Davina datang ke rapat pada hari kesepuluh dengan satu pertanyaan yang masih ditulis tanpa jawaban. Ia telah membacanya kepada penasihat Danajaya dan diberi beberapa penjelasan, tetapi ingin mendengar orang yang mengusulkan perubahan menerangkan akibatnya sendiri. Ketika Devon berdiri menyambut di koridor, ia sempat lupa mengapa perutnya terasa tegang sejak pagi.
Pria itu kembali mengenakan setelan kerja. Rambut rapi, wajah tenang, dan telepon yang segera disimpan ketika melihatnya. Davina teringat penampilan Devon di sepeda berkeranjang, lalu hampir tertawa. Devon menaikkan alis, menanyakan apa yang tampak lucu pada dirinya sebelum rapat dimulai.
'Tidak ada. Aku cuma lebih suka kamu waktu tidak terlihat sedang memeriksa seluruh gedung.'
'Aku belum sempat. Lift tadi terlalu lama.'
Ia tertawa pendek. Mereka masuk bersama tanpa menentukan tempat duduk berdasarkan siapa harus terlihat paling dekat. Davina berada di sisi perwakilan Danajaya, Devon bersama tim Mahawira. Kedua ayah hadir. Penasihat masing-masing membawa dokumen yang sudah disamakan, sehingga tidak ada orang perlu menebak apakah halaman di depan pihak lain berbeda.
Penjelasan awal mengakhiri persoalan salinan lama. Dokumen tersebut tidak berlaku menggantikan perjanjian yang sah. Penggunaan arsip diperbaiki agar orang tidak kembali membawanya sebagai keputusan terbaru. Namun, direktur yang menghendaki perubahan kendali tetap memperoleh waktu menyampaikan alasan. Ia menyebut pembelian dan pekerjaan yang tertahan karena persetujuan harus datang dari dua sisi pemilik.
Davina menanyakan contoh yang benar-benar tertunda. Direktur itu menunjuk pengadaan pada rencana renovasi hotel bisnis kota. Nilainya berada dalam rencana besar yang disetujui, tetapi penyesuaian pemasok tidak jelas dapat diputuskan siapa. Davina menulis, lalu menanyakan mengapa masalah tersebut membuat hak persetujuan atas seluruh keputusan besar Danajaya perlu dikurangi.
'Supaya tidak setiap hal diperdebatkan dari awal,' jawab lelaki itu.
'Kalau masalahnya batas pada pekerjaan rutin, apakah menghapus hak atas perubahan kepemilikan tidak terlalu jauh?'
Ia menyampaikan pertanyaan dengan suara lebih pelan daripada yang dilatih di rumah. Devon tetap diam, membiarkan penasihat serta direktur menjawab. Ada beberapa perbedaan yang belum dipahaminya, dan ia meminta satu contoh tambahan. Tidak ada pujian berlebihan karena seorang perempuan muda berani berbicara. Pertanyaannya berguna bila membantu keputusan, bukan hanya karena ia istri CEO.
Devon kemudian mengusulkan pemisahan keputusan operasional yang sudah berada dalam anggaran dan keputusan yang mengubah hak pemilik. Ia menyampaikan dari sisi Mahawira, tidak menjadikan Davina orang yang telah menjamin Danajaya menerima. Penasihat mencatat bahwa batas serta kewenangan harus ditulis sebelum percobaan diterapkan pada proyek.
Seorang anggota mengatakan perkawinan mereka seharusnya membuat koordinasi jauh lebih mudah. Davina merasakan tengkuknya panas. Ia memegang pena, memandang kedua ayah, lalu mengatakan bahwa ia dan Devon dapat saling menelepon sebagai pasangan tanpa mempunyai hak mengikat suara seluruh pemilik pada isi percakapan pribadi.
'Kami juga bisa berbeda pendapat,' katanya. 'Bukan berarti kerja sama perusahaan sedang pecah.'
