Menunggu kabar dari Murti membuatku sulit fokus. Aku mencoba mengerjakan beberapa pesanan toko daring agar pikiranku tidak terus membayangkan kemungkinan produksi batal. Namun beberapa kali aku berhenti karena lengan kananku mulai berdenyut. Aku pindah ke sofa, membawa laptop dan menaruhnya di pangkuan supaya tidak perlu menahan tangan di meja.
Aku membandingkan bukti pembayaran dengan surat pembatalan yang dikirim pemasok. Uang muka sudah tercatat, tetapi ketentuan pengembalian tidak menjelaskan dengan gamblang potongan yang mereka minta. Aku memotret setiap halaman dan mengirimkannya kepada Murti lewat panggilan agar kami memeriksa bagian yang sama. Kami tidak membicarakan langkah hukum atau ancaman. Kami hanya ingin memahami isi dokumen dan memastikan tidak ada informasi penting yang terlewat.
Murti mengatakan ia akan meminta pemasok menuliskan alasan pembatalan dan rincian biaya secara resmi. Aku setuju. Jika ada komunikasi tambahan, semuanya harus disimpan. Kami tidak akan menerima pengembalian sebagian hanya berdasarkan pembicaraan lisan.
Pagi itu aku menunggu kabar dari Murti tentang pengiriman kain. Produksi GO MM seharusnya dimulai dua hari lagi. Aku duduk di meja makan dengan laptop terbuka, tetapi tidak bekerja terlalu lama karena lengan kananku masih nyeri. Aku hanya memeriksa desain terakhir dan memastikan perubahan ukuran sudah dicatat.
Menjelang pukul sembilan, telepon Murti masuk. Suaranya terdengar tegang.
“Pemasok membatalkan pesanan kain,” katanya tanpa basa-basi.
Aku berdiri terlalu cepat hingga lengan terasa nyeri. “Membatalkan? Mereka kan sudah menerima uang muka.”
“Katanya stoknya habis dan mereka tidak bisa menyediakan warna yang kita pesan. Mereka baru memberi tahu pagi ini.”
Aku mencoba memahami. “Mereka tidak punya pengganti atau pemasok lain?”
“Mereka menawarkan pengembalian sebagian uang muka. Sisanya katanya biaya pemesanan khusus.”
Aku menutup mata. Mereka sudah memastikan pengiriman dan kami telah membayar sebagian. Produksi tinggal dua hari lagi. Kalau kain tidak ada, para penjahit tidak bisa mulai bekerja. Sewa tempat tetap berjalan, dan jadwal yang telah kami susun akan berantakan.
“Sudah ada bukti pembatalan tertulis?” tanyaku.
“Ada. Mereka mengirim surat pembatalan dan rincian potongan.”
“Jangan setujui pengembalian dulu. Kita baca dulu semua dokumennya dan minta alasan yang jelas.”
Murti menghela napas berat. “Aku sudah bicara dengan mereka. Mereka tidak mau mengembalikan semuanya. Aku kesal, Mon. Mereka tahu kita butuh kain ini.”
Aku mengerti kemarahannya. Ia yang mengurus pemesanan dan sudah berusaha memastikan semuanya. Aku tidak ingin menyalahkannya. “Aku juga kesal. Tapi jangan bicara dengan mereka saat emosi. Simpan semua bukti dan kita cari tahu apa yang bisa dilakukan.”
Murti mengatakan sebagian uang muka kemungkinan tidak akan kembali. Jumlahnya cukup besar bagi usaha yang masih baru. Aku menghitung kembali dana yang tersedia. Kehilangan sebagian modal berarti kami harus menunda pembelian bahan lain atau mengurangi jumlah produksi.
“Kalau kita cari pemasok lain, apakah masih sempat?” tanyaku.
“Mungkin, tapi belum tentu warna dan kualitasnya sama. Aku juga tidak bisa menjamin barangnya datang sebelum jadwal produksi.”
