Hari berikutnya aku bangun dengan kebiasaan membuka akun toko. Begitu ingat bahwa akun masih dibekukan, aku menutup laptop lagi. Tidak ada pesanan baru yang masuk, dan pemasukan harian berhenti. Aku memeriksa notifikasi secara berkala, tetapi status peninjauan tidak berubah.
Aku mencoba memakai waktu untuk memeriksa stok dan menghitung biaya rumah tangga. Pengeluaran rutin tetap berjalan, termasuk listrik, kebutuhan dapur, dan biaya perawatan toko. GO MM juga belum jelas karena pemasok kain belum mengembalikan seluruh uang muka. Aku membuat daftar pembayaran yang tidak bisa ditunda dan pengeluaran yang masih bisa dikurangi.
Akhza menelepon saat jeda kerjanya. Ia menanyakan apakah aku sudah menerima kabar dari marketplace. Aku menjawab belum. Ia tidak mencoba memberi janji bahwa masalah akan segera selesai. Ia hanya mengingatkanku agar tidak menghabiskan dana darurat tanpa berdiskusi dengannya.
“Aku nggak mau bikin kamu makin terbebani,” kataku.
“Kita sudah sepakat dana itu untuk keadaan seperti ini. Kita lihat dulu berapa lama prosesnya. Jangan tanggung semuanya sendiri.”
Aku mengucapkan terima kasih. Aku belum perlu mencairkan dana baru, tetapi aku merasa lebih tenang mengetahui kami bisa membicarakan pilihan bersama. Setelah telepon berakhir, aku mengirim informasi kepada Murti bahwa belum ada kabar. Ia menjawab lewat panggilan singkat dan mengatakan akan menunda pembelian kain alternatif sampai kami tahu jumlah modal yang tersisa.
Aku kemudian menelepon staf gudang untuk memeriksa stok lama. Kami menemukan beberapa pakaian dari batch yang dilaporkan, tetapi tidak semuanya memiliki foto sebelum dikirim. Staf itu mengatakan pakaian yang tersisa akan dipisahkan. Aku meminta ia mencatat jumlah dan kondisi barang secara terperinci agar kami punya pembanding jika diminta.
Aku kemudian meminta staf gudang membuat daftar produk yang masih tersedia dan menandai mana yang berasal dari batch lama. Kami menghindari pengiriman dari batch yang dilaporkan, tetapi tidak membuang barang sebelum ada pemeriksaan. Aku ingin tahu apakah keluhan itu berasal dari satu jenis pakaian atau beberapa model. Informasi itu penting agar pelanggan lain tidak menerima barang yang sama jika memang ada masalah.
Aku juga mengecek kewajiban pembayaran toko. Ada tagihan iklan yang akan jatuh tempo dan biaya penyimpanan stok. Aku menuliskan jumlahnya di kertas, lalu membandingkannya dengan saldo yang masih bisa digunakan. Aku tidak mengambil keputusan untuk menarik dana darurat. Akhza dan aku harus menyetujui hal itu bersama.
Menjelang siang aku kembali masuk ke akun penjual melalui ponsel. Statusnya tetap dibekukan. Aku tidak menelepon layanan bantuan lagi karena petugas sudah menjelaskan prosesnya dan pengulangan panggilan tidak akan mengubah keputusan. Aku berusaha memberi tim peninjau waktu untuk membaca dokumen.
Menjelang siang, aku mencoba mengajukan keberatan tambahan melalui pusat bantuan. Sistem meminta dokumen yang menunjukkan proses pemeriksaan produk. Aku mengunggah foto yang tersimpan dan memberikan penjelasan bahwa sebagian dokumen batch lama sudah tidak lengkap. Aku tidak tahu apakah tim peninjau akan menganggapnya cukup.
Lengan kananku terasa nyeri saat memegang ponsel terlalu lama. Aku menaruhnya di meja dan mengistirahatkan tangan. Hasil pemeriksaan dokter masih kusimpan di laci. Aku belum menyetujui operasi dan belum membuat janji baru. Akhza tidak memaksaku membicarakannya setelah kejadian kemarin, tetapi aku tahu masalah itu belum selesai.
Sore hari aku berusaha menghubungi reseller lama untuk meminta nomor pesanan dan foto yang ia laporkan. Panggilanku tidak dijawab. Aku tidak meninggalkan pesan panjang atau menuduhnya. Aku hanya berniat mendapatkan informasi agar bisa menanggapi laporan secara tepat. Jika ia tidak mau bicara, aku tetap harus menunggu proses resmi marketplace.
Di rumah, aku membuka lemari dan memastikan kotak akar masih tertutup. Aku tidak ingin membukanya lagi. Kejadian di teras produksi dan hilangnya akar masih membuatku takut, tetapi aku berusaha tidak mencampur semua persoalan sekaligus. Pembekuan toko mempunyai jalur yang bisa kuikuti: mengajukan bukti dan menunggu penilaian. Aku akan menangani hal itu berdasarkan dokumen, bukan dugaan.
Akhza pulang sekitar waktu biasanya. Ia mengatakan rapat di kantor cukup padat, tetapi tidak menjelaskan lebih jauh. Aku menceritakan bahwa status toko belum berubah. Ia membantu memastikan formulir keberatanku tersimpan, lalu menyarankan agar aku menutup laptop dan beristirahat. Kami makan malam bersama seperti biasa.
Saat makan, ia tampak beberapa kali memikirkan sesuatu. Aku bertanya apakah ada masalah di kantor. Ia menjawab ada berkas yang sedang ditinjau, tetapi belum ada keputusan. Ia berjanji akan menjelaskan jika sudah ada kepastian. Aku tidak mendesaknya. Aku tahu ia sedang berusaha mengurus pekerjaannya tanpa membuatku cemas.
Setelah makan malam, aku menceritakan kepada Akhza rencana untuk menahan pembelian kain GO MM sampai kami tahu sisa dana. Ia setuju, lalu mengusulkan agar kami duduk bersama menghitung kebutuhan rumah dan usaha pada akhir pekan. Aku merasa lega karena ia tidak menyuruhku mengambil keputusan cepat. Kami sama-sama perlu tahu keadaan sebenarnya sebelum memakai dana darurat.
Aku juga bertanya apakah berkas yang sedang ditinjau di kantornya menyangkut hal serius. Akhza mengatakan ia belum bisa menjelaskan sebelum ada keputusan. Aku tidak mendesaknya. Ia pernah berjanji akan menceritakan rapat rahasia itu kalau sudah pasti, dan aku memilih mempercayai janjinya.
Malam itu kami duduk sebentar di ruang tengah. Aku memeriksa ponsel sekali lagi, tetapi status toko tetap sama. Aku mematikan notifikasi agar tidak terus terkejut setiap layar menyala. Akhza menanyakan apakah aku bisa beristirahat. Aku menjawab akan mencoba. Kami lalu masuk kamar seperti biasa, tanpa menyelesaikan semua persoalan, tetapi setidaknya saling tahu apa yang sedang kami hadapi.
Sebelum tidur aku memastikan tidak ada pengeluaran otomatis yang bisa ditunda. Aku mencatat tagihan dan tanggal jatuh temponya agar tidak terlewat, lalu menutup buku anggaran. Besok aku akan kembali memeriksa status toko, tetapi malam ini aku mencoba beristirahat tanpa terus membuka dasbor.
Aku mematikan lampu dapur dan memeriksa pintu sebelum masuk kamar. Untuk saat ini, kami sudah sepakat menunggu kabar resmi.