Hawa menyambut Davina dengan menanyakan apakah ia masih suka makanan pedas. Pertanyaan itu membuat Davina lega karena tidak perlu langsung menceritakan bulan madu di depan meja keluarga. Mereka baru tiba di rumah Mahawira untuk makan malam akhir pekan. Devon menerima satu wadah dari Hawa, membawanya ke meja, lalu kembali menanyakan apa yang masih perlu dipindahkan.
'Lihat, ternyata Devon bisa disuruh,' kata Davina.
Hawa tertawa. 'Asal jangan diberi dua tugas bersamaan. Nanti dia sibuk menentukan mana yang lebih mendesak sampai tidak ada yang dikerjakan.'
Devon mendengus dari dekat pintu. Davina ikut tertawa, lalu menanyakan dari mana aroma yang membuatnya lapar sejak masuk. Hawa menunjuk dapur, meminta mereka menunggu sebelum mencoba, kemudian mengajak Davina mengambil mangkuk yang masih kurang.
Di dapur yang lebih sepi, Hawa menutup laci dan menyebut pesan Devon mengenai foto sekolah. Senyumnya hilang ketika mengatakan ia sudah menghapus salinan dan meminta orang yang meneruskan agar tidak menyebarkan lagi. Ia belum dapat menjamin unggahan lama hilang dari semua tempat. Ia membawa nama akun serta jalur yang dapat diperiksa Davina bila ingin mengajukan permintaan sendiri.
'Aku mengira itu cuma foto lama yang bikin malu sebentar,' katanya. 'Devon juga tidak menerangkan kamu sampai pindah sekolah waktu meminta salinan.'
'Sekarang kamu tahu.'
Hawa mengangguk. Ia tidak menambahkan bahwa Davina seharusnya dapat tertawa setelah bertahun-tahun. Davina menerima informasi tersebut, lalu mengatakan ia ingin melihat setelah makan dan tidak di depan semua orang. Kejadian MOS tidak perlu menjadi acara keluarga kedua yang hanya berbeda karena kali ini semua mengaku berniat menghibur.
Ketika kembali ke meja, Pak Mahawira sedang membicarakan jadwal kelompok kerja. Davina duduk, mengambil air, dan mendengarkan beberapa kalimat sebelum menanyakan apakah mereka akan makan dahulu. Ayah Devon berhenti, memandang putranya, lalu mengatakan ia hanya ingin memastikan pekerjaan tidak terlambat. Devon menjawab jadwal sudah dibagikan dan dapat dibahas pada waktunya.
'Aku juga ingin tahu kalian menikmati liburan atau tidak,' kata ibu Devon.
Davina memandang suaminya. Ia tidak ingin berbohong, tetapi tidak siap membuka semua di meja. Ia mengatakan tempatnya indah dan mereka menemukan beberapa hal yang masih perlu diperbaiki di antara mereka. Devon menambahkan bahwa ia bersikap buruk pada beberapa kesempatan dan sedang berusaha mengubah, tanpa meminta Davina memberikan contoh di depan orangtuanya.
Kesunyian sempat membuat Davina ingin mengambil kalimat kembali. Kemudian Hawa mengangkat wadah, menanyakan siapa yang hendak mencoba lauk sebelum dingin. Mereka meneruskan makan. Tidak semua wajah langsung terlihat memahami, tetapi tidak ada orang memaksa Davina menampilkan senyum untuk membuktikan keluarga telah berhasil menikahkan mereka.
Pada pertengahan makan, Devon mengambil sambal yang menurutnya tidak terlalu pedas. Davina memperingatkan ia belum mencoba. Ia mengabaikan, mengambil lebih banyak, lalu diam terlalu lama setelah suapan pertama. Davina menatapnya dari samping, menunggu sampai ia meraih air. Hawa langsung tertawa karena mengetahui persis sambal yang dimaksud.
'Itu pilihanmu sendiri,' ujar Davina.
'Aku cuma salah menilai sedikit.'
