Pagi itu aku membuka akun Monic’s Fashionable untuk memeriksa pesanan seperti biasa. Dokumen kualitas yang kusimpan semalam masih berada di sisi laptop. Aku berniat memeriksa ulang faktur dan foto produk sebelum layanan marketplace meminta klarifikasi. Namun saat halaman penjual terbuka, sebuah pemberitahuan muncul di layar.
Akun tokoku dibekukan sementara karena laporan barang cacat dari reseller lama sedang ditinjau. Semua transaksi baru dihentikan sampai proses pemeriksaan selesai. Aku membaca pemberitahuan itu beberapa kali, berharap salah memahami kalimatnya. Pendapatan harian yang biasanya masuk dari pesanan langsung berhenti.
Aku memanggil staf gudang melalui telepon dan menjelaskan bahwa tidak ada pesanan baru yang boleh dikirim dari toko daring sebelum statusnya jelas. Ia bertanya apakah semua pesanan lama juga harus ditahan. Aku membaca ulang petunjuk platform dan menjelaskan bahwa pesanan yang sudah dibayar tetap perlu ditangani sesuai arahan, tetapi jangan membuat pengiriman baru yang tidak tercatat.
Setelah mengakhiri panggilan, aku menyiapkan folder khusus untuk semua dokumen yang berkaitan dengan laporan. Aku memasukkan pemberitahuan pembekuan, nomor pengaduan, formulir keberatan, daftar stok, dan bukti pembayaran. Aku membuat salinan cadangan agar tidak kehilangan data jika laptop bermasalah. Pekerjaan ini terdengar sederhana, tetapi setiap dokumen harus kuberi nama dan tanggal yang jelas.
Aku juga mencatat batas waktu pengajuan keberatan. Aku tidak ingin terlambat hanya karena terus memeriksa status tanpa mengerjakan yang diminta. Setelah semua file terkumpul, aku membaca ulang penjelasan yang kukirim. Aku menulisnya dengan hati-hati: ada stok lama yang dilaporkan, arsip sebagian tidak lengkap, dan aku bersedia bekerja sama untuk mengidentifikasi produk yang dimaksud. Aku tidak menuduh reseller menyalahgunakan fitur laporan.
Aku bertanya kepada staf gudang apakah ada pelanggan lain yang pernah mengeluhkan jahitan pada batch tersebut. Ia mengatakan laporan yang ia ingat hanya satu, tetapi ia akan memeriksa catatan lebih teliti. Aku memintanya tidak menghubungi pelanggan secara langsung sebelum kami tahu nomor transaksi yang tepat. Kami harus menghormati privasi mereka dan mengikuti prosedur platform.
Semua pekerjaan itu membuatku lelah. Aku berhenti sejenak, meminum air, lalu meregangkan jari tangan kiri. Lengan kanan kutopang di atas bantal. Aku belum tahu berapa lama pembekuan akan berlangsung, tetapi aku bisa memastikan bahwa jawabanku lengkap dan jujur.
Setelah panggilan berakhir, aku membuka pusat bantuan penjual. Ada instruksi untuk mengajukan keberatan dan mengirim bukti terkait kualitas barang. Batas waktunya tercantum jelas. Aku mengunduh daftar transaksi yang bisa diakses, mencatat nomor laporan, lalu mengumpulkan foto stok dari folder lama.
Aku menelepon layanan marketplace. Petugas menjelaskan bahwa pembekuan berlangsung selama laporan ditinjau. Ia tidak dapat membuka akun saat itu juga dan tidak bisa memastikan berapa lama prosesnya. Aku bertanya apakah semua produk dilaporkan atau hanya batch tertentu. Petugas mengatakan laporan menyebut beberapa produk dari stok lama, tetapi ia perlu memeriksa data sebelum memberi rincian lebih lanjut.
“Kalau saya mengirim bukti pemeriksaan dan faktur, apakah peninjauan bisa dipercepat?” tanyaku.
