Davina menghubungi Devon pada sore setelah rapat. Ia menanyakan apakah suaminya akan berada di penthouse malam itu, kemudian mengatakan ingin kembali membawa sebagian barang. Jawaban Devon datang begitu cepat hingga ia hampir tertawa. Ada pertanyaan apakah perlu dijemput, disusul penjelasan bahwa ia dapat memakai kendaraan sendiri jika lebih nyaman.
Ia memilih diantar sopir keluarga karena masih membawa koper. Sebelum pergi, ia memberitahu orangtuanya bahwa ia hendak mencoba hidup bersama lagi dan tetap ingin dapat berkabar bila ada masalah. Ibunya memeluk tanpa meminta ia segera mendapat kabar baik mengenai cucu. Ayahnya menanyakan apakah perlu bantuan membaca tugas yang ditawarkan dewan. Davina mengatakan sudah mempunyai janji dengan penasihat, lalu menyimpan salinan tawaran pada tas.
Devon membuka pintu setelah ia mengetuk. Ia mengenakan pakaian rumah dengan satu lengan masih basah karena baru mencuci sesuatu. Davina menatap bekas air, lalu melihat gelas yang diletakkan pada kain pengering di dapur.
'Aku datang terlalu cepat untuk inspeksi?'
'Tidak ada yang bilang akan ada inspeksi.'
'Wajahmu seolah baru ketahuan memecahkan sesuatu.'
Devon menyingkir sambil tertawa, memberi jalan agar ia dapat membawa koper masuk. Tidak ada bunga besar yang menghalangi ruangan atau makan malam keluarga yang disiapkan tanpa memberi tahu. Ia memang membeli bahan makanan, tetapi belum memutuskan apa yang akan dibuat. Davina menaruh tas dan menanyakan sejak kapan suaminya mulai berbelanja sendiri.
'Aku tahu cara membeli. Memasak yang belum tentu sesuai harapan.'
'Kemajuan. Biasanya kamu terdengar yakin sebelum mencoba.'
Ia tersenyum, lalu memandang koper yang belum dibawa ke kamar. Davina melihat pertanyaan yang sengaja tidak diucapkan. Ia mengatakan mereka perlu menentukan tempat tidur sebelum pura-pura sibuk pada hal lain. Devon mengangguk, berjalan bersamanya menuju kamar utama yang pernah diperebutkan pada malam pernikahan.
'Aku ingin memakai kamar ini bersama,' kata Davina. 'Tidur masing-masing seperti di vila. Kalau aku perlu sendiri, kamar cadangan tetap bisa dipakai. Jangan jadikan itu alasan mengatakan aku mengusirmu.'
'Aku tidak akan mengatakan kamu harus tinggal di sini karena sudah kembali.'
Davina memandangnya untuk memastikan ia tidak sedang mengulang jawaban yang terdengar baik. Devon membuka lemari dan menunjukkan tempat yang masih berisi barangnya. Tidak ada yang dikeluarkan atau dipindah ke tas selama ia di rumah orangtua. Ia menanyakan apakah susunannya ingin diubah. Davina memilih memindahkan satu rak supaya buku serta barang kecil tidak lagi tercampur dengan pakaian.
Mereka mengerjakan sambil beberapa kali menghalangi jalan satu sama lain. Devon menunduk mencari gantungan, Davina justru membutuhkan tempat di dekat kakinya. Setelah tabrakan kedua, keduanya tertawa dan memilih bergantian. Davina baru dapat melihat sisi ruangnya dengan jelas ketika koper kosong ditutup. Ia meletakkannya di tempat yang tidak menutup pintu kamar cadangan.
