala, sedangkan Davina sudah tidur di sisi tempatnya. Ia menaruh tas, membersihkan diri, lalu menghangatkan porsi yang disimpan dalam wadah bertutup. Penthouse terasa lebih sepi daripada yang diinginkan setelah beberapa jam berada di tengah percakapan ramai. Ia tidak membangunkan Davina agar malamnya memperoleh pendengar sebelum selesai.
Pagi berikut, Davina menemukannya di dapur. Ia menanyakan apakah jamuan menyenangkan. Devon menjawab ada bagian menarik dan ada komentar yang perlu diluruskan. Ia menceritakan secukupnya, lalu mengaku ia sempat ingin istrinya ikut agar dapat melihat sendiri orang yang selama ini disebut dalam pekerjaan.
'Aku mungkin mau pada kesempatan lain,' kata Davina. 'Kemarin aku benar-benar lelah. Kalau memaksa, aku mungkin cuma memikirkan kapan bisa pulang.'
'Aku tahu. Aku kecewa karena ingin bersamamu, bukan karena kamu membuat keputusan yang salah.'
Davina meletakkan gelas, menatapnya lebih lama. Devon hampir menurunkan pandangan karena kalimat tersebut terdengar terlalu terbuka setelah berminggu-minggu lebih mudah membicarakan pekerjaan. Ia bertahan, kemudian tertawa canggung ketika istrinya mengatakan ia boleh menginginkan sesuatu tanpa menyusun alasan agar terdengar sebagai kebutuhan perusahaan.
Ia mengulurkan tangan, dan Davina meraihnya sambil tersenyum. Mereka berdiri sebentar di dapur sebelum bunyi pemanggang mengingatkan roti belum diambil. Devon melepaskan, meraih piring, lalu mendengar Davina tertawa karena hasilnya sedikit terlalu gelap. Ia ikut tertawa, menyiapkan bagian lain, dan memilih memulai pagi dengan cerita kunjungan istrinya yang ingin didengar sampai selesai.