Pada pagi hari kedelapan, Davina hampir meninggalkan buku di kursi teras. Devon menemukannya ketika memeriksa apakah masih ada barang yang belum masuk koper. Ia menyerahkan dengan wajah dibuat bangga, mengatakan tanpa dirinya istrinya mungkin perlu kembali ke pulau. Davina menatap pengisi daya yang masih terpasang pada sisi meja Devon, lalu mencabut dan mengangkatnya.
'Sepertinya kita perlu saling memeriksa sebelum bicara terlalu sombong.'
Devon tertawa. Mereka menyelesaikan pengemasan, memeriksa kamar sekali lagi bersama, lalu meninggalkan vila nomor lima tanpa pertengkaran mengenai siapa yang lebih pantas membawa koper. Dalam perjalanan menuju dermaga, Davina memandang tangga dan seluncuran yang makin jauh. Ia senang pernah melihat tempat tersebut. Ia juga tidak ingin membawa pulang cerita yang hanya terdiri dari bagian indah.
Selama penerbangan, ia mencoba membaca salinan ringkas dari penasihat. Mata berhenti pada paragraf yang sama beberapa kali sampai ia akhirnya memasukkan kembali dokumen. Devon menanyakan apakah ia ingin membicarakannya. Davina mengatakan ia mengantuk, kemudian memejamkan mata. Ia terbangun ketika awak lewat menawarkan minuman dan menemukan suaminya sudah menurunkan suara ketika berbicara.
Di Jakarta, dua kendaraan menunggu. Keluarga Danajaya mengirim sopir untuk Davina, sedangkan mobil dari sisi Mahawira disiapkan untuk Devon. Ia berdiri beberapa saat di samping tas, merasakan betapa cepat nama keluarga kembali menentukan arah yang seolah sudah dipilih orang lain. Devon menanyakan apakah ia ingin langsung ke penthouse atau menemui orangtuanya dahulu.
'Ke rumah Papa. Aku ingin tinggal di sana dulu sampai rapat.'
Devon mengangguk, tetapi senyumnya hilang sedikit. Davina melihat dan tidak menambahkan bahwa ia pasti kembali hanya untuk menenangkan. Ia mengatakan mereka tetap dapat berbicara mengenai dokumen, dan pilihan beberapa malam tidak dimaksudkan untuk membuat keluarga menebak-nebak melalui keheningan.
'Aku ikut menjelaskan urusan rapat sebentar, boleh?' tanya Devon.
'Boleh. Setelah itu aku ingin waktu dengan Mama dan Papa sendiri.'
Mereka pergi dalam satu mobil menuju rumah Danajaya setelah mengatur kendaraan lain membawa barang Devon sesuai arah berikutnya. Pak Danajaya menerima mereka di ruang kerja, menanyakan perjalanan, kemudian memanggil penasihat yang telah menunggu pada jadwal yang disampaikan sebelumnya.
Davina memperoleh penjelasan langsung mengenai hak sahamnya. Ia belum mempunyai jabatan manajemen hanya karena namanya tercantum sebagai pemilik. Bila ikut tim kajian, peran serta tanggung jawab perlu ditetapkan, dan ia dapat menolak pekerjaan yang belum dapat dilakukan. Ia menanyakan apakah suaranya akan dianggap suara Devon saat mereka berbeda pendapat. Penasihat mengatakan kedudukan masing-masing tidak digabung oleh perkawinan.
Devon menjelaskan jabatan CEO DM Electronics tetap pekerjaannya. Urusan properti perusahaan gabungan akan ditangani tim proyek profesional dengan pengawasan pemilik. Ia tidak datang membawa hak memutuskan semua karena sudah menjadi menantu Danajaya. Ayah Davina mendengarkan tanpa mencoba membuat pernyataan kompak untuk diperlihatkan kepada dewan.