Ketika memilih pakaian untuk malam, Davina berhenti pada sesuatu yang dahulu dibeli dengan tujuan membuat Devon kehilangan ketenangan. Ia menyentuh kain sebentar, lalu memilih pakaian yang lebih nyaman dipakai membaca. Ia belum ingin setiap malam dimulai dengan memeriksa apakah suaminya terpancing atau berhasil menahan diri. Devon yang masih mencari tempat bagi satu kotak menanyakan apakah ia memerlukan rak lain. Davina menggeleng, lalu bertanya di mana dapat menaruh barang yang belum ingin dipakai. Devon menunjukkan ruang kosong, menunggu ia menyimpan sendiri, dan kembali pada kotak miliknya. Davina merasakan lega yang sederhana ketika tidak perlu menjelaskan pilihan pakaian sebagai strategi maupun penolakan terhadap seluruh kehadiran pria itu.
Di ruang tengah, ia menanyakan kunci sendiri. Devon menyerahkan kunci yang dapat dipakainya tanpa harus menunggu ia pulang. Davina mencobanya pada pintu, menyimpan pada tas, lalu kembali duduk. Ia tidak ingin kehadirannya di rumah selalu terasa seperti izin masuk yang dapat ditarik saat mereka bertengkar.
Tawaran kerja dibicarakan setelah urusan barang selesai. Davina telah membaca lingkup yang dikirim penasihat: dua hari kegiatan terjadwal dalam sepekan sebagai penghubung pemilik Danajaya pada tim kajian proyek, dengan pekerjaan tambahan disepakati sebelum diberikan. Ia akan menerima laporan dan mengumpulkan pertanyaan pemilik, bukan mengeluarkan perintah teknis. Penghasilan kerja dipisahkan dari haknya sebagai pemegang saham. Devon tidak menjadi orang yang menilai apakah ia istri yang cukup mendukung untuk memperoleh pembayaran.
'Aku mau mencoba,' katanya. 'Aku juga perlu belajar supaya tidak hanya mengulangi kata yang didengar di rapat.'
'Manajer proyek akan punya penjelasan lebih baik daripada aku untuk banyak hal.'
Davina tersenyum. Ia menanyakan apakah mengakui itu menyakitkan. Devon meletakkan tangan pada dada seperti memeriksa luka, membuatnya tertawa. Lalu ia mengatakan sungguh akan menghubungi penasihat besok untuk menerima mandat dengan batas tersebut. Ia juga menyebut kelas bahasa Rabu sore yang ingin diikuti setelah mengetahui jadwal tersedia.
Makan malam disiapkan bersama. Devon mengambil pisau, lalu mengaku tidak mengetahui seberapa kecil sayuran perlu dipotong. Davina menunjukkan satu contoh, membiarkan ia mencoba, dan menurunkan api ketika keduanya terlalu sibuk berdebat mengenai bentuk hasilnya. Masakan selesai lebih lambat daripada pesanan dari restoran, tetapi mereka memakannya tanpa perlu menentukan siapa harus diberi penghargaan paling besar.
Sesudah piring dicuci, Davina mengirim kabar kepada ibunya bahwa sudah sampai. Ia juga menulis singkat kepada Em, dengan pengingat bahwa tidak perlu segera dibalas. Devon sedang membereskan meja dan tidak menanyakan isi pesan. Davina memandang punggungnya, lalu mengatakan terima kasih sudah menjaga barangnya tetap pada tempat. Ia menjawab bahwa itu memang barangnya, kemudian meminta bantuan mengangkat wadah yang hampir jatuh dari tangan basah.
Malam itu mereka berbaring pada sisi masing-masing. Davina masih mendengar setiap gerakan terlalu jelas, tetapi tidak merasa perlu berpura-pura tidur sebelum Devon dapat mengajaknya bicara. Ia menanyakan apakah lampu kecil dapat tetap menyala sampai ia selesai membaca. Devon mengangguk, membetulkan bantal, dan mengeluh besok mungkin masih sulit bangun setelah terbiasa liburan. Davina tertawa pelan. Ketika ia akhirnya menutup buku, ia mematikan lampu atas pilihannya sendiri dan mengucapkan selamat malam kepada seseorang yang masih ingin dikenalnya.