Pagi itu Akhza berangkat ke kantor seperti biasa. Ia tampak lelah setelah pulang larut malam sebelumnya, tetapi tidak banyak bercerita. Aku bertanya apakah rapat kemarin berjalan lancar. Ia menjawab bahwa ada beberapa urusan yang perlu dibereskan dan ia mungkin akan pulang sedikit terlambat lagi.
Aku ingin bertanya lebih banyak, tetapi ia sudah harus pergi. Aku hanya mengingatkannya agar makan siang dan tidak minum kopi berlebihan karena GERD-nya. Ia tersenyum tipis dan berjanji akan menjaga diri.
Menjelang siang, Akhza menelepon dari kantor. Suaranya terdengar tegang. Atasannya memanggilnya karena kredit nasabah yang ia setujui mengalami kemacetan. Ia harus memeriksa kembali berkas dan menjelaskan proses persetujuan. Aku tahu ia bekerja sebagai manajer cabang dan keputusan kredit membawa tanggung jawab besar.
“Apa kamu yakin semua berkasnya lengkap?” tanyaku.
“Aku sudah menyiapkan dokumennya. Tapi karena kreditnya macet, kantor akan meninjau ulang keputusan itu.”
Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya bertanya apakah ia perlu bantuan. Ia mengatakan belum, tetapi harus menyelesaikan laporan dan mungkin ada rapat lanjutan. Aku memahami ia tidak bisa pulang tepat waktu.
“Jangan lupa makan, Za. Kalau rapatnya panjang, cari waktu sebentar.”
“Iya. Kamu juga istirahat.”
Kami menutup telepon. Aku merasa khawatir, tetapi aku tidak tahu detail nasabah atau berkas yang sedang diperiksa. Aku tidak ingin memaksanya menceritakan perkara kantor lewat telepon. Ia akan menjelaskan jika sudah siap.
Malamnya Akhza pulang setelah waktu makan. Makanan di meja sudah dingin. Ini pertama kalinya sejak kami menikah ia melewatkan makan malam tanpa kabar pasti kapan selesai. Aku tidak langsung bertanya kenapa ia terlambat. Aku menghangatkan makanan, lalu menyiapkan piring untuknya.
“Kamu belum makan?” tanyanya.
“Aku menunggu kamu. Tapi nggak apa-apa, kita makan sekarang.”
Ia terlihat bersalah. Setelah duduk, ia meminta maaf karena baru pulang. Aku menjawab bahwa aku mengerti ia sedang menghadapi masalah. Kami makan beberapa suap dalam diam. Akhza tampak terus memikirkan sesuatu.
Setelah selesai, ia menceritakan bahwa rapat kemarin di rumah bersama Septa, Devi, Akmal, dan Hera sebenarnya berkaitan dengan pengajuan pembukaan kantor kas baru. Selama ini ia berjanji akan menjelaskan kalau semuanya sudah pasti. Sekarang rencana itu dibekukan karena kredit nasabah yang macet tadi menimbulkan peninjauan terhadap pengajuan tersebut.
Akhza menjelaskan bahwa keputusan kredit itu dibuat setelah berkas nasabah melalui beberapa tahap pemeriksaan. Namun sekarang pembayaran macet, sehingga kantor ingin memastikan apakah seluruh prosedur sudah dipenuhi dan apakah ada informasi yang terlewat. Ia tidak menyebut nama nasabah atau rincian pribadi. Ia hanya menjelaskan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
“Kalau kredit macet, apakah semua orang di rapat itu ikut diperiksa?” tanyaku.
“Tim peninjau akan melihat prosesnya. Aku harus menjawab pertanyaan tentang persetujuan yang kuberikan. Ini belum berarti mereka memutuskan aku bersalah.”
Aku mengangguk. Aku tahu tekanan itu tidak ringan. Ia menyesal belum menjelaskan rapat di rumah, tetapi ia memang berjanji menunggu sampai ada kepastian. Kini rencana kantor kas baru dibekukan sementara, dan rapat rahasia itu tidak lagi bisa ia simpan hanya sebagai urusan yang belum final.
