Pagi berikutnya aku berjalan ke lemari sebelum menyiapkan sarapan. Akhza masih di kamar. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk memeriksa kotak itu bersama dengannya, tetapi rasa penasaran membuatku tidak bisa menunggu. Aku mengangkatnya dari lantai dan meletakkannya di atas meja.
Tutup kotak terasa sedikit lebih berat daripada kemarin. Aku membukanya perlahan. Di dalamnya tergeletak akar hitam beruas-ruas, melingkar di dasar kotak. Aku mundur sampai pinggulku membentur meja. Akar itu lebih besar daripada yang terakhir kulihat sebelum membawanya pergi. Ada bagian yang tampak basah dan berkilat, meski kotak itu tertutup rapat sepanjang malam.
Aku tidak menyentuhnya. Aku menutup kotak kembali, lalu memanggil Akhza dengan suara bergetar. Ia datang dari kamar dan langsung bertanya apa yang terjadi. Aku menunjuk kotak itu. Ia melihat wajahku, lalu membuka tutupnya sendiri.
“Ini akar yang kamu bilang hilang?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Kemarin kosong. Aku sudah periksa beberapa kali.”
Akhza memandangi akar itu cukup lama. Ia tidak langsung mengatakan bahwa aku salah lihat. Ia bertanya apakah ada orang lain yang masuk rumah. Aku menjawab tidak. Aku juga mengatakan bahwa kotak itu berada di dekat lemari sejak pulang dari jalan.
“Bisa saja kamu tidak melihatnya saat kemarin memeriksa,” katanya, masih berusaha mencari penjelasan. “Tapi kita catat dulu kondisinya.”
Aku ingin membantah, tetapi tidak punya bukti selain ingatanku. Akhza mengambil ponsel dan memotret isi kotak dari beberapa sudut. Ia tidak menyentuh akar. Setelah selesai, ia menutup kotak dan menaruhnya di meja agar tidak terjangkau anak kecil atau hewan peliharaan. Rumah kami memang tidak memiliki anak, tetapi kebiasaan menyimpan benda berbahaya tetap masuk akal.
Saat ia hendak menggeser kotak, aku meringis karena lenganku tersenggol meja. Akhza segera menoleh. Plester di lenganku sudah sedikit terangkat. Ia meminta melihatnya. Aku mencoba menarik tangan, tetapi kali ini ia hanya memegang pergelangan dengan lembut dan menunggu sampai aku mengangguk.
Ketika kubuka lengan baju, ia melihat lecet dan area yang menonjol di bawah kulit. Wajahnya berubah cemas. Ia bertanya sejak kapan benjolan itu ada. Aku tidak bisa lagi menyembunyikannya. Aku juga akhirnya mengakui bahwa sehari sebelumnya aku pergi ke panti sendirian tanpa menunggu jadwal Akhza. Aku menceritakan bagaimana kendaraan yang kutumpangi tergelincir, kotak terjatuh, dan akar di dalamnya hilang.
Akhza memandangku lama. “Kamu pergi tanpa memberi tahu aku?”
“Aku takut kamu melarangku. Aku tahu itu salah.”
“Dan kamu membawa kotaknya meski pengurus panti minta jangan?”
Aku mengangguk. Aku tidak mencoba mencari alasan. Ia jelas kecewa, tetapi lebih banyak cemas daripada marah. Ia bertanya apakah pengemudi dan warga yang membantu baik-baik saja. Aku menjawab bahwa mereka tidak mengalami cedera serius. Aku menjelaskan bahwa aku sudah meminta maaf kepada pengemudi dan pulang setelah membatalkan kunjungan.
Akhza menghela napas. “Aku ingin kamu jujur soal hal begini. Kalau kamu pergi sendiri, setidaknya beri tahu aku. Aku tidak bisa menjagamu kalau tidak tahu kamu di mana.”
Aku menunduk. “Aku minta maaf.”