Sesudah pembicaraan terbatas itu selesai, rapat hari kesepuluh dikonfirmasi kembali. Davina menyimpan salinan yang diperlukan, lalu mengantar Devon ke pintu. Ia mengatakan akan menginap di rumah orangtuanya sementara sesuai rencana yang baru dibicarakan. Devon mengatakan ia juga akan menemui orangtuanya dan tidak meminta Davina ikut agar rumah tangga mereka terlihat baik.
'Aku akan memberi kabar kalau sudah sampai,' katanya.
Davina mengangguk. Ketika mobil pergi, ia merasakan kehilangan kecil yang tidak disangka. Ia tetap kembali ke dalam rumah, menaruh tas di kamar lamanya, dan membiarkan rasa tersebut ada tanpa menjadikannya alasan mengejar Devon sore itu juga.
Di meja masih ada brosur kelas bahasa yang pernah diperiksa sebelum urusan pernikahan memenuhi hari. Ia membukanya, melihat jadwal yang sudah lewat, lalu mencari apakah ada kelas berikutnya. Ada kemungkinan Rabu sore yang belum penuh. Davina menyimpan informasi tanpa langsung mendaftar karena masih perlu menilai waktu jika menerima tugas dari keluarga. Ia tidak ingin keinginannya sendiri kembali menjadi bagian pertama yang dibuang sebelum mengetahui berapa banyak pekerjaan yang sungguh harus dilakukan. Ketika ibunya mengetuk, ia menaruh brosur di atas tas agar ikut terbawa bila kelak kembali ke penthouse, bukan ditinggalkan sebagai rencana yang hanya boleh dimiliki sebelum menikah.
Ibunya datang membawa pakaian rumah yang masih disimpan. Mula-mula ia menanyakan makanan, kemudian melihat wajah Davina dan duduk di tepi ranjang. Pertanyaan mengenai bulan madu terdengar hati-hati. Davina hendak memberikan jawaban yang biasa dipakai saat petugas resor bertanya apakah semua menyenangkan. Kali ini ia mengatakan tidak semuanya.
Ia menceritakan pernyataan Devon bahwa pernikahan hanya diperlukan untuk merger, serta peristiwa ketika permintaan berhenti diabaikan. Ia menyebutnya tanpa rincian intim, tetapi cukup jelas agar ibu tidak mengira hanya perdebatan kecil mengenai tempat makan. Ibunya menutup tangan pada pangkuan dan terdiam sebelum memanggil ayah atas persetujuan Davina.
Pak Danajaya semula mengatakan mungkin mereka belum terbiasa hidup bersama. Davina memotong dengan suara yang membuat ia sendiri terkejut.
'Takut bukan cuma belum terbiasa, Pa.'
Ayahnya berhenti. Davina melihat malu serta rasa bersalah bergantian di wajah orang yang selama ini menyebut perkawinan sebagai penguat keluarga. Ia mengatakan ia belum memutuskan mengakhiri hubungan dan tidak meminta orangtua bertengkar dengan Mahawira atas namanya. Ia ingin mempunyai tempat kembali tanpa dihitung sebagai ancaman terhadap perusahaan.
'Kamu bisa tinggal di sini,' kata ibunya lebih dahulu.
Pak Danajaya mengangguk kemudian. Ia mengatakan tim akan memastikan kerja sama usaha tidak dibuat bergantung pada Davina menerima perlakuan yang menakutkan. Ucapan itu belum menjawab semua yang dahulu membuat ia merasa tidak dapat bercerai selagi orangtuanya hidup. Namun, Davina kini dapat menanyakan kepada penasihat berdasarkan keadaan sebenarnya, bukan hanya ketakutan yang dibiarkan menjadi kepastian.
Malam itu pesan Devon masuk: sudah tiba, rapat tetap sesuai jadwal, dan ia berharap Davina dapat beristirahat. Davina menjawab singkat, lalu turun ketika ibunya memanggil makan. Makanan yang sempat diminta dari pulau benar ada di meja. Ia duduk, mengambil porsi sendiri, dan mulai bercerita mengenai foto bulan madu yang kepala pengantinnya hampir tidak masuk bingkai.