Aku memeriksa daftar pesanan Monic’s Fashionable sebelum membuka akun marketplace. Pesanan hari itu harus tetap diproses, meski pikiranku terbelah antara GO MM dan hasil pemeriksaan lengan. Aku meminta staf gudang memastikan setiap barang melalui pemeriksaan akhir sebelum dikirim. Aku tidak ingin ada pelanggan lain menerima produk yang jahitannya lepas.
Aku mengumpulkan salinan faktur dan foto produk yang dulu dipakai untuk iklan. Beberapa gambar tersimpan di komputer, tetapi sebagian berada di ponsel lama. Aku menyalin dokumen yang ditemukan ke satu folder khusus agar mudah dikirim jika diminta. Aku juga meminta staf gudang memeriksa apakah masih ada contoh dari batch yang dilaporkan.
Staf itu mengatakan ada beberapa potong stok lama yang belum terjual. Aku memintanya memisahkan barang tersebut sementara dan tidak mengirimkannya sampai pemeriksaan selesai. Ini bukan berarti aku mengakui semua produk cacat; aku hanya ingin memastikan barang tersisa tidak menambah keluhan.
Aku menulis kronologi hubungan dengan reseller secara netral: tanggal pemesanan, jumlah barang, tanggal pengiriman, dan kapan kerja sama berhenti. Aku tidak memasukkan pendapat pribadi tentang keterlambatan pembayarannya. Laporan kualitas harus dijawab dengan data produk, bukan dengan pertengkaran lama.
Ketika aku memeriksa dasbor lagi, toko masih menerima pesanan. Aku bisa melanjutkan pekerjaan sambil menunggu permintaan informasi lebih lanjut. Aku tahu keadaan bisa berubah, tetapi aku tidak akan membuat pengumuman atau membatalkan pesanan tanpa instruksi resmi.
Aku lalu mencari arsip stok lama di komputer. Beberapa nomor batch tercatat lengkap, sementara sebagian lagi hanya menunjukkan tanggal pengiriman. Pencatatan waktu itu memang dilakukan oleh staf berbeda dan tidak semua foto pemeriksaan tersimpan. Aku mencatat kekurangan arsip itu sebagai hal yang perlu diperbaiki, bukan alasan untuk mengabaikan laporan reseller.
Saat reseller menelepon, aku juga memikirkan hubungan kami yang berakhir kurang baik. Ia pernah terlambat membayar dan beberapa barang kembali tanpa keterangan rinci. Namun itu tidak membuktikan bahwa komplainnya palsu. Aku harus memeriksa data dengan kepala dingin. Kalau memang ada kesalahan dari pihakku, aku perlu tahu agar bisa memperbaikinya.
Keesokan harinya aku membantu Murti membandingkan beberapa pilihan kain dari jarak jauh. Ia mengirimkan foto melalui panggilan video dan menyebutkan harga, ketersediaan, serta waktu pengiriman masing-masing pemasok. Aku mencatat informasinya. Tidak ada pilihan yang benar-benar sama dengan kain pertama, tetapi dua jenis tampak cukup mendekati.
Kami belum memutuskan untuk membeli. Murti ingin menghitung ulang modal setelah sebagian uang muka hilang. Aku setuju. Jika kami membeli kain pengganti tanpa meninjau seluruh anggaran, risiko kekurangan dana akan semakin besar. Aku juga tidak ingin pekerja menunggu tanpa kepastian.
“Produksi mungkin mundur,” kata Murti. “Aku tahu ini mengecewakan, tapi aku nggak mau memaksakan semuanya.”
“Kita hitung dulu. Yang penting jangan ada pengeluaran baru tanpa rencana.”
Murti menghela napas. “Aku marah sama pemasok, tapi kita memang harus hati-hati.”
Setelah panggilan berakhir, aku membuka toko daring Monic’s Fashionable. Aku sudah lama tidak memeriksa semua ulasan karena beberapa reseller lama berhenti bekerja sama. Ada sejumlah pertanyaan pelanggan tentang ukuran dan warna, tetapi tidak ada laporan besar yang bisa langsung kuatasi. Aku membalas satu per satu dan memastikan staf gudang mengetahui pesanan mana yang harus didahulukan.
