Tahap kedua hotel dibuka pada minggu kelima masa uji, satu minggu lebih awal dari rencana semula. Devon menerima konfirmasi terakhir dari Anita sebelum meninggalkan kantor. Barang sudah diperiksa, staf memperoleh jadwal, dan bagian pembayaran yang dipersoalkan telah dituntaskan melalui pengelola. Tidak ada keperluan menyebut dua minggu agar keputusan tampak lebih berani daripada kesiapan yang sungguh ada.
Ketika ia tiba, seorang staf sedang membantu tamu memindahkan tas. Ia berdiri menunggu jalur kosong, kemudian masuk setelah Anita memanggil. Ruang yang beberapa minggu lalu penuh penanda kerja kini dapat digunakan. Masih ada bagian hotel berbeda yang menjalani renovasi, tetapi pintu yang dibuka hari itu tidak memerlukan permohonan maaf karena kursi belum sesuai atau barang masih datang besok.
Davina sedang berbicara dengan perwakilan staf saat Devon menemukannya. Ia tidak membawa sekelompok orang yang menunggu setiap komentarnya untuk dijadikan instruksi. Ia bertanya, mendengar, dan mencatat bila ada bagian yang perlu diteruskan. Ketika pekerja mengatakan pembayaran koreksi sudah diterima, ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih telah memberi kabar langsung.
Devon menunggu sampai percakapan selesai. Ia lalu mengajak melihat kamar yang sudah disiapkan. Davina mengikutinya, memeriksa dengan mata yang kini lebih tahu pertanyaan apa perlu diajukan. Ia tidak mencoba menjadi pengawas mutu menggantikan tim. Pada satu tempat, ia mengenali meja yang dahulu salah dipahaminya sebagai posisi akhir dan tertawa sendiri.
'Apa?' tanya Devon.
'Aku sedang mengingat hampir menyuruh orang memindahkan yang memang belum dipasang.'
'Sekarang sudah terpasang.'
'Aku bisa lihat. Jangan khawatir, aku tidak akan memberi pidato karena berhasil mengenali meja.'
Devon tertawa. Mereka bergabung dengan Anita untuk mendengar ringkasan singkat. Perubahan biaya masih dalam cadangan yang diperbolehkan, keluhan ditangani, dan tahap berikut tetap perlu mengikuti kesiapan. Masa uji berjalan sampai tiga bulan seperti disepakati. Tidak ada keputusan memperpanjang hanya karena mereka baru memasuki minggu kelima.
Ketika satu anggota mengusulkan keterlambatan awal tidak perlu ditulis pada ringkasan untuk dewan, Devon menolak. Ia menyebut keputusan yang diambil, akibat yang sungguh timbul, serta pembayaran staf yang harus diperbaiki. Keberhasilan membuka lebih cepat tidak membuat bagian tersebut hilang dari biaya serta pengalaman orang yang menjalankan.
Davina memandangnya. Ia teringat ucapan tentang percaya tim yang membuatnya marah pada pertemuan sebelumnya. Devon tidak menoleh mencari persetujuan istrinya setelah berbicara. Ia mendengarkan tanggapan Anita, menerima catatan yang memang perlu, kemudian menyelesaikan bagiannya tanpa meminta Davina mengatakan ia kini sudah konsisten.
Sore itu ada makan kecil bagi perwakilan tim serta kedua keluarga yang datang. Devon menyambut ayahnya dan memperkenalkan pekerjaan yang selesai, tidak mengambil seluruh pujian sebagai hasil pengawasan pribadi. Davina berbicara dengan ayah sendiri, sesekali tertawa pada sesuatu yang tidak dapat didengar dari tempatnya. Ia menyukai melihat istrinya mempunyai suara yang berbeda sesuai orang yang sedang diajak bicara.
Pada meja, seorang kerabat menanyakan rumah hadiah yang masih kosong. Davina mengatakan mereka sedang memeriksa pilihan serta biaya dan belum hendak pindah. Pak Danajaya mengangguk, mengatakan dokumen yang diminta akan diberikan. Devon mendengar, mengingat catatan rumah di tas Davina, dan tidak menjawab atas nama keluarga yang masih memegang haknya.