Pak Mahawira terlihat hendak menanggapi, tetapi Devon berbicara lebih dahulu. Ia mengatakan ia tidak akan meminta Davina menyetujui usul hanya agar makan malam keluarga terasa tenang. Ada manajer, penasihat, serta pemilik lain yang perlu bekerja dengan kedudukan jelas meskipun pasangan pengantin sedang bertengkar atau justru berbahagia.
Diskusi tidak langsung selesai. Direktur senior masih menganggap beberapa batas terlalu lambat, sedangkan wakil Danajaya menginginkan lebih banyak pengawasan. Setelah beberapa usul dinilai, dewan menyetujui tim kerja selama tiga puluh hari untuk menyelesaikan pembagian kewenangan awal. Hak persetujuan strategis kedua sisi tetap berlaku. Pelaksanaan yang lebih cepat akan diuji pada proyek hotel selama tiga bulan, setelah rencana serta batasnya disahkan, bukan langsung diberikan sebagai kuasa tanpa syarat kepada Devon.
Davina ditawari ikut sebagai penghubung pemilik dari sisi Danajaya dengan tugas terbatas. Ia meminta waktu membaca lingkup kerja sebelum menerima. Ia tidak akan mengelola renovasi sendiri atau memberi instruksi teknis kepada kontraktor. Penasihat serta manajer proyek akan menjadi tempat bertanya pada bidang yang belum dikuasai. Permintaan itu dicatat, dan rapat berakhir tanpa orang mengangkatnya menjadi direktur hanya karena perkawinannya dianggap berhasil.
Sebelum keluar, Pak Mahawira menghentikan Devon dan menanyakan apakah usulnya akan berbeda bila orang yang duduk di sisi Danajaya bukan Davina. Davina mendengar karena masih membereskan map beberapa langkah dari mereka. Devon terlihat kesal, seolah dukungan kepada istrinya kembali dianggap tidak dapat berasal dari penilaian sendiri. Ia menjawab terlalu cepat, kemudian mengulang lebih pelan: batas yang sama harus berlaku siapa pun wakil pemilik. Ayahnya mengatakan ia ingin melihat hal itu pada pekerjaan yang benar-benar terlambat, bukan hanya ketika semua masih berada di ruang sejuk. Devon mengangguk. Davina tidak ikut memenangkan perdebatan tersebut. Ia sendiri juga belum mengetahui bagaimana akan bertindak ketika pertanyaan tidak dapat dijawab hanya dengan menunjuk paragraf yang sudah dibaca semalam.
Di koridor, Devon menanyakan apakah ia sudah makan. Davina mengatakan perutnya terlalu tegang tadi pagi. Pria itu tersenyum dan menawarkan makan siang di tempat yang tidak memerlukan percakapan lebih lanjut mengenai hak veto. Ia menerima setelah memberitahu ayah bahwa urusan berikut dapat diteruskan melalui penasihat, lalu pergi membawa map sendiri.
Di restoran, Devon mulai mengatakan ia menyukai pertanyaan yang diajukan Davina. Perempuan itu mengangkat tangan, membuatnya berhenti dengan tatapan bertanya.
'Kalau kamu mau memuji, nanti saja. Sekarang aku perlu memilih lauk. Kalau terlambat makan, aku jadi lebih galak daripada direktur tadi.'
Devon tertawa dan menyerahkan daftar. Mereka memesan, berbeda pendapat mengenai sambal, lalu menghabiskan beberapa menit memperdebatkan apakah Devon sungguh pernah memasak tanpa orang memperbaiki hasilnya. Davina lupa memandang map sampai pelayan meminta sedikit ruang untuk meletakkan piring.
Sesudah makan, ia mengatakan belum memutuskan kapan kembali ke penthouse. Devon mengangguk, meskipun sempat menghela napas. Davina menyentuh punggung tangannya sebentar atas pilihannya sendiri, lalu menarik kembali sebelum berdiri. Ia belum mempunyai jawaban untuk semua bagian pernikahan. Namun, ia baru meninggalkan rapat dengan suara miliknya tetap tercatat, dan kini ingin mengetahui seperti apa makan bersama Devon jika tidak harus selalu menjadi hadiah setelah salah satu memenangkan sesuatu.