Devon menunggu hampir lima menit di ruang tengah sebelum Davina keluar untuk menghadiri acara pengenalan proyek properti. Ia sudah hendak bertanya apakah kendaraan perlu diminta menunggu di tempat lain ketika istrinya muncul dengan gaun yang belum pernah dilihat. Pertanyaan itu hilang begitu saja, digantikan pandangan yang terlalu jelas untuk disembunyikan.
'Kenapa? Ada yang salah?'
'Tidak.'
'Jawabanmu terlalu pendek untuk orang yang biasanya punya komentar tentang semuanya.'
Devon tersenyum. Ia mengatakan gaunnya bagus, lalu menawarkan mengambil tas yang masih berada di meja. Davina mengulurkan sendiri dan menanyakan apakah mereka akan terlambat. Ia memeriksa jam, menjawab belum, kemudian sengaja berjalan lebih pelan agar tidak terlihat terlalu senang mempunyai alasan keluar bersama.
Acara itu bukan pembukaan hotel yang renovasinya bahkan belum dimulai. Perusahaan memperkenalkan arah pengembangan kepada mitra, sementara tim kerja tetap menyelesaikan batas pelaksanaan. Davina hadir sebagai pemilik saham dan calon penghubung yang mandatnya telah diterima secara tertulis sesudah rapat. Ia tidak naik panggung memaparkan perhitungan teknis yang belum dapat dijelaskannya.
Pada sesi foto, seorang fotografer meminta mereka berdiri lebih dekat. Davina menggeser seperlunya, kemudian menolak arahan meletakkan kepala pada bahu Devon. Pria itu mengikuti posisi yang dipilihnya. Seorang wartawan bertanya apakah perkawinan mereka menjamin kedua keluarga akan selalu sependapat tentang bisnis. Davina menjawab bahwa kerja sama mempunyai dasar serta penilaian sendiri, dan kehidupan pribadi bukan pengganti keputusan pemilik.
Devon hampir menambahkan sesuatu, lalu melihat pertanyaan berikut masih diarahkan kepada Davina. Ia menunggu sampai istrinya selesai, baru menjelaskan bagian yang memang terkait tugasnya. Ketika mereka dapat meninggalkan area media, Davina memandangnya sambil tersenyum. Devon membalas terlalu cepat, mengira senyum itu hanya akan menjadi miliknya sepanjang malam.
'Davina?'
Erick berdiri beberapa langkah dari meja minuman. Senyumnya sama ramah dengan saat di resor, tetapi pakaian malam membuat Devon perlu satu detik mengenali. Davina langsung menyapa, bertanya apakah ia datang bersama rombongan. Erick menjelaskan ia hadir karena salah satu urusan usaha yang membawanya bertemu penyelenggara, lalu menyebut Erina sudah kembali pada kesibukan sendiri.
Mereka berbicara mengenai perjalanan. Davina tertawa mengingat topi yang pernah dipinjamkan dan pancing yang jatuh. Erick menanyakan apakah ia sudah mencoba memancing lagi. Ia menggeleng, mengatakan belum mendapatkan kesempatan tanpa orang bertengkar di belakang. Devon ikut tersenyum meski merasa tangannya perlu melakukan sesuatu agar tidak tampak hanya berdiri.
Ia mengambil gelas, bergerak sedikit lebih dekat, dan hampir meletakkan lengan pada pinggang Davina. Gerakan itu berhenti sebelum menyentuh. Tidak ada kebutuhan menghangatkan istrinya dalam ruangan yang nyaman; ia hanya ingin Erick melihat sesuatu yang telah diketahui semua orang sejak mengenal nama pengantin tersebut.
Erick menyapa Devon, mengucapkan selamat sekali lagi atas pernikahan. Devon menerima, menanyakan perjalanan pulang dari Maldives, lalu menemukan bahwa ia masih dapat berbicara wajar kepada seseorang yang tidak pernah mengambil sesuatu miliknya. Davina bukan barang yang perlu ditandai. Ia tetap merasa cemburu, tetapi perasaan itu tidak perlu memutus percakapan melalui tangan yang menarik istrinya pergi.
