Pak Danajaya menjawab ketika Davina baru selesai membawa piring sarapannya ke baki. Ayahnya langsung bertanya apakah mereka sudah mempunyai kabar dari Mahawira. Davina menatap Devon di seberang teras, kemudian mengatakan ia ingin mengetahui apakah benar mereka perlu mengakhiri perjalanan lebih awal.
'Belum ada yang harus kalian tanda tangani hari ini,' kata ayahnya. 'Papa sedang membandingkan dokumen. Jangan pulang hanya karena ada orang membuka arsip yang berbeda.'
Davina mengembuskan napas. Ia bertanya mengenai saham atas namanya yang ikut disebut dalam pembicaraan keluarga sebelum pernikahan. Ayahnya mengatakan hak itu tidak dapat dianggap telah diserahkan kepada Devon karena mereka menikah. Ia boleh memperoleh penjelasan dari tim, termasuk bagian yang belum dipahaminya. Davina mengaku belum pernah membaca seluruh lampiran sampai benar-benar mengerti.
'Kalau begitu mulai dari pertanyaan. Jangan pura-pura paham hanya karena takut dianggap anak kecil.'
Ia tertawa pelan. Nasihat tersebut lebih mudah diucapkan daripada dilakukan ketika orang-orang di sekitar dapat memakai istilah panjang tanpa berhenti. Davina meminta salinan yang memang boleh diterimanya sebagai pemilik saham. Ayahnya akan menghubungkannya dengan penasihat, bukan menyiapkan jawaban yang tinggal disetujui.
Setelah telepon ditutup, Devon menunjukkan pesan tim hukum yang masuk. Ada dua persoalan berbeda. Salinan tentang kendali berasal dari rancangan lama yang tersimpan bersama arsip berlaku. Sementara itu, notula rapat terkini sungguh mencatat usulan seorang direktur agar hak persetujuan Danajaya atas keputusan tertentu dikurangi. Kesalahan salinan bukan bukti rencana tersembunyi, tetapi usulan baru tetap perlu ditanggapi.
'Jadi kita tidak perlu mencari siapa yang merusak dokumen,' kata Davina.
'Tidak ada dasar untuk mengatakan dirusak. Kita perlu memastikan dokumen mana yang berlaku dan apa yang sungguh akan dibahas.'
Ia membaca halaman pengantar, menandai satu istilah, lalu bertanya apa yang dimaksud dengan keputusan strategis. Devon memberikan contoh penjualan aset besar dan perubahan kepemilikan. Davina menanyakan apakah membeli kursi hotel termasuk bagian yang sama. Suaminya menjawab tidak selalu, tergantung nilai serta anggaran yang sudah disetujui. Mereka mencatat untuk penasihat agar contoh sederhana itu tidak ditukar menjadi tafsir mereka sendiri.
Sesudah hampir satu jam, Devon masih hendak membuka lampiran berikut. Davina menutup map yang dicetak petugas atas permintaan mereka dan mengatakan ia perlu berhenti membaca. Ia tidak ingin datang ke Jakarta seolah tiba-tiba sudah menjadi orang paling mengerti merger hanya karena dapat mengulang kata hak veto.
'Aku juga mulai membaca kalimat yang sama,' Devon mengaku.
'Tapi kamu tampak sangat sibuk. Meyakinkan sekali.'
Ia tertawa, menutup laptop, lalu menanyakan apakah Davina masih ingin keluar. Mereka memilih berjalan ke sisi pantai yang belum sempat dilihat. Davina memakai alas kaki yang lebih nyaman, mengambil topi sendiri, dan meminjamkan satu kepada Devon setelah melihat ia lupa. Pria itu mengenakan tanpa mengeluh bentuknya kurang sesuai dengan penampilan.
Di luar, mereka berpapasan dengan petugas yang pernah menolak permintaan Devon menutup seluruh jadwal snorkeling. Devon menyapa lebih dahulu dan mengatakan kegiatan kemarin menyenangkan. Davina melihat petugas tampak lega. Ia menunggu sampai mereka cukup jauh sebelum menanyakan apakah rencana membeli resor untuk memberi pelajaran masih berlaku.