Menjelang siang, seorang reseller lama menelepon. Ia pernah mengambil banyak stok dariku beberapa bulan lalu, tetapi kerja sama kami berakhir setelah ia tidak melunasi seluruh pembayaran tepat waktu. Aku tidak mengangkat pada dering pertama karena sedang mengurus pesanan. Saat panggilan kedua masuk, aku menjawab.
Ia mengatakan beberapa pelanggan mengeluhkan kualitas barang yang pernah dibeli melalui tokonya. Menurutnya, jahitan pada sebagian pakaian mudah lepas dan warna kain tidak sesuai foto. Ia juga mengatakan akan mengajukan laporan kepada marketplace agar transaksi diperiksa.
Aku terkejut. “Barang yang mana? Kapan pelanggan membelinya?”
“Stok lama yang aku ambil dari kamu. Aku sudah kirim foto ke layanan marketplace.”
Aku meminta nomor pesanan dan foto yang dimaksud agar bisa memeriksa catatan produksi. Ia menjawab bahwa semua laporan sudah diserahkan melalui akun tokonya. Ia tidak bersedia menarik laporan sebelum masalah ditangani.
“Aku perlu melihat bukti dan nomor barangnya. Kalau memang ada cacat, aku akan periksa.”
“Sekarang sudah aku laporkan. Nanti marketplace yang menghubungi kamu.”
Panggilan berakhir sebelum aku bisa bertanya lebih jauh. Aku merasa tidak tenang. Aku tidak ingat pernah menerima laporan jahitan lepas dari stok yang sama, tetapi ada kemungkinan barang rusak selama disimpan atau dikirim. Aku tidak ingin langsung menyalahkan reseller itu karena hubungan kami memang berakhir buruk.
Aku membuka catatan stok lama dan mencari nomor batch yang pernah ia beli. Beberapa nomor tercatat, tetapi pencatatan pada masa itu belum serapi sekarang. Aku menghubungi staf gudang untuk meminta dokumen pemeriksaan barang dan bukti pengiriman yang masih tersedia. Mereka berjanji mencari arsipnya.
Setelah itu aku masuk ke dasbor penjual dan memeriksa pemberitahuan. Belum ada pembekuan akun atau penghentian penjualan. Hanya ada notifikasi bahwa satu laporan produk sedang ditinjau dan aku diminta menyiapkan bukti kualitas jika dibutuhkan. Aku menghela napas, sedikit lega tetapi tetap waspada.
Aku menelepon layanan penjual untuk menanyakan dokumen apa yang perlu disiapkan. Petugas menjelaskan bahwa laporan akan diperiksa dan aku akan menerima permintaan data melalui akun. Ia tidak menjanjikan hasil tertentu. Aku mencatat nomor pengaduan dan nama bagian layanan, lalu mengakhiri panggilan.
Aku kemudian menghubungi Akhza. Ia menyarankan agar aku menyimpan semua bukti, memeriksa stok terkait, dan tidak menghubungi reseller itu dengan nada menuduh. Aku setuju. Aku juga memberi tahu bahwa toko masih beroperasi dan belum ada pembatasan.
Sore hari, Murti menelepon lagi. Ia mengatakan menemukan pemasok lain, tetapi kainnya lebih mahal. Kami sepakat menunda keputusan sampai anggaran dihitung ulang. Aku tidak menceritakan laporan marketplace secara panjang lebar; aku hanya mengatakan ada komplain lama yang sedang diperiksa dan aku sedang mengumpulkan dokumen.
Aku menutup laptop dan menatap daftar pesanan hari itu. Pendapatan toko masih masuk, tetapi jumlahnya lebih kecil daripada biasanya. Aku berharap laporan tersebut bisa dijelaskan dengan bukti yang tepat. Malamnya aku menyiapkan dokumen kualitas dan riwayat stok, berjaga-jaga jika marketplace meminta klarifikasi.