Setelah beberapa menit, Erick berpamitan untuk menemui orang lain. Davina melambaikan tangan, kemudian menatap Devon yang memegang gelas belum diminum.
'Kamu menunggu minumannya berubah rasa?'
Devon tertawa pendek, akhirnya meminum sedikit. Davina bertanya apakah ia ingin menemui tim proyek atau masih berbicara dengan tamu lain. Mereka memisahkan kegiatan sebentar dan bertemu kembali pada tempat yang disepakati. Tidak semua salam harus diterima sebagai pasangan yang terus berdiri menempel agar terlihat kompak.
Dalam perjalanan pulang, Devon mengakui ia cemburu. Davina tidak pura-pura tidak menyadari. Ia menanyakan apa yang membuatnya paling terganggu. Devon memerlukan waktu sebelum menjawab bahwa ia melihat istrinya lebih mudah tertawa bersama Erick, sementara dengannya bahkan satu senyum kadang harus diperoleh setelah pertengkaran yang panjang.
'Erick tidak pernah mengancamku,' kata Davina pelan.
Devon mengangguk. Kalimat itu terasa lebih berat daripada bantahan bahwa mereka tidak pernah mempunyai hubungan. Davina meneruskan bahwa ia baru bertemu Erick di pulau dan tidak menjanjikan sesuatu yang lain. Ia tidak akan mengubah caranya menyapa teman untuk membuat suaminya berhenti merasa cemburu, tetapi ia bersedia berbicara bila Devon dapat bertanya tanpa menyusun tuduhan terlebih dahulu.
'Aku ingin kamu tertawa bersamaku juga,' ujarnya.
'Aku sudah melakukannya. Kamu terlalu sibuk melihat orang lain untuk ingat.'
Ia menoleh, lalu tertawa ketika Davina menyebut wajah setelah mencicipi sambal. Ia mengatakan itu kecurangan karena tidak ada yang menjelaskan tingkat kepedasannya. Davina menunjukkan bahwa peringatan sudah diberikan, hanya suaminya terlalu yakin dapat menang atas satu wadah kecil di meja.
Di penthouse, mereka melepas sepatu dan duduk sebentar sebelum berganti pakaian. Devon hendak mengatakan istrinya terlihat cantik malam itu, tetapi kali ini tidak menunggu sampai ada orang lain untuk dijadikan pembanding. Ia mengucapkan langsung. Davina memandangnya cukup lama, kemudian tersenyum dengan cara yang membuat ia ingin tetap duduk beberapa menit lagi.
'Terima kasih. Kamu juga lumayan kalau tidak sedang mau mengatur semua orang.'
'Lumayan?'
'Jangan besar kepala. Besok aku mungkin punya penilaian lain.'
Ia kemudian mengaku sebenarnya senang melihat Devon dengan setelan malam itu. Pengakuan tersebut membuat pria itu berhenti tertawa. Davina hampir menarik kembali dengan gurauan, tetapi memilih membiarkan kalimatnya didengar. Ia dapat menyukai penampilan suaminya tanpa menandatangani pernyataan bahwa semua keraguan telah hilang. Devon mengucapkan terima kasih dengan nada yang tidak dibuat sombong, lalu mengatakan ia sempat kesulitan memilih karena tidak tahu apakah Davina akan menganggap terlalu resmi. Perempuan itu tertawa karena selama ini ia membayangkan Devon keluar dari lemari dengan keyakinan bahwa semua pakaian pasti tepat. Pria itu menatapnya, menggeleng, dan mengaku beberapa percobaan memang lebih baik tidak diperlihatkan.
Devon tertawa dan bersandar. Davina meletakkan tas, lalu memilih duduk di sebelahnya, lebih dekat daripada saat mereka tiba. Mereka membicarakan hidangan yang tidak sempat dicoba dan orang yang salah menyebut nama perusahaan. Kecemburuan tidak hilang sebagai perasaan yang tak akan kembali. Malam itu ia hanya tidak diberi kuasa memilih siapa harus dibuat malu agar Devon dapat merasa dicintai.