Pada pekan ketiga masa uji hotel, pemasok mengabarkan bahan pelapis furnitur tidak lolos pemeriksaan mereka sendiri. Pengiriman harus diganti dan beberapa kamar berisiko belum siap pada tanggal awal. Davina menerima kabar ketika sedang menunggu penjelasan laporan di kantor Danajaya. Ia membaca dua kali sebelum menanyakan apakah barang sudah telanjur dikirim.
Belum. Ia merasakan lega sebentar, kemudian melihat jumlah yang harus diganti. Tidak semua dapat selesai dalam waktu yang sama. Anita meminta pertemuan singkat dengan pengadaan serta pengelola hotel karena ada tamu yang sudah menerima konfirmasi pemesanan. Davina hadir sebagai penghubung, membawa pertanyaan mengenai akibat perubahan, bukan keputusan yang dibuat sebelum mendengar pilihan.
Devon menawarkan memeriksa stok dari jaringan Mahawira. Ada barang tersedia dengan harga lebih rendah, tetapi belum dibandingkan satu per satu dengan kebutuhan kamar. Davina menanyakan kapan dapat diperiksa. Ia tidak menolak hanya karena berasal dari sisi suaminya, dan Devon tidak menganggap nama keluarga cukup menjadi jaminan mutu.
Pemeriksaan menemukan sebagian barang dapat dipakai, sedangkan satu jenis kursi mempunyai ukuran berbeda dari pesanan. Anita mengajak mereka melihat contoh, bukan hanya foto yang membuat semuanya tampak hampir sama. Ketika kursi diletakkan di dekat meja kamar, ruang bergerak berubah. Davina duduk sebentar setelah petugas mengatakan aman, lalu memahami mengapa selisih pada kertas tidak selalu kecil saat harus benar-benar dipakai.
'Kalau yang ini dipaksakan, orang akan menyalahkan kamarnya,' ujar Anita.
Devon memegang sandaran, melihat lagi jarak, kemudian mengatakan bagian itu tidak diterima. Ia meminta tim mencari pilihan yang memang memenuhi kebutuhan. Pemasok tidak dituduh menipu sebelum jelas apakah mengirim contoh lain atau salah membaca spesifikasi. Barang yang tidak sesuai tetap tidak dapat masuk hanya karena penjelasannya mungkin masuk akal.
Keputusan akhirnya campuran. Barang alternatif yang lulus dipakai pada bagian yang sesuai, kursi pengganti ditunggu, dan pembukaan tahap pertama mundur sehari. Pengelola menghubungi tamu yang terdampak dengan pilihan yang dapat diberikan, termasuk perubahan tanpa biaya sesuai pengaturan hotel. Biaya tambahan serta pihak yang menanggung pengiriman pengganti dicatat sebelum semua orang meninggalkan ruangan.
Davina masih memeriksa ringkasan ketika Devon mengatakan ia perlu kembali untuk urusan DM Electronics. Ia mengangguk, tidak meminta suaminya tinggal hanya agar dirinya terlihat tidak sendirian. Anita menyelesaikan bagian yang menjadi tugas proyek, lalu menanyakan apakah Davina masih mempunyai pertanyaan yang belum dijawab. Ada satu mengenai jam kerja staf. Jawabannya akan dikonfirmasi dengan pengelola, tidak dilenyapkan karena kursi sudah mendapat solusi.
Sore itu sebuah unggahan menuduh proyek memilih barang berdasarkan hubungan keluarga. Tidak ada nama orang yang disertai bukti baru, tetapi beberapa akun meneruskan. Davina sempat ingin membalas dari ponselnya sendiri. Ia sudah mengetik bahwa orang tersebut seharusnya datang melihat sebelum berbicara, kemudian berhenti dan menghubungi orang komunikasi yang menangani.