Sesudah tamu mulai pulang, Davina berdiri di taman dekat pintu samping. Devon menghampiri, menanyakan apakah ia menunggu kendaraan atau ingin berjalan sebentar. Ia mengatakan hanya ingin diam setelah seharian berbicara. Devon berdiri di dekatnya tanpa mulai menjelaskan hasil proyek sekali lagi.
'Aku suka kamu tadi tidak menghapus catatan keterlambatan,' kata Davina akhirnya.
'Memang terjadi.'
'Aku tahu. Aku tetap suka kamu mempertahankan ketika ada orang menawarkan pilihan yang lebih mudah.'
Devon mengucapkan terima kasih. Ia hendak menambahkan bahwa itu bukan sesuatu yang perlu dipuji, lalu berhenti. Davina bukan sedang memberinya hadiah karena tidak melanggar. Ia sedang mengatakan apa yang disukai. Ia ingin dapat menerima tanpa membuat istrinya perlu mempertahankan hak untuk mengucapkan hal baik kepadanya.
Mereka pulang bersama dan tidak membawa urusan pembayaran ke meja makan lagi. Davina mengganti pakaian, Devon merapikan barang yang perlu dibawa esok. Ketika keduanya kembali ke ruang tengah, ia menanyakan apakah mereka hendak memilih film. Davina menggeleng dan mendekat dengan wajah yang membuatnya lupa pertanyaan berikut.
'Aku ingin melakukan sesuatu sejak tadi,' katanya.
Devon tersenyum tipis, tetapi tidak menjawab dengan menagih terima kasih. Ia menunggu ketika Davina berdiri di hadapannya, mengulurkan tangan ke bahu, lalu berjinjit untuk mencium. Ia membalas setelah merasakan perempuan itu tetap tinggal, tidak menggunakan perbedaan kekuatan untuk membuat jarak tidak dapat dipilih lagi.
Ciuman tersebut singkat. Davina menurunkan tumit dan menatap dengan mata yang masih menyimpan gugup. Devon menyentuh tangan yang belum lepas dari bahunya, merasakan keinginan untuk mengucapkan sesuatu yang terlalu besar bagi beberapa detik. Ia memilih mengatakan ia senang Davina ingin dekat.
'Jangan langsung banyak komentar,' bisik istrinya, menahan senyum.
'Aku bahkan belum bicara.'
'Aku mengenali wajah orang yang sedang menyusun.'
Devon hendak membantah ketika Davina melangkah dan hampir menginjak remote yang terjatuh dari meja. Ia menunjuk ke bawah. Perempuan itu berhenti, melihat benda tersebut, lalu tertawa karena peringatan yang sudah disiapkan ternyata bukan sesuatu yang ingin dielakkan.
'Kadang komentarku memang berguna,' kata Devon.
Davina mengambil remote, menaruh pada meja, dan mengakui satu kali ini ia benar. Devon mengatakan pengakuan itu perlu dicatat. Davina menatapnya sampai ia tertawa dan mengangkat kedua tangan, membiarkan kesempatan menjadi paling benar lewat begitu saja. Ia lebih suka melihat istrinya tersenyum pada jarak sedekat itu daripada memenangkan perdebatan yang hanya diperlukan agar tidak terlihat gugup setelah dicium.
Devon tertawa pelan. Davina ikut tersenyum, kemudian mendekat sekali lagi. Kali ini ia tidak mempunyai penonton yang harus dibuat iri atau pertengkaran yang hendak dihentikan. Ia hanya berdiri di ruang tengah rumahnya bersama perempuan yang datang mendekat karena ingin. Ketika kemudian mereka memilih duduk, Devon meraih buku yang disodorkan Davina, membuka halaman yang disebut, dan mendengarkan cerita yang belum selesai dibacanya tanpa memikirkan cara memperoleh hadiah berikutnya.