Pada akhir pekan berikutnya, Devon mengajak Davina melihat rumah yang disiapkan kedua orangtua sebagai hadiah pernikahan. Ia tidak membawa koper atau petugas yang akan memindahkan barang. Davina menerima ajakan setelah memastikan mereka hanya hendak melihat, lalu mengingatkan bahwa ia belum pernah membaca dokumen rumah tersebut.
'Aku juga baru meminta salinan,' kata Devon. 'Dulu aku lebih sibuk mengatakan tidak ingin pindah daripada bertanya apa yang sebenarnya sudah disiapkan.'
Rumah itu lebih besar daripada bayangan Davina. Ada halaman, ruang yang mendapat cahaya dari dua sisi, dan dapur yang membuatnya sempat ingin membuka semua lemari. Devon menyerahkan kunci yang diterima dari keluarga. Davina masuk lebih dahulu, kemudian berhenti karena lantai berdebu pada bagian yang jarang dilewati.
Pengurus yang mendampingi menunjukkan mana yang sudah dibersihkan dan mana yang masih memerlukan pemeriksaan. Rumah tidak ditinggalkan begitu saja tanpa diketahui keluarga, tetapi perawatan biasa tidak membuat semua keran serta saluran otomatis bekerja baik. Davina melihat noda pada satu sisi, menanyakan sejak kapan ada, lalu mencatat untuk diperiksa sebelum mereka membicarakan penggunaan.
Devon berdiri pada pintu dapur ketika ia membuka lemari bawah. Ia mengatakan dulu membayangkan rumah itu akan segera penuh barang dan orang yang diminta mengurusnya. Davina menoleh, menanyakan apakah itu yang membuatnya menolak tinggal di sana atau ia memang tidak menginginkan rumah tangga bersamanya.
'Keduanya sempat bercampur,' jawab Devon setelah beberapa saat. 'Aku tidak ingin rutinitas berubah. Aku juga ingin membuat semua orang tahu keputusan perjodohan tidak berarti mereka dapat menentukan semuanya.'
'Aku termasuk semua orang yang perlu diberi pelajaran itu.'
Ia mengangguk tanpa berusaha menyebut Davina terlalu keras menafsirkan. Perempuan itu menutup lemari, melangkah ke jendela, lalu mengatakan ia pun memilih penthouse sebagai cara membuat Devon tidak dapat mengabaikannya. Ia mengira jika cukup dekat, setiap hari dapat dipakai menunjukkan siapa yang sebenarnya rugi karena menolak dirinya.
'Berhasil,' ujar Devon.
Davina memutar wajah. Ia mengangkat kedua tangan sebelum istrinya sempat menjawab, mengatakan itu bukan ajakan mengulangi perang. Davina menahan senyum dan kembali memandang halaman. Ia menyukai ruangnya, tetapi tidak ingin tinggal di tempat sebesar itu hanya karena keluarga sudah menyiapkan dan semua orang akan kecewa bila dibiarkan kosong.
Pengurus menyerahkan catatan biaya serta salinan yang diminta. Penjelasan awal menunjukkan rumah masih tercatat pada pihak keluarga Danajaya; rencana pengalihan yang pernah dibicarakan belum diselesaikan setelah pasangan memilih penthouse. Keluarga Mahawira ikut menyiapkan penggunaan serta kebutuhan rumah, tetapi hal itu tidak menjadikan Devon pemilik yang dapat menjual atau menyewakan sendiri. Bagian hak serta pilihan setelah ini perlu dibicarakan dengan pihak yang memang tercatat, bukan disimpulkan dari sebutan hadiah.
Davina merasakan kecewa yang tidak disangka. Ia tidak ingin menempati, tetapi kata hadiah telah membuat ia mengira mempunyai pilihan yang tidak memerlukan pembicaraan lagi. Devon terlihat hendak memberikan solusi sebelum ia selesai membaca. Ia menahan diri, menanyakan apakah Davina ingin mencatat pertanyaan untuk keluarganya atau berhenti dahulu.
