Davina kehilangan satu kalimat pada acara makan malam mitra. Ia sudah mempersiapkan penjelasan mengenai peran Danajaya dan membaca ringkasan perubahan jadwal. Namun, ketika seorang tamu menanyakan apakah keterlambatan menunjukkan kedua keluarga tidak dapat bekerja bersama, kata-kata yang dilatih terdengar terlalu jauh dari pertanyaan yang sedang dihadapinya.
Ia memegang gelas yang belum diminum, meletakkannya, lalu meminta pertanyaan diperjelas. Tamu itu menyebut satu hari keterlambatan dan foto dirinya bersama Devon yang telah dipakai pada artikel. Seolah senyum pada gambar menjanjikan setiap kamar akan terbuka tepat waktu.
'Kami masih bertanggung jawab menjelaskan pekerjaan,' kata Davina akhirnya. 'Foto tidak dapat menggantikan itu.'
Ia menoleh kepada Anita yang hadir untuk bagian teknis, lalu mengembalikan pembicaraan pada barang yang tidak sesuai dan pilihan bagi tamu. Ia tidak memaksakan diri menerangkan sesuatu yang seharusnya dijawab manajer proyek. Sesudah Anita selesai, ia menjawab akibat pada sisi pemilik berdasarkan bahan yang telah diperiksa.
Devon berdiri tidak jauh. Davina melihat ia sempat bergerak hendak mendekat, kemudian tetap menunggu sampai pertanyaan selesai. Saat ia datang, ia hanya menanyakan apakah ada bagian tambahan yang memang menjadi tugasnya. Mereka memberikan keterangan yang sama, tanpa ia mengulang seluruh jawaban istrinya dengan suara lebih keras agar dianggap lebih sah.
Makan malam tersebut diselenggarakan untuk menjelaskan perubahan setelah persoalan pemasok, berbeda dari pengenalan proyek sebelumnya. Tim komunikasi sempat menawarkan mereka tampil lebih mesra untuk menenangkan pertanyaan. Davina telah menolak, Devon juga. Tidak ada adegan ciuman yang dapat membuat kursi lebih sesuai ukuran atau mengembalikan waktu yang perlu dipakai pengiriman.
Pada meja berikut, seorang wartawan mencoba bertanya apakah mereka akan berbulan madu lagi untuk memperbaiki hubungan. Devon mengatakan mereka tidak membicarakan kehidupan pribadi pada acara tersebut. Davina menambahkan pertanyaan yang menyangkut proyek tetap dapat diajukan. Setelah itu ia berpindah menyapa tamu lain, tidak menghabiskan seluruh malam mengawasi apakah semua orang benar-benar memahami batas yang sudah disebut.
Ia masih merasa malu karena sempat diam. Ketika melihat beberapa orang berbisik, ia mengira mereka membicarakan kesulitan menjawab. Kemudian salah seorang menghampiri dan menanyakan pilihan makanan yang belum diambil. Davina tertawa canggung, mengakui ia juga belum mencicipi apa pun, dan bersama-sama memeriksa meja hidangan.
Devon menemukan mereka beberapa menit kemudian. Ia menanyakan apakah Davina ingin makan dahulu sebelum menemui anggota dewan yang masih menunggu. Ia mengangguk, memilih sesuatu yang mudah disantap sambil duduk, lalu baru menyadari betapa lapar sejak berangkat. Suapan pertama membuat bahunya turun. Tidak semua yang terasa sebagai kegagalan besar dapat dinilai dengan baik ketika ia melewati makan siang untuk membaca ulang catatan.
Di ujung acara, perhitungan biaya diminta oleh satu investor. Davina mengatakan akan diberikan melalui tim sesuai bagian yang dapat dibagikan, dengan dasar yang sama seperti laporan resmi. Devon tidak menjanjikan angka baru agar mereka segera dapat pulang. Keduanya mencatat, menyerahkan tindak lanjut kepada penanggung jawab, lalu berpamitan setelah kegiatan yang memang perlu selesai.