'Kamu tahu?'
'Mukamu waktu ditolak seperti ingin memecat laut.'
Devon tertawa, kemudian mengaku ia memang sempat berpikir menggunakan uang agar semua mengikuti kehendaknya. Ia belum membeli apa pun dan tidak akan meminta petugas dihukum karena mempertahankan pesanan orang lain. Davina tidak mengubah jawaban itu menjadi ucapan bahwa suaminya sudah sempurna. Ia hanya mengatakan ia senang tidak perlu pindah resor sebelum berhasil mencoba kegiatan yang lain.
Mereka berhenti pada tempat yang tidak terlalu ramai. Devon melepas alas kaki setelah pasir masuk, lalu kehilangan keseimbangan ketika mengangkat satu kaki terlalu tinggi. Davina mengulurkan tangan. Ia menerima, tertawa pada dirinya sendiri, dan membersihkan telapak sebelum berjalan lagi. Tidak semua bantuan perlu menjadi kesempatan memperlihatkan siapa lebih kuat.
Devon kemudian menawarkan memotret Davina dengan laut di belakang. Ia mengangguk, memilih tempat berdiri, lalu meminta diperlihatkan hasilnya. Pada gambar pertama matanya tertutup. Pada yang kedua sebagian kepalanya terpotong. Davina menatap Devon dengan wajah dibuat serius, menanyakan apakah ini cara suami kaya memperingati bulan madu. Pria itu merebut kembali ponsel untuk mencoba tanpa menjawab. Percobaan ketiga cukup baik, tetapi Davina meminta dua gambar gagal tetap dikirim kepadanya. Ia ingin menunjukkan kepada ibunya bahwa fotografer yang dibawa ke pulau ternyata masih memerlukan latihan.
'Aku kesal dijodohkan,' ujar Devon setelah beberapa saat. 'Aku memperlakukanmu seperti kamu yang menyusun seluruh hidupku tanpa bertanya.'
Davina memandangnya. 'Aku juga memilih ikut. Aku pikir menikah denganmu bisa menyenangkan kalau kita mau mencoba. Ternyata kamu sudah lebih dulu memutuskan tidak akan ada cinta.'
'Aku ingin memastikan tidak ada yang dapat mengatakan aku kalah oleh perintah keluarga.'
'Jadi aku yang harus dibuat kalah.'
Devon tidak menjawab cepat. Mereka meneruskan beberapa langkah sebelum ia mengangguk. Davina menatap air yang datang lalu surut, mendengar penjelasan tersebut tanpa merasa perlu membenarkan. Ia mengatakan ia pun datang dengan rencana membuat Devon jatuh cinta lalu membalas sakit hati. Pria itu menoleh begitu mendadak hingga topinya hampir terlepas.
'Sekarang?'
'Sekarang aku belum tahu apa yang ingin kulakukan kalau kamu sungguh jatuh cinta.'
Jawaban itu membuat keduanya diam, lalu Devon tersenyum tipis. Davina memalingkan muka sebelum rasa hangat membuatnya memberi jawaban yang belum dimiliki. Mereka membicarakan makanan siang dan kembali ketika panas mulai mengganggu. Tidak ada tangan yang menarik ketika Davina berhenti memotret pemandangan. Devon menunggu di tempat teduh dan mengeluh ia membuat laut terlihat miring.
Menjelang sore, penasihat mengonfirmasi rapat gabungan dapat dilaksanakan dua hari setelah jadwal kepulangan mereka. Pembahasan internal yang direncanakan lebih awal tidak akan mengambil keputusan mengganti hak keluarga tanpa Danajaya. Laporan pembandingan lengkap akan diterima besok. Devon dan Davina mengirim jawaban bahwa mereka tetap pulang pada hari kedelapan sesuai tiket. Setelah itu Davina memilih foto paling tidak miring, mengirim kepada ibunya, dan menanyakan makanan apa yang sebaiknya disiapkan jika ia mampir setelah sampai Jakarta.