Pesan Em masuk ketika Davina sedang mencari pengisi daya pada pagi hari ketujuh. Ia hampir menjatuhkan ponsel setelah nama itu muncul di antara pemberitahuan. Balasannya pendek: sudah bisa membaca, belum tentu dapat menjawab cepat, dan ingin mengetahui apakah tumpukan cerita seru yang dijanjikan memang masih ada.
Davina tertawa, lalu merasakan mata mendadak panas. Ia menulis jawaban terlalu panjang sebelum menghapus setengah karena tidak ingin membuat sahabat yang sedang pulih harus membaca seluruh pertengkaran sebagai tugas pertama setelah kembali memegang telepon. Ia menanyakan apakah boleh menelepon sebentar. Jawaban datang beberapa menit kemudian dengan waktu yang bisa dicoba.
Devon melihatnya tersenyum kepada layar dan menanyakan apakah ada kabar baik. Davina mengatakan sahabatnya akhirnya dapat berkabar. Ia menunjuk tempat di teras yang ingin dipakai berbicara, lalu pergi mengambil air. Devon tetap di ruang kerja mini, memberi kesempatan tanpa meminta nama lengkap, riwayat, serta alasan mengapa ia belum pernah diperkenalkan.
Pada panggilan yang kemudian tersambung, suara Em terdengar lebih pelan dari ingatan Davina. Mereka saling menyapa, terdiam, lalu tertawa karena tidak tahu siapa lebih dahulu ingin bertanya. Em mengatakan masa pemulihan masih berjalan dan waktu memegang ponsel belum selalu panjang. Ada bantuan dari orang rumah, tetapi pesan lama tetap ingin dibaca sendiri bila sudah sanggup.
'Aku sempat takut kamu mengira aku mengabaikan,' kata Em.
'Aku tahu kamu sedang pulih.'
'Tahu tidak selalu membuat orang tidak sedih.'
Davina menunduk, mengakui ia memang beberapa kali merasa sangat sendirian. Ia tidak menjadikan pengakuan itu keluhan agar Em menjawab lebih cepat. Ia hanya mengatakan senang mendengar suara yang tidak memanggilnya Nyonya Mahawira atau menanyakan apakah bulan madu sudah memenuhi semua harapan keluarga.
'Kalau begitu, bagaimana suamimu yang katanya tidak akan jatuh cinta itu?'
'Masih menyebalkan. Tapi ternyata bisa tersandung sendal sendiri.'
Em tertawa, terbatuk sebentar, lalu meminta ia menerangkan dari awal yang penting saja. Davina menceritakan pernyataan sebelum menikah, perubahan suasana di pulau, serta beberapa hal yang sempat membuatnya takut. Ia tidak memberi rincian intim yang tidak ingin dibagikan. Em mendengar sampai selesai sebelum bertanya apakah ia sekarang merasa aman tinggal bersama Devon.
Davina memerlukan waktu menjawab. Ada malam ketika tidak. Ada pagi ketika ia ingin menjauh. Dua malam lalu ia mengatakan berhenti dan Devon benar berhenti, kemudian memakai sofa tanpa membuatnya membayar penolakan dengan pertengkaran. Ia mengatakan itu, lalu menambahkan bahwa satu malam tidak membuat ia lupa yang lain.
'Kamu punya tempat pergi kalau ingin sendiri?' tanya Em.
'Rumah orangtuaku. Aku juga punya akses uang sendiri. Aku perlu lebih jujur kepada mereka kalau ada yang membuatku takut.'
Em mengatakan senang mendengar ia mempunyai pilihan yang dapat dipakai. Tidak ada perintah segera memaafkan atau mengakhiri pernikahan melalui satu panggilan. Davina bertanya apakah sahabatnya menganggap ia bodoh karena masih menyukai beberapa bagian Devon. Em mengatakan rasa tertarik tidak perlu dibohongi agar seseorang berhak menolak perlakuan yang menyakitkan.
