Sesampainya di rumah, aku menyimpan hasil pemeriksaan di laci meja. Aku belum siap membicarakan operasi lagi. Akhza tidak memaksaku. Ia hanya memastikan aku beristirahat dan menyarankan agar aku tidak mengangkat barang berat. Setelah ia berangkat kembali untuk menyelesaikan pekerjaan, aku duduk di ruang tengah dengan lengan kanan bertumpu pada bantal.
Sambil menunggu kabar dari Murti, aku membuka dokumen anggaran GO MM. Aku menghitung kembali jumlah dana yang masih tersedia setelah biaya sewa, perizinan, dan pembayaran awal kain. Angka yang tersisa tidak besar, tetapi cukup untuk memulai produksi kecil jika semua berjalan lancar. Aku mencatat beberapa biaya yang bisa ditunda, misalnya pembelian perlengkapan tambahan yang tidak dibutuhkan pada hari pertama.
Aku menelepon Murti untuk memastikan seluruh tim tahu jadwal produksi. Ia mengatakan para penjahit sudah menerima jadwal, tetapi ia belum meminta mereka datang sebelum bahan benar-benar tiba. Aku menyarankan agar ia tidak mengubah jadwal berkali-kali tanpa kepastian. Mereka perlu waktu untuk mengatur pekerjaan masing-masing.
Kami juga membahas kualitas kain yang dipesan. Murti menyebutkan bahwa ia telah meminta sampel sebelum membayar uang muka. Sampel itu sesuai dengan warna dan ketebalan yang kami inginkan. Karena itu, pembatalan mendadak terasa lebih merugikan; kami sudah menyesuaikan pola dan rancangan dengan jenis kain tersebut.
Aku kemudian menghubungi Rika untuk memastikan daftar desain yang akan ia gunakan. Ia mengatakan sudah menerima ukuran dan pola terbaru dari Murti. Aku menjelaskan bahwa ia harus menghubungi kami jika ada bagian yang tidak cocok dengan sampel kain. Kami tidak ingin memotong bahan sebelum semua orang sepakat pada ukuran.
Murti dan aku juga meninjau rencana pembayaran. Uang muka sudah dibayarkan, tetapi pelunasan baru dilakukan setelah kain tiba dan diperiksa. Aku meminta Murti mengambil foto bahan saat paket dibuka, termasuk label dan jumlah gulungan. Kami ingin memiliki catatan lengkap agar tak ada kesalahpahaman dengan pemasok.
Setelah itu aku menghubungi bagian administrasi tempat produksi untuk memastikan listrik dan meja kerja siap sebelum hari mulai. Murti sudah mengurus sebagian besar urusan tersebut. Aku hanya memeriksa ulang, karena penundaan kecil sebelumnya membuatku ingin semua persiapan tercatat jelas.
Kami menyepakati bahwa jika pengiriman terlambat beberapa jam, penjahit tidak perlu datang lebih awal. Aku tidak ingin mereka menunggu tanpa kepastian. Murti akan menghubungi setiap orang setelah kain diperiksa. Ia berkata akan mengabari aku jika pemasok mengubah waktu kirim.
Ponselku berdering. Murti menelepon untuk membahas jadwal produksi GO MM. Ia mengatakan para penjahit sudah bersedia kembali setelah teknisi memeriksa mesin. Bu Sari masih berhati-hati, tetapi tidak mengalami pusing lagi. Mereka berencana mulai produksi dalam dua hari, asalkan kain yang dipesan tiba sesuai janji pemasok.
“Kamu yakin ruangannya aman?” tanyaku.
“Teknisi sudah memperbaiki sambungan listrik. Mesin dicoba tanpa kamu di sana dan berfungsi normal. Aku akan minta mereka cek sekali lagi sebelum produksi.”
Aku menghela napas lega. “Bagus. Aku belum bisa datang hari ini, tapi aku bisa bantu cek daftar ukuran dan desain.”
“Jangan memaksakan tanganmu. Aku bisa kirim daftar lewat telepon.”
Kami membahas jumlah kain, warna, dan model yang akan diproduksi. Aku membuka rancangan di laptop dan membaca ulang catatan. Tangan kiriku bergerak lambat di papan ketik, tetapi aku berusaha tidak membiarkan masalah lengan menghentikan semua pekerjaan. Murti mencatat perubahan kecil pada ukuran beberapa pola.
“Pemasok sudah memastikan pesanan?” tanyaku.
“Sudah. Mereka bilang kain dikirim besok pagi. Aku sudah membayar uang muka dan sisanya dibayar setelah kain sampai.”
Aku mencatat keterangan itu. Produksi tinggal dua hari lagi. Jika kain tiba tepat waktu, para penjahit bisa mulai bekerja sesuai jadwal. Aku dan Murti sudah mengeluarkan dana cukup banyak untuk sewa tempat, perizinan, dan persiapan. Aku berharap usaha ini menjadi awal yang baik setelah toko daringku mulai kehilangan reseller.
Aku tidak menceritakan vonis dokter kepada Murti. Aku hanya mengatakan bahwa lenganku perlu diperiksa dan aku harus beristirahat. Ia terdengar khawatir, tetapi tidak bertanya lebih jauh.
“Kalau kamu tidak bisa mengurus bagian desain, aku bisa minta Rika membantu,” katanya.
“Boleh. Aku akan tetap memeriksa hasil akhirnya.”
Setelah panggilan selesai, aku memeriksa berkas desain dan mengirim perubahan melalui panggilan singkat kepada Murti. Kami memastikan tidak ada perbedaan antara contoh yang disepakati dan pola kerja. Aku merasa berguna karena masih bisa membantu, meski dari rumah.
Aku menanyakan apakah pengiriman sudah memiliki nomor kendaraan atau bukti jalan. Murti mengatakan pemasok belum mengirimkan informasi baru, tetapi ia akan menghubungi mereka setelah makan siang. Kami sepakat menunggu konfirmasi sampai petang. Jika ada perubahan, ia akan memberi tahu para penjahit agar mereka tidak datang sia-sia.
Menjelang sore, Murti menelepon lagi. Ia mengatakan akan menghubungi pemasok untuk memastikan jam pengiriman. Ia berjanji segera memberi kabar setelah mendapat konfirmasi. Aku menyuruhnya meminta tanda terima dan memeriksa kualitas kain sebelum membayar sisa uang. Kami sudah sepakat untuk mencatat semua transaksi agar modal tidak hilang tanpa bukti.
Aku meletakkan ponsel dan membuka laci tempat menyimpan hasil dokter. Aku menatap kertas itu sebentar, lalu menutup laci. Aku belum mengubah keputusan tentang operasi. Aku ingin fokus pada satu hal dalam satu waktu. Besok kain akan dikirim, dan aku harus memastikan produksi GO MM berjalan.
Aku mengatakan bahwa rencana produksi masih sesuai jadwal untuk sementara.
Malamnya, Akhza pulang dan bertanya apakah aku sudah berbicara dengan Murti. Aku menceritakan jadwal produksi yang tinggal dua hari lagi. Ia mengingatkanku agar tidak bekerja terlalu lama menggunakan tangan kiri. Aku mengiyakan, meski pikiranku terus membandingkan masalah usaha dengan hasil pemeriksaan.
Sebelum tidur, aku memeriksa kembali daftar desain dan mematikan laptop. Kain seharusnya tiba esok pagi. Aku berharap tidak ada masalah lagi. Setelah mesin jahit, penjahit yang sakit, dan penundaan jadwal, usaha kecil kami membutuhkan satu hal yang berjalan sesuai rencana.