Ia tidak memperpanjang teguran. Ia memeriksa lecet di lengan dan lutut, lalu mengambil perlengkapan pertolongan pertama. Ketika ia melihat area yang menonjol di bawah kulit, ekspresinya kembali berubah. Ia tidak menekan bagian itu, hanya bertanya apakah nyerinya sudah ada sebelum jatuh. Aku menjawab iya. Ia mengangguk, memastikan bahwa benjolan itu bukan akibat benturan kemarin.
Wajahnya berubah cemas. Ia bertanya sejak kapan benjolan itu ada dan mengapa aku tidak memberitahunya.
“Sudah beberapa hari,” jawabku. “Awalnya cuma sakit. Aku takut kamu menyuruhku ke dokter.”
“Moni, kenapa kamu menunggu?”
“Aku takut.”
Akhza menghela napas, lalu duduk di hadapanku. Ia tidak membentak. Ia bertanya apakah benjolan itu bertambah besar atau berubah warna. Aku menjawab tidak tahu karena selama ini menutupinya. Ia tidak menekan bagian yang sakit. Ia hanya mengatakan bahwa luka dan benjolan perlu diperiksa oleh tenaga medis, apalagi rasa nyerinya tidak hilang.
Aku ingin menolak. Kata operasi dari cerita awal yang selama ini menghantui pikiranku terasa muncul lagi. Namun Akhza tidak memaksaku langsung pergi saat itu. Ia bertanya apakah aku bersedia menghubungi klinik dan membuat janji konsultasi. Ia berjanji akan menemaniku dan mendengarkan penjelasan dokter sebelum mengambil keputusan apa pun.
“Aku belum mau operasi,” kataku.
“Kita belum tahu apa yang dokter sarankan. Pemeriksaan bukan berarti kamu langsung setuju pada tindakan apa pun.”
Aku menunduk. Ia benar, tetapi aku tetap takut. Aku menatap kotak kayu yang tertutup di atas meja. Akar itu kembali dalam keadaan lebih besar, sementara lenganku menunjukkan luka yang belum pernah kuceritakan. Semua hal yang kutunda kini berada di ruangan yang sama.
Aku memandangnya dan mengulang kembali bahwa aku belum mau memutuskan apa pun sebelum mengetahui kondisi lenganku. Akhza berkata ia tidak akan menandatangani atau menyetujui tindakan atas namaku tanpa membicarakannya denganku. Ia hanya ingin aku menerima informasi yang cukup. Aku tahu ia berusaha membedakan pemeriksaan dari tindakan, tetapi ketakutanku masih menolak melihat keduanya sebagai hal berbeda.
Akhza menelepon klinik dan menanyakan jadwal Dokter Hendra, dokter yang pernah memeriksaku. Ia memastikan kami tidak perlu membawa kotak akar atau membahasnya sebagai bagian pemeriksaan, supaya konsultasi tetap fokus pada gejala fisikku. Ia mendapat jadwal konsultasi pada hari berikutnya. Setelah menutup telepon, ia menanyakan apakah aku bersedia datang. Aku bertanya apakah konsultasi berarti dokter akan langsung melakukan tindakan. Akhza menjelaskan bahwa janji itu hanya untuk mendengarkan hasil dan membicarakan pilihan. Keputusan tetap ada padaku setelah penjelasan lengkap. Aku mengangguk dengan berat hati.
“Aku mau diperiksa,” kataku. “Tapi aku belum berjanji soal tindakan apa pun.”
“Aku mengerti. Kita dengarkan dulu.”
Ia membersihkan lecetku dan mengganti plester dengan hati-hati. Aku merasa bersalah karena telah menyembunyikan rasa sakit, tetapi juga lega karena tidak harus menghadapinya seorang diri. Kotak berisi akar tetap tertutup. Akhza belum percaya bahwa benda itu kembali dengan sendirinya, tetapi ia tidak mengabaikan apa yang kulihat.