'Sebentar, Dev. Stop.'
Kata itu akhirnya keluar sebelum Davina kehilangan keberanian. Devon berhenti, mengangkat wajah dengan alis berkerut. Ia sempat melihat ke bahu tempat tangan Davina menahannya, lalu bergeser menjauh. Ada napas yang masih belum teratur dan kekecewaan yang tidak cukup cepat disembunyikan, tetapi tangannya tidak kembali meraih.
Davina duduk, merapikan pakaian, dan menarik selimut ke pangkuan. Ia mendengar Devon mengembuskan napas panjang di sisi lain ranjang. Untuk beberapa detik ia hampir mengatakan tidak apa-apa diteruskan, hanya agar suara itu tidak membuatnya merasa telah merusak malam. Kemudian ia mengingat pembicaraan di meja makan.
'Aku menikmati tadi,' katanya. 'Bukan berarti aku sudah siap untuk semuanya.'
'Aku tahu. Aku tadi terlalu cepat menyimpulkan.'
Devon menatap lantai. Davina dapat melihat ia sedang berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan dengan tangan yang kini diam di lutut. Tidak ada gurauan bahwa istrinya sengaja menyiksa. Ketika ia berdiri, Davina mengikuti gerakannya dengan mata sebelum menyadari tubuhnya sendiri masih menunggu apakah penolakan akan menimbulkan pertengkaran.
'Aku mengambil air,' kata Devon. 'Kamu mau?'
Ia mengangguk. Pria itu kembali membawa dua gelas, meletakkan satu di sisi yang mudah diraih, lalu mengambil kursi alih-alih duduk terlalu dekat. Davina minum sedikit. Suara gelas pada meja terdengar jelas dalam kamar yang beberapa saat sebelumnya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.
'Aku tidak meminta kamu mengaku cinta supaya malam ini bisa dilanjutkan,' ujarnya.
Devon mengangkat wajah. 'Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang belum dapat kujelaskan hanya untuk mendapatkan jawaban berbeda.'
'Kalau kamu masih merasa semua kebaikan ini hanya berlaku sampai kita pulang, aku perlu mengetahuinya.'
Pertanyaan itu membuat Devon diam lebih lama. Ia memandang pintu teras, kemudian kembali menatap Davina. 'Aku belum tahu apa yang kurasakan. Tapi aku tidak ingin pulang dan sengaja menjadi orang yang membuatmu takut lagi.'
Davina merasakan matanya panas. Itu bukan pengakuan yang pernah diimpikan sebelum pernikahan. Ia tetap senang Devon tidak memakai kata yang paling ingin didengarnya sebagai cara mengakhiri percakapan. Ia menanyakan apakah suaminya akan marah jika malam ini ia ingin tidur sendiri. Devon mengatakan ia akan memakai sofa, lalu memeriksa tempat menyimpan bantal tanpa menunggu Davina menawarkan menarik kembali permintaannya.
Ketika Devon mencapai pintu, Davina memanggil. Ia berbalik begitu cepat hingga hampir menjatuhkan bantal. Perempuan itu tertawa kecil, lalu mengatakan terima kasih sudah berhenti. Ia melihat sesuatu pada wajah Devon yang ingin menerima ucapan tersebut sebagai pujian besar. Pria itu menurunkan pandangan dan hanya menjawab selamat malam.
Davina tidak segera tidur. Ia masih tertarik, masih merasa malu, dan untuk pertama kalinya mulai mengakui ada sedih ketika membayangkan Devon benar-benar menjauh. Ia belum mengetahui mana yang berasal dari harapan, mana dari kebiasaan menjadikan suaminya lawan yang harus dibuat kalah. Malam itu ia tidak harus memilih satu nama untuk seluruh perasaan sebelum dapat beristirahat.