Ia mengatakan bahwa Septa, Devi, Akmal, dan Hera hadir karena masing-masing memiliki tugas dalam pengajuan kantor kas tersebut. Rapat di rumah kami berlangsung karena jadwal kantor padat dan mereka perlu membahas dokumen tanpa diketahui pegawai lain sebelum proposal diajukan. Akhza tidak memberikan rincian nasabah, hanya menjelaskan konteks rapat dan mengapa ia pulang terlambat.
Aku mendengarkan tanpa menyela. Aku baru tahu rapat itu menyangkut proyek sebesar itu. Ia mengatakan ia tidak berniat menyembunyikan hal tersebut dariku; ia menunggu kepastian dan tidak ingin membuatku khawatir sebelum ada keputusan.
“Aku seharusnya memberitahumu bahwa aku sedang menunggu hasil rapat,” katanya. “Aku terlalu sibuk memikirkan kredit itu dan akhirnya pulang terlambat.”
“Aku mengerti kamu punya alasan. Tapi aku khawatir karena kamu biasanya memberi kabar.”
“Aku minta maaf. Aku harus lebih jelas kalau ada perubahan.”
Aku menerima permintaan maafnya. Aku tahu ia juga sedang mengalami tekanan di kantor. Kami membicarakan secara umum bagaimana peninjauan kredit bisa berdampak pada pembukaan kantor kas. Akhza tidak menyebut nama nasabah, dan aku tidak meminta detail pribadi.
“Kalau proyeknya dibekukan, apa kamu bisa kena sanksi?” tanyaku.
“Belum tahu. Mereka masih memeriksa berkas. Aku harus menjelaskan keputusan yang kuambil dan memastikan semua prosedur diikuti.”
Aku menyentuh tangannya sebentar. “Jangan hadapi sendirian. Kalau perlu pulang terlambat, kabari aku.”
Ia mengangguk. Setelah itu kami membereskan meja bersama. Aku tidak membahas lagi soal Hera atau perempuan bergaun bunga. Aku ingin memberi Akhza ruang untuk menjelaskan urusan kantor tanpa mencampur pembicaraan lain.
Malam itu kami tidur lebih larut. Aku masih memikirkan toko yang dibekukan dan usaha GO MM yang kehilangan sebagian modal. Kini Akhza juga menghadapi masalah kredit. Banyak hal yang belum pasti, tetapi kami setidaknya mulai membicarakannya secara terbuka. Aku berharap hari berikutnya memberi sedikit kejelasan.
Aku bertanya apakah ada kemungkinan ia harus menghadapi pemeriksaan disiplin. Akhza menjawab belum ada keputusan semacam itu. Ia harus menyampaikan dokumen dan menjawab pertanyaan atasan, lalu menunggu hasil pemeriksaan internal. Aku mendengarkan dan tidak menawarkan penilaian tentang prosedur yang tidak kupahami.
“Aku cuma bisa mendukungmu,” kataku. “Kalau kamu pulang terlambat, kabari aku. Aku tidak ingin mengira ada sesuatu yang terjadi.”
“Iya. Aku akan lebih jelas.”
Kami tidak membicarakan bunga atau perempuan di lobi malam itu. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada dua macam ketidakpastian yang berjalan bersamaan di rumah kami: gangguan yang belum bisa kujelaskan dan urusan pekerjaan Akhza yang belum selesai. Aku tidak ingin membuat keduanya saling bercampur sampai kami tidak tahu harus mulai dari mana.
Aku membersihkan meja dan menyimpan sisa makanan. Akhza membantu mengeringkan piring, meskipun aku tahu pikirannya masih di kantor. Sebelum tidur, ia meminta maaf sekali lagi karena melewatkan makan malam. Aku mengatakan aku menerima permintaan maafnya dan berharap ia mendapat waktu untuk makan siang besok.