'Wajahmu berbeda pendapat.'
Devon menatapnya dengan mata mulai berair, akhirnya tertawa dan meminta lauk yang tidak pedas. Davina menggeser wadah dalam jangkauan. Ia tidak perlu menggunakan kesalahan kecil itu sebagai kesempatan membalas seluruh pernikahan. Ia menikmati bahwa suaminya dapat terlihat konyol di hadapan keluarga tanpa harus menjadikan seseorang sasaran agar kewibawaan kembali.
Sesudah makan, mereka membantu membawa beberapa barang ke dapur. Hawa memberikan informasi foto sesuai janji, lalu mengatakan ia ingin tetap dapat menghubungi Davina tanpa setiap percakapan menjadi pemeriksaan mengenai Devon. Davina menatapnya, tertawa pendek, dan mengatakan ia pun tidak ingin memperoleh saudara yang hanya mengirim pesan ketika Devon sedang bermasalah.
'Kita bisa mulai dari tempat membeli sambal itu,' katanya.
Hawa mengangkat alis. 'Untuk stok di penthouse?'
'Untuk memastikan aku tahu apa yang akan dimakan suamiku sebelum dia memutuskan dirinya kebal.'
Mereka tertawa. Hawa memberikan nama tempat, kemudian menanyakan buku yang dibawa Davina karena sempat terlihat dari tas. Obrolan beralih pada bacaan, makanan, serta kegiatan yang dapat dilakukan setelah jam kerja. Davina merasa lebih mudah duduk ketika ia tidak terus-menerus diundang mengucapkan bahwa Devon sebenarnya lelaki baik bila sudah dikenal.
Hawa menceritakan percobaan memasak yang pernah berakhir dengan makanan terlalu asin untuk disajikan. Ia sendiri yang mengangkat cerita, lengkap dengan keputusan menambah bahan berkali-kali karena tidak ingin mengaku sudah gagal. Devon muncul ketika bagian mencari makanan pengganti sampai pada namanya. Ia membela bahwa tempat yang dipilih saat itu memang satu-satunya yang masih buka, sedangkan Hawa mengatakan masalahnya bukan tempat, melainkan ia lupa membawa pesanan untuk dirinya sendiri. Davina tertawa dan menanyakan bagaimana dapat melupakan hal tersebut. Devon mengatakan ia lebih sibuk menerima telepon daripada menghitung bungkusan. Mereka menghabiskan beberapa menit membicarakan apakah ia sungguh akan bertahan bila harus menyiapkan makan sepekan tanpa bantuan pesan antar. Davina menolak menjadi juri sebelum ada bukti yang dapat dicicipi. Hawa menyuruh Devon mulai dari menu yang tidak membuat orang perlu membeli obat setelah makan, lalu tertawa ketika ia memprotes terlalu cepat diremehkan.
Dalam perjalanan pulang, Devon menanyakan apakah ia marah karena pembicaraan foto akhirnya datang di rumah keluarga. Davina mengatakan Hawa berbicara sendiri di dapur dan menerima permintaannya untuk tidak membuka di meja. Ia akan mengurus unggahan tersebut dengan bantuan yang dipilih, bukan meminta Devon menyuruh seseorang membuat semua orang diam melalui ancaman bisnis.
'Aku cuma ingin tahu kamu mendapat informasi yang diperlukan,' kata Devon.
'Sudah. Kalau ada bagian yang perlu kamu jawab, aku akan bertanya.'
Ia mengangguk dan kembali melihat jalan. Beberapa menit kemudian, Davina membuka jendela sedikit karena masih merasa panas setelah makan. Devon menyatakan sambalnya ternyata tidak seburuk yang digambarkan semua orang. Davina menoleh dengan tatapan tidak percaya. Ia mempertahankan wajah serius selama dua detik sebelum keduanya tertawa lagi. Malam itu keluarga tidak menyelesaikan pernikahan mereka, tetapi Davina pulang membawa percakapan yang ingin diteruskan pada kesempatan berbeda.