Keterangan yang dikeluarkan menyebut dasar perbandingan serta perubahan jadwal dengan bahan yang dapat diperiksa. Tidak ada foto tamu atau pekerja dijadikan pembelaan tanpa keperluan. Kritik tidak seluruhnya hilang. Davina membaca satu komentar yang tetap menertawakan perkawinan mereka, menaruh telepon, lalu menyadari ia lebih marah pada penilaian orang yang tidak dikenal daripada selisih ukuran yang tadi benar-benar perlu diperbaiki.
Ia pulang lebih awal karena bagian tugasnya telah diserahkan. Di penthouse, ia menyiapkan makan sendiri dan menunggu kabar Devon, bukan menunggu suaminya pulang agar boleh makan. Ketika pesan datang bahwa ia akan terlambat, Davina mengatakan porsi untuknya disimpan dan ia sudah makan. Ia lalu kembali membaca catatan dengan perut yang tidak perlu ikut dihukum oleh jadwal kantor.
Ibunya menelepon saat ia masih mencari tempat bagi wadah yang sudah dicuci. Davina mengatakan hari itu melelahkan, lalu tertawa ketika ibunya menanyakan apakah ia sudah makan sesuatu selain kemarahan. Mereka membicarakan menu sebelum akhirnya ia mengaku terganggu komentar. Ibunya tidak mempunyai cara menghapus pendapat orang. Ia hanya mengatakan Davina boleh berhenti membaca dan tetap menjadi orang yang peduli pada pekerjaan. Setelah sambungan selesai, Davina memindahkan telepon ke tempat yang tidak langsung terlihat dari kursi. Ia masih beberapa kali ingin mengambil, tetapi kali berikutnya dapat memilih menyelesaikan minum dahulu.
Devon tiba ketika ia hendak menutup buku kerja. Ia melihat gelas yang masih penuh, memandang wajah istrinya, lalu mengatakan komentar di luar memang menyebalkan. Davina langsung bertanya apakah ia membaca semuanya. Devon menggeleng dan mengaku berhenti setelah beberapa karena mulai ingin menelepon seseorang untuk meminta dihapus.
'Kamu melakukannya?'
'Tidak. Tim sudah memberi penjelasan yang perlu. Aku cuma masih tidak suka mendengar orang bicara seolah tahu semua.'
Davina tertawa pendek, mengakui ia hampir menulis sesuatu yang akan disesali. Devon memandangnya dengan senyum yang sedikit lega karena ternyata istrinya pun tidak selalu berada pada sisi paling tenang. Ia bertanya apakah ia mau duduk menemaninya makan, bukan kembali mengadakan pertemuan mengenai unggahan. Davina membawa gelas dan ikut duduk.
'Kursinya benar-benar tidak cocok,' katanya setelah beberapa saat.
'Aku tahu. Kamu sudah mencoba seperti pembeli yang hendak marah pada penjual.'
'Aku sedang belajar melihat. Kamu sendiri mondar-mandir seperti kursinya bisa mengubah ukuran kalau ditatap cukup lama.'
Devon tertawa, hampir tersedak suapan. Davina menggeser air, menunggu sampai ia dapat bicara, lalu tertawa pula ketika ia memprotes cara istrinya memilih waktu menyerang. Pembicaraan mereka beralih pada makanan yang ternyata lebih pedas setelah disimpan. Ia berhenti membaca komentar karena suara Devon di meja kini lebih menarik daripada orang-orang yang terus berbicara tanpa pernah datang ke kamar hotel itu.
Sebelum tidur, kabar pengiriman pengganti masuk. Tanggal serta pemeriksaan berikutnya sudah dipegang Anita dan pengelola. Davina meneruskan bagian yang perlu kepada penasihat, lalu mematikan layar. Ia mengingat satu pertanyaan mengenai staf yang masih menunggu jawaban, menulis pada daftar esok, dan menaruh pena. Malam itu ada sesuatu yang belum selesai, tetapi ia tidak perlu menyelesaikan dengan terus berjaga di depan ponsel sampai tidak mempunyai tenaga mendengar jawaban.