Foto acara muncul pada pagi ketika Davina hendak mengikuti pertemuan kerja. Judul salah satu artikel menempatkan pasangan pengantin baru sebagai pemimpin seluruh merger, seolah orang-orang yang mengurus selama bertahun-tahun hanya menunggu mereka kembali dari bulan madu. Ia membaca sampai bawah, menemukan jabatan yang tidak dipunyainya, lalu menunjukkan kepada Devon.
'Kalau benar aku direktur proyek, mestinya ada orang memberi tahu sebelum aku bertanya pada penasihat bagaimana membaca laporan.'
Devon mengerutkan dahi, membaca bagian yang dimaksud, lalu mengatakan ia akan meminta tim komunikasi menyampaikan koreksi fakta. Davina setuju pada langkah tersebut, tanpa ingin semua komentar mengenai perkawinan dihapus. Ia masih merasa tidak nyaman ketika beberapa orang menilai senyumnya pada foto sebagai bukti tidak pernah ada persoalan.
Ia memilih tidak membaca seluruh komentar sebelum berangkat. Di kantor, Davina bertemu orang yang akan mendampinginya pada kegiatan awal. Ia menerima daftar tugas sesuai mandat dua hari terjadwal, menanyakan bagian yang boleh diakses, lalu menghabiskan pagi mengikuti penjelasan dasar. Ada pertanyaan yang terdengar sangat sederhana setelah rapat besar, tetapi ia lebih takut membawa kesimpulan keliru daripada mengaku belum mengerti.
Pada satu laporan, ia salah membaca pengeluaran yang belum benar-benar dibayar sebagai uang yang sudah keluar. Pendamping memperlihatkan bagian yang berbeda. Davina menandai, mengulang dengan kalimat sendiri, lalu tertawa malu ketika menyadari ia hampir menyusun keberatan berdasarkan kesalahan itu. Ia belum menjadi ahli hanya karena berhasil mempertanyakan usul direktur pada satu pertemuan.
Sore Rabu pada pekan yang sama, ia mulai kelas bahasa Prancis yang dipilihnya sendiri. Ia mengenalkan nama tanpa perlu menyebut perusahaan keluarga. Kesulitan mengucapkan bunyi pertama membuat ia ingin berhenti mencoba setelah beberapa kali salah. Peserta lain juga mengulang, salah, lalu tertawa pada diri sendiri. Davina mengikuti lagi sampai pengajar mengangguk dan melanjutkan giliran.
Devon menunggu di rumah ketika ia pulang. Ia menanyakan apa yang dipelajari, kemudian menatap bingung ketika Davina mencoba kalimat pendek yang baru dilatih. Ia mengaku tidak tahu apakah dirinya sedang dipuji atau dimaki. Davina tertawa dan mengatakan suaminya perlu bersikap baik kalau tidak ingin ia memakai kemampuan baru untuk mengomel tanpa dapat dibantah.
Ia membuka catatan untuk memeriksa pengucapan, menyadari satu bunyi tadi salah, lalu mengulang tanpa menyembunyikan. Devon mendengarkan dengan wajah sangat serius sampai Davina meminta berhenti menatap seolah ia sedang menawarkan akuisisi. Pria itu tertawa, mengambil tempat lebih santai, dan mencoba meniru bagian pendek yang diizinkan. Hasilnya membuat Davina tertawa lebih keras daripada yang dimaksud. Ia segera meminta maaf, menunjukkan contoh dari bahan kelas, lalu mencoba bersama. Devon mengulang dua kali sebelum mengatakan kemampuan tersebut memang perlu waktu. Davina menutup catatan dengan senyum, senang suaminya tidak mengubah kesulitan pertama menjadi bukti ia seharusnya memilih kegiatan yang lebih berguna untuk perusahaan.
'Aku akan mulai mengkhawatirkan kualitas pendidikanmu,' kata Devon.
'Terlambat. Sudah bayar.'