'Catat saja. Aku ingin tahu apa yang bisa dipilih tanpa membuat orang menganggap aku tidak tahu terima kasih.'
Mereka duduk di halaman yang teduh, menuliskan pertanyaan mengenai status, biaya, dan kemungkinan digunakan orang lain. Rumah dapat mempunyai fungsi tanpa menjadi bukti pasangan sudah siap mempunyai anak. Davina mengucapkan itu, dan Devon mengatakan ia tidak ingin ukuran rumah menentukan sesuatu yang belum mereka putuskan. Pembicaraan berhenti sebelum berubah menjadi rencana memilih penyewa pada hari ketika kedudukan rumah saja baru dijelaskan.
Saat hendak pulang, Davina memeriksa pintu belakang bersama pengurus, memastikan semua ditutup oleh orang yang bertanggung jawab. Kunci dikembalikan sesuai pengaturan. Ia tidak membawanya sebagai benda yang membuat ia kini mempunyai rumah kedua. Di mobil, Devon menanyakan apakah ia ingin makan di luar. Davina memilih membeli bahan untuk memasak karena sudah berjanji kepada dirinya tidak menghabiskan seluruh akhir pekan melihat ruangan kosong.
Mereka berhenti di toko. Devon mengambil jumlah sayuran terlalu banyak untuk dua orang, Davina mengembalikan sebagian setelah menanyakan kapan ia akan memasak lagi. Pria itu menunjuk tanggal pada kemasan, membela pilihan, lalu menyerah ketika Davina menanyakan apakah ia bersedia menghabiskan menu yang sama selama tiga hari. Ia mengatakan mungkin boleh bila dimasak berbeda. Davina menyuruhnya mempelajari satu cara dahulu.
Di penthouse, Davina mengambil dua gelas dari lemari, menuang air untuk mereka, lalu menyiapkan bahan. Devon memotong dengan ukuran tidak seragam dan menyebutnya gaya sendiri. Ia mengizinkan Davina menunjukkan ulang sebelum hasilnya terlalu sulit dimasak bersamaan.
Mereka makan menjelang malam. Ada sayuran sedikit terlalu lunak, tetapi bumbu cukup enak untuk membuat Devon meminta tambah. Davina tertawa ketika ia mengaku tidak biasa memasak sejak kecil karena selalu ada orang yang mengurus. Ia mengatakan tidak keberatan menunjukkan beberapa hal, tetapi tidak ingin waktu luangnya otomatis menjadi kelas memasak untuk suami. Devon menawarkan bergiliran memilih masakan dan mencuci sesuai siapa yang tersedia.
Ia kemudian bertanya apakah Davina sungguh tidak menyukai masakan buatannya atau hanya senang melihat ia menunggu penilaian. Davina mengambil satu potong, mengunyah perlahan seperti hendak memberi keputusan besar, lalu tersenyum karena Devon sudah menipiskan bibir. Ia mengatakan bumbunya enak dan sayur terlalu lunak seperti yang tadi disebut. Devon mengangguk, tampak lega, membuat Davina meraih tangan yang masih berada di dekat piring. Sentuhannya singkat. Ia mengatakan ia suka makan bersama seperti ini. Devon tidak menjawab dengan menanyakan hadiah yang akan diperoleh. Ia hanya tersenyum, membalik tangan untuk menggenggam sebentar, lalu melepas ketika Davina hendak mengambil minum. Mereka meneruskan makan sebelum hidangan benar-benar dingin.
Sesudah meja bersih, Davina meletakkan catatan rumah pada tas untuk dibawa menemui keluarganya pada waktu kerja berikutnya. Ia lalu mengambil brosur kelas bahasa, mengisi permintaan informasi, dan menunjukkan jadwal Rabu yang masih mungkin diikuti. Devon memandangnya, menanyakan apakah ia senang, lalu tersenyum ketika Davina mengatakan ia menunggu kegiatan yang tidak berakhir dengan nama Mahawira atau Danajaya pada daftar hadir.