“Silakan kirim melalui formulir keberatan. Tim akan menilai dokumen yang Ibu lampirkan. Saya belum bisa menjanjikan keputusan.”
Aku berterima kasih dan mengakhiri panggilan. Jawaban itu memang tidak memberikan kepastian, tetapi setidaknya aku tahu langkah yang harus dilakukan. Aku mengisi formulir dengan informasi yang bisa kubuktikan, tidak menuduh reseller dan tidak menyembunyikan bahwa sebagian arsip lama tidak lengkap.
Lengan kananku mulai berdenyut setelah aku mengetik cukup lama. Aku berhenti dan mengistirahatkan tangan. Selama ini toko daring menjadi sumber pemasukan utamaku. GO MM belum mulai produksi, dan sebagian modalnya baru saja terancam setelah pemasok kain membatalkan pesanan. Kini pendapatan dari toko juga berhenti. Aku merasakan tekanan menumpuk, tetapi aku tetap mencoba menyelesaikan keberatan selangkah demi selangkah.
Aku menelepon Murti untuk memberi tahu bahwa marketplace membekukan toko. Ia mendengarkan dengan serius dan bertanya apakah laporan itu berhubungan dengan reseller yang dulu pernah bekerja sama denganku. Aku menjawab kemungkinan besar, tetapi belum ada bukti lengkap. Aku tidak ingin membuat kesimpulan sebelum tim peninjau menjelaskan produk mana yang dipermasalahkan.
“Ini berat, Mon,” kata Murti. “Kita baru saja kehilangan sebagian modal kain. Sekarang pemasukanmu juga berhenti.”
“Aku tahu. Aku sedang ajukan keberatan. Aku akan kirim dokumen yang ada.”
“Kalau ada yang bisa kubantu, bilang. Tapi jangan memaksakan tanganmu.”
Aku mengucapkan terima kasih. Kami sepakat tidak menambah pembelian bahan sampai situasi lebih jelas. Murti juga akan menunda keputusan pemasok alternatif agar kami tidak menghabiskan dana yang tersisa.
Siang hari aku membalas beberapa pertanyaan pelanggan yang masih bisa dijawab melalui kanal resmi. Aku tidak menulis pengumuman yang menyalahkan platform atau reseller. Aku hanya memastikan pesanan yang sudah berjalan tetap tercatat. Staf gudang mengirim daftar stok yang cocok dengan batch lama, lalu aku membandingkannya dengan catatan pengiriman.
Beberapa nomor tidak cocok karena pencatatan dahulu dilakukan secara manual. Aku menulis semua perbedaan dengan jujur dan menyiapkan penjelasan. Aku tidak ingin membuat data tampak lengkap jika memang ada bagian yang hilang. Setelah formulir keberatan kukirim, sistem memberikan tanda terima. Statusnya tetap ditinjau.
Sore menjelang malam, aku memberi tahu Akhza. Ia bertanya apakah akun benar-benar ditutup atau hanya ditangguhkan sementara. Aku mengatakan pembekuan berlaku selama pemeriksaan dan tidak ada pendapatan harian dari toko. Ia menyarankan agar aku menyimpan semua bukti dan tidak membuat keputusan keuangan besar sebelum mendapat jawaban.
Aku mengangguk. Aku berharap akun itu segera dibuka, tetapi tidak berani menjanjikan apa pun. Setelah panggilan berakhir, aku melihat layar yang kini hanya menampilkan daftar dokumen dan status peninjauan. Toko yang biasanya ramai terasa seolah mati. Aku tahu aku masih bisa bekerja di luar marketplace, tetapi malam itu aku belum tahu bagaimana mengganti pemasukan yang hilang.
Menjelang siang, aku menutup dasbor dan menulis kembali daftar langkah yang sudah kuselesaikan. Formulir terkirim, stok lama dipisahkan, dan dokumen cadangan tersimpan. Belum ada keputusan, tetapi setidaknya aku tidak hanya menunggu dengan cemas. Aku mengingatkan diri bahwa proses peninjauan membutuhkan waktu.