Malam itu berjalan canggung. Akhza sudah melihat plester di lenganku, tetapi ia tidak bertanya lagi setelah aku berkata akan menjelaskan besok. Aku tahu ia menunggu penjelasan, sementara aku masih mencari keberanian untuk mengatakan bahwa aku pergi ke panti tanpa menunggu kabarnya. Kotak kosong berada di dekat lemari. Setiap kali melewatinya, aku teringat tikungan licin dan akar yang hilang.
Setelah makan malam, aku duduk di ruang tengah. Akhza membereskan meja, lalu duduk beberapa langkah dariku. Ia tidak mendesak. Sikap tenangnya membuatku makin merasa bersalah. Aku tahu ia pantas mengetahui apa yang kulakukan, tetapi aku takut ia akan menganggapku ceroboh dan tidak bisa dipercaya.
“Aku akan cerita,” kataku akhirnya. “Tapi aku perlu menenangkan diri dulu.”
“Aku cuma ingin tahu kamu aman. Kalau kamu pergi ke suatu tempat, kabari aku. Itu saja.”
Aku mengangguk. Aku tidak berbohong bahwa aku aman, tetapi aku belum mengakui perjalanan itu. Ia melihat plester di lenganku dan bertanya apakah perlu dibersihkan lagi. Aku menjawab sudah cukup. Rasa nyeri di bawah kulit masih ada, namun aku menutupi lengan dengan kain dan tidak membicarakannya.
Akhza menawarkan untuk memeriksa kotak kayu. Aku menolak dengan cepat, lalu merasa jawabanku terdengar aneh. Aku mengatakan kotaknya hanya kosong dan tidak perlu diperiksa. Ia tidak memaksa. Ia hanya mengingatkan agar aku tidak mengangkatnya dengan tangan yang sakit.
Ketika Akhza masuk kamar untuk mengambil obat luka, aku duduk sendiri di ruang tengah. Kotak itu berada tidak jauh dariku. Aku tahu akar hitam tersebut tidak mungkin jatuh begitu saja tanpa kusadari saat tas terlempar. Namun aku tidak melihat ke mana akar itu pergi. Warga sudah membantu mencarinya dan tidak menemukannya. Aku tidak punya alasan untuk mengatakan ia menghilang secara gaib.
Aku membuka buku catatan dan menuliskan kejadian hari itu: berangkat tanpa menunggu Akhza, jatuh di tikungan, kotak terlepas, akar hilang, kunjungan panti dibatalkan. Setelah selesai, aku membaca ulang tulisan itu. Tidak ada satu pun kalimat yang bisa menjelaskan kenapa akar tidak ditemukan. Aku menahan diri agar tidak menulis bahwa ia menghilang sendiri, sebab aku tidak menyaksikan saat benda itu lenyap.
Aku juga mencatat bahwa Mbah Pur sudah memintaku tidak membawa kotak tanpa izin dan petugas panti menyarankan datang tanpa benda. Aku telah mendengar kedua nasihat itu, tetapi memilih mengabaikannya. Aku tidak ingin menghukum diri sendiri, namun aku harus mengakui akibat dari pilihanku. Jika aku hanya menyalahkan kejadian aneh, aku tidak akan belajar untuk mempertimbangkan keselamatan dan kepercayaan orang lain.
Dari dapur terdengar Akhza mengisi gelas. Ia bertanya apakah aku ingin minum. Aku menjawab iya, lalu ia membawakan air dan duduk sebentar. Aku ingin menceritakan semuanya saat itu juga. Namun setelah melihat wajahnya yang lelah sepulang kerja, aku berkata bahwa aku perlu menenangkan diri dulu. Ia tidak memaksaku, tetapi meminta aku berjanji tidak menyimpan hal penting terlalu lama.
“Aku janji akan cerita,” kataku. “Besok pagi, sebelum kita mulai kegiatan.”
Ia mengangguk. Aku tahu janji itu harus kutepati. Aku tidak ingin kembali mengubahnya menjadi alasan untuk menunda.
Aku tidak ingin menggunakan kecelakaan sebagai bukti bahwa akar itu membawa sial. Jalan memang licin dan kendaraan tergelincir. Pengemudi sudah berhati-hati. Aku juga tidak ingin menganggap hilangnya akar sebagai hukuman. Aku belum tahu apa yang terjadi, dan menambahkan dugaan hanya akan membuatku semakin takut.
Akhza kembali membawa antiseptik dan mengganti plester yang mulai longgar. Ia membersihkan lecet tanpa menyentuh area benjolan. Aku meringis ketika kain mengenai kulit, lalu ia berhenti sampai rasa perih berkurang. Ia bertanya lagi apakah ada bagian lain yang sakit. Aku menjawab lututku hanya memar ringan.
“Besok kita lihat lagi. Kalau tambah sakit, kita periksa.”
Aku mengangguk. Aku tahu ada benjolan yang belum kuceritakan. Aku bisa saja memberitahunya malam ini, tetapi mulutku terasa terkunci. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menunda lebih lama. Esok pagi, aku akan menunjukkan lenganku dan menjelaskan kecelakaan itu. Aku tidak tahu bagaimana ia akan menanggapi soal kotak, tetapi aku tidak bisa terus menghindari percakapan.
Sebelum tidur, aku membawa kotak kosong ke dekat lemari. Aku tidak membuka tutupnya lagi. Aku hanya meletakkannya di lantai, di tempat yang mudah terlihat. Jika akar itu benar-benar hilang, aku ingin memastikan kotak itu tetap kosong. Jika tidak, aku ingin Akhza melihatnya bersamaku, bukan mendengarnya dari cerita yang mungkin ia anggap keliru.
Setelah Akhza masuk kamar untuk bersiap tidur, aku tetap duduk sebentar di ruang tengah. Aku mencoba membayangkan percakapan esok pagi. Aku akan mengakui bahwa aku pergi sendiri dan bahwa kotak yang kubawa pulang kosong. Aku belum tahu apakah ia akan meminta penjelasan lebih jauh, tetapi aku tidak akan menyalahkan kecelakaan atau cuaca atas keputusanku.
Aku juga memikirkan petugas panti yang menerima teleponku. Ia tidak terdengar marah saat aku membatalkan kunjungan. Aku ingin meminta maaf langsung jika nanti datang, bukan menganggap perubahan jadwal sebagai hal sepele. Aku telah menyia-nyiakan waktu mereka dengan tidak hadir, meski penyebabnya kecelakaan. Rasa malu itu nyata, tetapi aku tahu masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Aku berdiri dan memindahkan gelas ke dapur. Gerakanku lambat karena lengan terasa sakit. Aku tidak menyentuh kotak lagi. Aku takut jika terus memeriksanya, pikiranku akan mengarang suara atau perubahan yang tidak ada. Aku memilih membiarkannya tertutup sampai pagi.
Di kamar, aku berbaring dengan lengan kanan di atas bantal. Akhza bertanya apakah aku nyaman. Aku menjawab bahwa aku akan baik-baik saja. Ia tidak percaya sepenuhnya, tetapi ia tidak memaksaku bicara. Kami mematikan lampu setelah ia mengingatkanku bahwa besok kami harus menyelesaikan penjelasan dan memeriksa keadaan luka.
Aku belum tahu apa yang akan kutemukan pada kotak di pagi hari. Aku hanya tahu bahwa malam ini kotak itu kosong, lenganku sakit, dan aku harus berhenti membuat keputusan sendirian tanpa mempertimbangkan akibatnya.