Dalam mobil, Davina melepas satu anting yang sejak tadi membuatnya tidak nyaman. Devon melirik ketika ia mendesis, menanyakan apakah perlu berhenti sebentar. Ia menggeleng, menemukan tempat menyimpan, lalu mengatakan ia tadi hampir tidak dapat menjawab pertanyaan pertama.
'Aku lihat,' kata Devon.
Davina menoleh. 'Kamu tidak berniat mengatakan tidak kelihatan sama sekali?'
'Kalau kubilang begitu, kamu akan tahu aku bohong.'
Ia tertawa pendek, lalu menatap jalan. Devon mengatakan ia ingin menjawabkan saat melihat istrinya terdiam. Davina memegang tas lebih erat, bersiap mendengar apa yang menurutnya harus ia lakukan berbeda. Namun suaminya justru mengaku perlu menahan diri karena pertanyaan belum diberikan kepadanya dan ia belum tahu apakah Davina memerlukan bantuan.
'Aku bisa lupa kalimat tanpa harus digantikan,' katanya pelan.
'Ya. Aku sedang belajar membedakan itu.'
Sesampainya di penthouse, Davina mengambil waktu berganti pakaian. Ketika kembali, Devon sudah melepas jas dan duduk dengan kaki yang tampak lelah. Ia menyerahkan air yang diambil untuk mereka, kemudian memilih tempat di sebelah. Kali ini tidak ada wartawan, anggota dewan, atau kenalan yang dapat dijadikan alasan untuk berpura-pura dekat.
'Aku malu,' katanya. 'Tadi di ruangan, aku hampir cuma ingin jadi istrimu dan membiarkan kamu menjawab semua.'
Devon memandangnya, tidak langsung memperbaiki kalimat. Davina mengaku ia takut orang menganggap ia tidak layak berada di tim. Ia ingin boleh belajar tanpa setiap kesalahan menjadi keputusan apakah Davina Mahawira hanya pemilik nama keluarga. Ia juga ingin dapat menerima bantuan tanpa menganggap seluruh kemandirian hilang.
'Kalau lain kali kamu ingin aku menjawab satu bagian, katakan,' ujar Devon. 'Aku juga pernah lupa di depan orang. Hanya saja sudah lebih lama berlatih menyembunyikan.'
'Kamu pernah?'
Ia mengangguk dan menceritakan presentasi awal ketika membawa urutan halaman yang salah. Tidak ada cerita bahwa ia tetap menjadi orang paling cerdas di ruangan. Ia mengatakan ia perlu meminta rekan melanjutkan, lalu membereskan kesalahan sesudahnya. Davina mendengarkan, tersenyum ketika melihat suaminya masih mengernyit pada bagian yang paling memalukan.
'Aku sulit membayangkan kamu meminta orang melanjutkan,' katanya.
'Aku juga. Mungkin itu sebabnya aku diam terlalu lama sebelum meminta.'
Davina tertawa, lalu mengaku ia sering menganggap semua orang tahu persis apa yang dilakukan sementara dirinya hanya meniru sampai ketahuan. Devon mengatakan ia pernah merasa demikian, tetapi tidak ingin cerita itu dipakai untuk menyatakan mereka pasti sudah mengerti perasaan satu sama lain. Ia menanyakan bagian mana yang paling membuat Davina takut. Perempuan itu menjawab bukan lupa kalimat, melainkan melihat orang langsung mencari suaminya ketika ia diam. Devon mendengarkan, kali ini tanpa mencoba menegaskan dirinya tidak akan membiarkan ada yang meremehkan.
Setelah ia selesai, Davina meletakkan gelas dan menyandarkan kepala pada bahu Devon. Pria itu menerima, diam beberapa saat sebelum menggenggam tangannya yang memang diulurkan. Ia tidak mengatakan ia bangga memiliki istri yang sudah kembali tenang. Ia hanya tinggal di sana sampai Davina mengangkat wajah, menertawakan satu detail cerita yang baru dipahami, dan meminta ia mengulang siapa yang akhirnya menyadari halaman tertukar.