'Aku dulu mau membuat dia jatuh cinta lalu membalasnya,' ujar Davina.
'Kamu masih mau?'
'Kemarin aku bilang belum tahu. Jujur, aku mulai takut kalau itu betul-betul terjadi dan aku malah ingin tinggal.'
Em tidak tertawa pada bagian itu. Em menanyakan apa yang diinginkan Davina bila tidak ada orang yang menilai ia menang atau kalah. Davina menatap laut cukup lama. Ia ingin suami yang menyukainya tanpa perlu dibuat takut kehilangan lebih dahulu. Ia ingin dapat pergi bersama teman, belajar bekerja, dan pulang ke tempat yang tidak membuat ia harus berperan sebagai hadiah setelah Devon berhasil melewati hari sibuk.
'Itu yang perlu kamu cari tahu bisa dibangun atau tidak,' kata Em. 'Bukan berapa lama kamu sanggup membuatnya penasaran.'
Davina kemudian menanyakan apa yang membuat hari-hari pemulihan lebih mudah dijalani. Em mengatakan sedang mencari bacaan ringan, tetapi bosan bila semua orang hanya mengirim kalimat agar tetap kuat. Kadang yang ingin dibicarakan justru makanan yang tidak enak atau acara televisi yang alurnya tidak masuk akal. Davina tertawa, mengakui ia hampir melakukan hal yang sama dengan pesan panjang mengenai semangat. Mereka menyebut satu acara yang pernah ditonton sebelum pernikahan, lalu berdebat mengenai tokoh yang selalu kembali kepada orang yang sama. Em mengingatkan Davina tidak perlu mencari semua jawaban hidup dari tayangan tersebut. Davina berjanji akan mengirim komentar yang jauh lebih tidak berguna ketika ada episode baru, dan keduanya kembali tertawa.
Panggilan mereka berhenti sebelum kelelahan Em terlalu berat. Davina menanyakan apakah boleh mengirim kabar sederhana beberapa kali seminggu tanpa mengharapkan jawaban segera. Em menyetujui, lalu meminta foto pemandangan yang tidak melulu memperlihatkan suami tampan. Davina tertawa, mengatakan banyak foto lautnya miring, dan berjanji memilih satu yang paling dapat dilihat tanpa membuat pusing.
Sesudah sambungan terputus, ia duduk beberapa menit dengan telepon di pangkuan. Devon datang membawa buku yang tadi tertinggal di ruang tengah, menaruh pada meja, lalu menanyakan apakah sahabatnya membaik. Davina menjawab masih pulih, tetapi sudah bisa berbicara sebentar. Ia tidak memberikan keadaan medis yang tidak ingin dibagikan Em, dan Devon tidak mencoba mencari melalui orang lain.
'Kamu kelihatan lebih lega,' katanya.
'Aku punya kehidupan sebelum jadi istrimu.'
'Aku mulai mendapat gambaran.'
Davina menatapnya, lalu tertawa ketika Devon duduk dengan hati-hati agar tidak menyenggol gelas seperti pada dinner di pantai. Mereka membicarakan rencana keluar terakhir sebelum pulang. Devon mengusulkan sesuatu yang memerlukan jadwal terlalu padat, Davina menolak setengah, dan akhirnya mereka memilih makan siang serta berjalan tanpa mengejar semua kegiatan yang belum dicoba.
Menjelang berangkat, laporan lengkap masuk. Kesimpulan sesuai kabar awal: arsip lama bukan perjanjian berlaku, usulan direktur perlu dijawab pada rapat gabungan hari kesepuluh. Davina menyimpan pertanyaan untuk penasihat, Devon mengonfirmasi tiket hari kedelapan tetap, lalu keduanya menutup perangkat. Di pintu vila, Davina meminta ia tidak berjalan terlalu cepat. Devon mengulurkan tangan, menunggu, dan tersenyum ketika Davina memilih meraihnya sebelum mereka turun menuju jalan kayu.