Keesokan harinya aku mencoba menyusun kembali rutinitas rumah. Akhza berangkat kerja lebih pagi karena ingin menyiapkan dokumen untuk peninjauan kredit. Sebelum pergi ia mengatakan bahwa mungkin akan pulang sekitar pukul lima, tetapi bisa terlambat jika rapat berlanjut. Aku mengangguk dan meminta ia menelepon bila jadwal berubah.
Aku masih memikirkan pengakuan Hera tentang perempuan bergaun bunga yang pernah berdiri di belakangku dan menunggu Akhza di lobi. Setelah rapat rumah itu, Hera melihat sosok tersebut beberapa kali, sementara Akhza tidak melihat siapa pun. Aku sudah menceritakan hal itu kepada Akhza, tetapi kami belum sempat membahasnya lagi karena masalah kantor dan toko.
Aku ingin bertanya kepada Akhza apakah ada sesuatu yang ia ingat dari malam rapat. Aku juga ingin bertanya apakah ia pernah merasa ada orang yang menunggunya di lobi. Aku tidak berniat menuduh atau menguji, hanya ingin mendengar jawabannya langsung. Namun aku tahu pembicaraan itu perlu dilakukan saat ia tidak terlalu lelah.
Sepanjang siang aku menangani urusan rumah dan mencoba membuka akun marketplace. Status toko masih dalam peninjauan. Aku membaca kembali dokumen yang sudah kukirim dan memastikan salinannya tersimpan. Tidak ada permintaan baru. Aku menutup laptop agar tidak terus memeriksa layar.
Lengan kananku masih terasa nyeri. Aku mengganti plester pada lecet dan menjaga benjolan tetap tidak tertekan. Dokter belum memberi penanganan karena aku menolak operasi, tetapi Akhza sudah beberapa kali mengingatkan agar aku tidak mengabaikan perubahan. Aku belum menemukan keberanian untuk membuat janji lain.
Menjelang sore, aku menyiapkan teh dan duduk di ruang tengah dekat jendela yang menghadap pagar depan. Aku memilih tempat itu karena ingin melihat mobil Akhza masuk. Biasanya ia pulang sekitar pukul lima. Aku berencana menyambutnya, menanyakan kabar kantor, lalu membicarakan perempuan yang pernah dilihat Hera setelah suasana tenang.
Aku membuka buku catatan untuk mencari kembali kalimat yang pernah kutulis tentang pengakuan Hera. Aku tidak ingin mengubah detail atau menambah kesimpulan. Hera melihat gaun bermotif bunga, rambut panjang, dan sosok di belakangku. Ia tidak melihat wajahnya dengan jelas. Ia juga melihat perempuan itu menunggu di lobi, tetapi Akhza tidak pernah melihatnya.
Aku membaca catatan itu pelan-pelan. Ada sesuatu yang mengusikku: Hera mungkin salah mengira sosok itu menunggu Akhza, tetapi bisa juga ia benar. Aku tidak tahu. Aku memutuskan untuk tidak mengawali percakapan dengan pertanyaan yang menakutkan. Aku akan mengatakan bahwa aku masih memikirkan cerita Hera dan ingin Akhza menjelaskan apa yang ia alami.
Waktu bergerak lambat. Aku beberapa kali berjalan ke dapur untuk memeriksa makanan, lalu kembali ke kursi dekat jendela. Rumah terasa sunyi. Kotak akar masih tertutup di lemari. Aku tidak membukanya sejak pagi. Aku ingin memisahkan urusan itu dari pembicaraan dengan Akhza, setidaknya sampai kami mengetahui lebih banyak.
Aku mencoba mengisi waktu dengan membalas beberapa pertanyaan yang masih bisa dijawab dari akun toko, lalu menutupnya setelah pekerjaan selesai. Tidak ada cara untuk mempercepat peninjauan, jadi terus menatap layar hanya membuatku makin cemas. Aku menyiapkan makan malam lebih awal dan menyimpan sebagian makanan dalam wadah agar tidak cepat dingin.
Sesudah itu aku duduk di ruang tengah. Dari jendela aku bisa melihat bagian pagar dan jalan. Aku tidak sedang mengawasi siapa pun; hanya menunggu mobil Akhza seperti kebiasaan. Namun sejak Hera menceritakan perempuan bergaun bunga, aku menyadari betapa sering cerita itu kembali muncul dalam pikiranku.
Aku memikirkan apakah harus menanyakan langsung kepada Hera detail lain yang mungkin ia ingat. Namun ia sudah menjelaskan apa yang bisa dipastikan dan aku tidak ingin membuatnya merasa sedang diselidiki. Aku akan berbicara dengan Akhza lebih dulu. Ia tidak melihat sosok itu, tetapi mungkin ia ingat apakah ada kejadian ganjil di lobi atau saat rapat.
Aku memastikan pintu pagar terkunci dan lampu teras menyala. Aku tidak menaruh apa pun di luar dan tidak membuka kotak akar. Aku hanya ingin menyambut suamiku saat pulang, lalu bertanya apakah ia punya waktu untuk berbicara.
Menjelang pukul lima, terdengar suara kendaraan di jalan. Aku melihat keluar, tetapi mobil itu bukan milik Akhza. Aku menarik tirai kembali dan duduk. Aku tidak ingin menjadi terlalu gelisah hanya karena ia mungkin terlambat. Ia sudah mengatakan ada rapat di kantor.
Aku membuat keputusan untuk menunggu sampai ia pulang dan mendengarkan lebih dulu bagaimana harinya. Jika ia terlihat terlalu lelah, aku akan menunda pembicaraan. Aku tidak mau memaksanya menjawab ketika pikirannya sedang terbebani. Namun aku tetap merasa perlu membicarakan pengakuan Hera, karena sosok itu pernah muncul di sekitar suamiku.
Saat langit mulai berubah jingga, aku berdiri dan membawa cangkir teh ke teras. Aku hendak duduk di kursi dekat pintu sambil menunggu mobil Akhza. Pagar depan terlihat kosong. Aku menarik napas panjang dan berusaha menenangkan diri.
Aku mengambil buku catatan dari meja dan memasukkannya ke laci. Aku tidak ingin membaca ulang laporan Hera sampai diriku semakin tegang. Kalau Akhza pulang dan tampak siap bicara, aku akan menanyakan hal itu dengan tenang. Jika ia lelah, aku akan menunggu waktu lain.
Aku mematikan lampu ruang tengah, tetapi membiarkan lampu teras menyala. Dari balik kaca, pagar terlihat biasa saja. Tidak ada orang berdiri di sana dan tidak ada kendaraan yang berhenti. Aku kembali ke dapur untuk memeriksa makanan, lalu menata piring agar mudah dihangatkan nanti.
Ketika kembali ke teras, aku mendengar suara mobil dari kejauhan. Aku tidak langsung menganggapnya mobil Akhza. Aku menunggu sampai kendaraan itu mendekat dan bisa kulihat dari balik pagar. Sore itu terasa panjang, tetapi aku berusaha menahan diri agar tidak membayangkan sesuatu sebelum benar-benar melihatnya.
Aku menunggu di teras sambil mendengarkan suara lingkungan yang mulai sepi. Setiap kendaraan yang lewat kuperhatikan sebentar, lalu kubiarkan berlalu tanpa membuat dugaan.
Aku meletakkan cangkir di kursi dan menunggu mobilnya.