Ia membuka percakapan dengan Em dan menulis bahwa cerita tentang suaminya kini lebih rumit daripada lelucon yang semula hendak dikirim. Ada hari menyenangkan dan ada sesuatu yang masih membuatnya takut. Ia menghapus permintaan agar segera dibalas, mengganti dengan kabar bahwa ia berharap pemulihan berjalan baik. Setelah mengirim, ia meletakkan telepon dan memeriksa pintu kamar yang dapat ditutup sendiri. Di ruang lain terdengar Devon mencari posisi nyaman pada sofa. Davina tidak pergi untuk membantunya merasa lebih baik. Ia menarik selimut sampai bahu dan membiarkan malam berakhir tanpa pertandingan baru.
Pagi berikut, ia menemukan Devon di teras dengan rambut berantakan dan satu tangan memegang pinggang. Sofa vila yang terlihat indah ternyata tidak menjamin tidur nyaman untuk tubuhnya. Davina menahan tawa, gagal, lalu duduk pada kursi seberang.
'Jangan salahkan aku. Aku tidak mendesain sofanya.'
'Aku belum menyalahkan siapa-siapa.'
'Wajahmu sudah membuat laporan panjang.'
Devon tertawa. Ketika sarapan datang, ia memeriksa kopi dan mengeluh terlalu pahit. Davina menunjukkan wadah gula yang sejak tadi berada di dekat tangan. Ia menatapnya beberapa detik sebelum mengambil, membuat keduanya kembali tertawa. Pagi itu lebih canggung daripada makan malam, tetapi Davina tidak perlu melupakan penolakannya untuk ikut menikmati lelucon.
Ponsel Devon berbunyi sebelum hidangan habis. Ia melihat nama ayahnya, lalu mengatakan perlu menjawab. Davina meneruskan makan sampai mendengar sebutan dokumen perusahaan serta kepulangan. Raut Devon berubah seperti saat menerima pesan sebelum mereka masuk kamar. Kali ini ia tidak berusaha menutupinya dengan menarik perhatian Davina ke hal lain.
Setelah panggilan selesai, ia menjelaskan ayahnya meminta mereka kembali lebih cepat. Ada salinan dokumen mengenai kendali dalam perusahaan gabungan yang berbeda dari kesepakatan keluarga. Pertemuan internal dijadwalkan tiga hari lagi. Tim hukum sedang memeriksa, dan belum ada perubahan baru yang disahkan.
'Jadi pesan semalam itu tentang ini?'
'Sekretarisku bilang ada dokumen yang perlu kuperiksa. Aku baru melihat judul dan pengantarnya. Aku cemas, lalu mengira bisa menunda sampai makan malam selesai.'
'Kita sudah sampai vila waktu itu.'
Devon meringis. 'Ya. Aku juga tidak ingin membicarakannya dan mencari pengalihan.'
Davina meletakkan garpu. Ia tidak ingin setiap pesan kantor diperlihatkan kepadanya, tetapi persoalan yang melibatkan saham keluarganya bukan urusan Devon seorang. Ia mengatakan itu, lalu menanyakan apa yang sudah diketahui mengenai asal salinan. Jawaban suaminya pendek: belum cukup untuk menuduh seseorang. Ia menunggu penjelasan tim hukum.
'Kalau begitu jangan langsung mengubah tiket,' kata Davina. 'Aku akan bertanya kepada Papa juga. Kita tahu dulu apa yang mereka perlukan.'
Devon mengangguk dan menaruh kembali telepon. Ia mengambil makanan yang belum selesai, kemudian bertanya apakah kopi Davina juga terlalu pahit. Perempuan itu menunjukkan gelasnya yang bukan kopi. Ia baru menyadari kesalahan, tertawa kecil, dan mengaku pikirannya sudah kembali ke Jakarta. Davina ikut tersenyum, lalu menanyakan kapan laporan dapat diminta. Liburan mereka belum berakhir hanya karena telepon berbunyi, dan pernikahan mereka juga tidak dapat dipahami hanya dari apa yang terjadi di atas ranjang semalam.