Aku terdiam. Aku ingin langsung menawarkan solusi, tetapi semua pilihan punya risiko. Mengganti kain dapat mengubah hasil desain. Menunda produksi berarti membayar sewa lebih lama dan mengecewakan para penjahit. Membatalkan berarti kehilangan uang dan kesempatan memperkenalkan GO MM.
“Kita jangan putuskan sebelum lihat stok yang tersedia,” kataku. “Tanyakan apakah ada kain dengan kualitas serupa. Aku bisa bantu membandingkan warna dari foto, tapi jangan bayar lagi sebelum kita yakin.”
Murti menyetujui, meski suaranya tetap keras. Ia mengatakan akan mendatangi pemasok untuk meminta penjelasan langsung. Aku berpesan agar ia membawa dokumen pembayaran dan surat pembatalan.
Setelah panggilan berakhir, aku menulis jumlah uang muka dan potongan yang disebut Murti. Angka-angka itu membuatku cemas. Sebagian modal kami hilang, sementara produksi belum menghasilkan apa pun. Aku merasa bersalah karena tidak bisa datang membantu Murti mengurus masalah tersebut. Lenganku masih sakit dan dokter meminta agar tidak digunakan berlebihan.
Aku menelepon Akhza dan menjelaskan bahwa pesanan kain GO MM dibatalkan sepihak. Ia bertanya apakah kontrak atau bukti pembayaran kami simpan. Aku menjawab iya. Ia menyarankan agar kami membaca semua ketentuan sebelum menerima potongan uang muka.
“Jangan langsung menandatangani apa pun,” katanya. “Minta rincian tertulis dan simpan bukti komunikasinya.”
Aku berterima kasih. Aku belum tahu apakah nasihat itu akan mengembalikan uang kami, tetapi setidaknya kami tidak akan mengambil keputusan tanpa catatan. Aku menghubungi Murti lagi dan menyampaikan saran Akhza.
Aku meminta Murti mengirimkan foto surat pembatalan dan bukti pembayaran agar aku bisa membaca semuanya dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa pemasok memberi batas waktu singkat untuk menerima pengembalian sebagian dana. Aku menyarankan agar ia meminta tambahan waktu tertulis, sebab kami perlu memeriksa ketentuan pemesanan dan menghitung kerugian.
Kami membicarakan apakah perlu menghubungi pemasok lain pada hari itu juga. Murti sudah memiliki dua nomor, tetapi belum menanyakan stok. Aku memintanya sekadar mencari informasi dulu tanpa melakukan pembayaran. Tidak ada gunanya mengganti satu keputusan tergesa-gesa dengan keputusan lain.
Aku tahu Murti mungkin merasa aku terlalu berhati-hati setelah kehilangan uang. Namun aku tidak ingin modal yang tersisa habis karena panik. Ia menyetujui untuk menunggu sampai esok dan memeriksa pilihan kain secara langsung.
Sore hari, Murti kembali menelepon. Ia sudah bertemu pemasok. Mereka tetap menolak mengembalikan seluruh uang muka dan hanya menawarkan jumlah yang lebih kecil. Murti terdengar sangat marah. Ia mengatakan sebagian modal kami benar-benar hilang.
Aku tidak membantah atau menyuruhnya tenang. Aku membiarkannya meluapkan kekecewaan. Setelah ia selesai, aku berkata bahwa kami akan menyimpan bukti dan memikirkan langkah berikutnya saat emosi mereda. Murti setuju, meski tidak berjanji akan memaafkan pemasok.
Malam itu aku melihat rancangan GO MM yang belum sempat diproduksi. Aku merasa kehilangan sebagian dari harapan kami bersama uang yang tidak kembali. Namun aku belum ingin memutuskan apakah produksi harus dibatalkan. Aku akan menunggu sampai Murti mendapat daftar pemasok alternatif dan menghitung ulang modal dengan teliti.