Mereka makan sambil membicarakan jadwal berikutnya. Ada undangan keluarga, dua hari kerja Davina, kegiatan Devon di DM Electronics, serta beberapa waktu yang selalu diisi orang lain sebelum sempat dibicarakan. Davina mengeluarkan catatan karena tidak ingin kembali berjanji hadir pada dua tempat di malam yang sama.
Devon semula mengusulkan Rabu malam untuk tidak bekerja. Davina menunjuk jadwal kelas yang baru saja diceritakannya. Ia menepuk dahi sendiri, kemudian menawarkan Jumat. Mereka memeriksa apakah ada acara yang sudah diterima, memilih mulai pekan itu, lalu menyisihkan waktu tanpa tamu serta urusan kantor kecuali hal mendesak yang benar perlu ditangani.
'Kalau kita tidak punya bahan obrolan?'
'Kamu biasanya tidak pernah kekurangan komentar,' balas Davina.
'Aku mungkin sengaja diam supaya kamu merindukan suaraku.'
'Aku mungkin akhirnya bisa menonton film tanpa terganggu.'
Devon menatapnya, berpura-pura terluka, lalu tertawa. Pada Jumat yang dipilih, ia pulang lebih awal dan menemukan Davina masih memeriksa sebuah pesan. Ia tidak langsung menegur seolah mendapat kesempatan pertama menunjukkan siapa melanggar. Davina mengatakan pengajar mengirim perubahan bahan untuk pekan berikutnya, menyelesaikan balasan, lalu menyimpan telepon.
Mereka memilih film lama yang disukai Devon. Davina setuju setelah memastikan tidak terlalu panjang, lalu tetap mengomentari tokoh yang menurutnya mengambil keputusan paling buruk. Devon mula-mula menanggapi, kemudian mengeluh ia seharusnya menonton sekali tanpa mendengar pembelaan terhadap tokoh lain. Davina menawarkan berhenti berbicara selama lima menit. Ia bertahan kurang dari dua.
Devon tertawa sampai perlu mengulang bagian yang terlewat. Davina ikut tertawa, mengakui ia bukan penonton paling tenang yang dapat dipilih suaminya. Mereka meneruskan film dengan jeda pada bagian yang memang ingin dibicarakan, bukan mempertahankan rencana menonton hening hanya karena sudah telanjur dimulai.
Pada pertengahan, Devon meraih makanan ringan yang ternyata hampir habis. Davina menunjukkan mangkuk cadangan yang diletakkan di sisi lain, mengatakan ia sudah menduga suaminya akan menghabiskan tanpa menghitung. Ia menggeser dalam jangkauan, lalu bersandar di dekatnya. Devon tidak langsung memeluk. Ketika Davina mengambil lengannya untuk diletakkan pada bahu, ia membiarkan dan menyesuaikan agar keduanya dapat duduk nyaman.
Sesudah film selesai, mereka tetap duduk tanpa mencari kesimpulan besar mengenai hubungan. Davina mengatakan ia senang dapat belajar sesuatu yang tidak perlu dinilai sebagai keuntungan merger. Devon menanyakan apakah ia ingin terus mengikuti sampai selesai. Ia mengangguk dan mengatakan ia juga ingin melihat apakah ia dapat belajar tidak langsung menyerah ketika terdengar bodoh.
'Aku mengenal beberapa orang yang suaranya selalu yakin walaupun salah,' kata Devon.
Davina menatapnya.
'Termasuk aku,' tambahnya sebelum ia sempat menjawab.
Ia tertawa dan meletakkan kepala sebentar pada bahu suaminya. Tidak ada telepon yang harus diperiksa agar mereka tahu dunia belum runtuh karena dua orang tidak bekerja beberapa jam. Ketika akhirnya beranjak tidur, Davina membawa catatan kelas ke kamar. Devon mematikan televisi dan mengikuti, menanyakan apakah Jumat berikut masih ingin memilih film atau keluar makan. Davina mengatakan ia akan memikirkan, lalu tersenyum karena kini ada malam yang ingin ditunggu tanpa perlu menyusun cara membuat seseorang kalah.