Setelah membuat janji dengan Dokter Hendra, Akhza memastikan aku punya waktu beristirahat. Ia menutup kotak kayu dengan lebih rapat dan memindahkannya ke rak yang aman. Ia tidak membuang atau membuka isinya. Kami sepakat menunggu sampai kembali dari klinik sebelum memutuskan apa pun.
Aku duduk di sofa sambil memegang lengan yang sudah dibalut. Rasa nyeri belum hilang. Akhza duduk di sampingku dan bertanya apakah aku ingin membatalkan rencana ke panti untuk sementara. Aku mengangguk. Aku tidak bisa mengurus semua hal sekaligus, dan tubuhku perlu diperiksa lebih dulu.
“Aku minta maaf karena menyembunyikannya,” kataku.
“Aku lebih ingin kamu bilang saat mulai sakit daripada menunggu sampai makin berat.” Suaranya lembut, tetapi jelas. “Aku nggak marah. Aku cuma khawatir.”
Aku menatapnya. “Aku takut dengar hal yang sama seperti dulu.”
“Kita belum tahu apa pun. Besok kamu tanya semuanya langsung ke dokter. Kalau ada istilah yang tidak kamu mengerti, minta dia menjelaskan.”
Aku mengangguk. Aku tahu itu hal yang wajar dilakukan, tetapi rasa takutku tidak hilang hanya karena ada janji konsultasi. Aku pernah membayangkan vonis yang buruk dan operasi yang tidak kuinginkan. Kini aku harus datang kembali dan menghadapi kemungkinan bahwa rasa sakit ini memang punya sebab medis.
Akhza menyiapkan makan siang, sementara aku beristirahat. Ia memastikan aku tidak menggunakan tangan kanan untuk mengangkat panci atau piring. Aku merasa tidak enak karena ia harus mengerjakan banyak hal, tetapi ia mengatakan pekerjaan rumah bisa menunggu. Ia tidak menyuruhku mengurus apa pun.
Aku membuka ponsel dan melihat catatan untuk Murti. Aku meneleponnya untuk memberi tahu bahwa aku harus memeriksakan lengan dan mungkin tidak bisa datang ke tempat produksi beberapa hari. Murti tidak bertanya macam-macam. Ia hanya mengatakan bahwa teknisi sudah memberi laporan awal dan ia akan mengirimkannya kepadaku setelah semuanya jelas.
“Jangan pikirkan produksi dulu,” katanya. “Kesehatanmu lebih penting. Aku bisa atur jadwal dengan Bu Sari.”
“Terima kasih. Aku nggak mau kalian menunggu tanpa kabar.”
“Kalau sudah tahu hasilnya, kabari aku. Kita atur lagi.”
Setelah menelepon Murti, aku merasa lega karena ia tidak memutus komunikasi. Namun aku sadar bahwa usaha kami tetap berjalan dengan banyak ketidakpastian. Aku tidak ingin rasa sakitku menjadi alasan GO MM berhenti, tetapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.
Sore hari, Akhza membaca kembali dokumen yang diperlukan untuk pendaftaran klinik. Ia memastikan kartu identitasku dan kartu asuransi tersedia. Aku memperhatikan dari kursi dan bertanya apakah perlu membawa foto kotak akar. Akhza menjawab foto itu tersimpan di ponselnya, tetapi ia tidak yakin perlu menunjukkannya kepada dokter. Kami sepakat bahwa urusan medis harus disampaikan apa adanya, dan kotak itu bukan bagian dari pemeriksaan.
Sore itu aku melihat lagi foto akar di ponsel Akhza. Bentuknya terlihat lebih jelas daripada yang kuingat, tetapi foto itu tidak membuktikan bagaimana akar kembali ke kotak. Aku bertanya apakah ia bersedia menyimpan foto tersebut kalau nanti perlu membandingkan. Ia menjawab tentu, tetapi menyarankan agar kami tidak mencampur urusan itu dengan pemeriksaan lengan.
Aku setuju. Ada dua perkara yang sama-sama membuatku takut, tetapi aku tidak harus menyelesaikannya bersamaan. Besok aku akan mendengarkan dokter. Setelah itu, aku bisa membicarakan akar dan kunjungan panti dengan Akhza lagi. Membagi masalah menjadi langkah-langkah kecil terasa lebih mungkin daripada memikirkan semuanya sebagai satu ancaman besar.
Malamnya, aku mencoba makan dengan tangan kiri. Akhza membantu memotong lauk, tetapi tidak membuatku merasa tidak berdaya. Kami berbicara tentang hal-hal ringan: jadwal kerjanya, kabar Mama, dan teknisi yang akan kembali memeriksa mesin. Tidak satu pun percakapan menghapus kecemasan tentang esok hari, tetapi suasana rumah terasa lebih tenang daripada beberapa hari terakhir.
Sore itu aku menelepon Mama. Aku tidak menceritakan soal akar yang kembali, tetapi mengatakan bahwa aku mengalami kecelakaan ringan dan akan memeriksakan lengan ke dokter. Mama langsung khawatir. Ia bertanya apakah Akhza menemaniku dan apakah lukaku sudah dibersihkan. Aku menjawab iya. Ia menyuruhku mengikuti saran dokter dan tidak menunda pemeriksaan. Aku tidak membantah, meski belum berani mengatakan betapa takutnya aku.
Setelah menelepon Mama, aku merasa ingin menceritakan semuanya kepadanya: bunga yang kuambil, akar yang kembali, dan sosok bergaun bunga. Namun aku menahan diri. Aku belum tahu apakah Mama bisa membantu atau justru semakin khawatir. Aku menunggu sampai Akhza pulang dan membicarakan hal-hal itu dengannya lebih dulu.
Akhza kembali memeriksa apakah aku sudah makan dan minum obat untuk rasa nyeri. Aku menjawab bahwa aku belum minum apa pun karena tidak tahu obat apa yang aman. Ia setuju agar kami menanyakan hal itu kepada dokter. Ia tidak membuat keputusan medis sendiri, dan sikapnya membuatku sedikit lebih tenang.
Kami juga membahas rencana setelah pemeriksaan. Jika dokter menyarankan tes lanjutan, kami akan menanyakan jadwal dan biayanya. Jika ada pilihan penanganan, aku ingin mendengar manfaat dan risikonya sebelum menyetujui. Akhza mengatakan ia akan mendukungku mengajukan pertanyaan, tetapi ia tidak bisa menjanjikan bahwa semua saran dokter dapat diabaikan. Aku tahu ia benar.
Aku mencoba memikirkan GO MM dan toko daringku, tetapi Akhza memintaku beristirahat saja malam itu. Aku mengangguk. Murti bisa mengurus jadwal teknisi, dan urusan produksi tidak harus diputuskan saat ini. Untuk pertama kalinya sejak mesin berhenti, aku membiarkan urusan usaha menunggu tanpa merasa harus segera menyelesaikan semuanya.
Sebelum tidur, aku menyiapkan pakaian yang mudah digulung lengannya agar dokter dapat memeriksa bagian yang sakit. Aku tidak lagi memakai lengan panjang untuk menutupi benjolan dari Akhza. Rasa malu masih ada, tetapi setidaknya aku tidak perlu berpura-pura kepada suamiku.
Aku memeriksa jam konsultasi sekali lagi. Dokter Hendra akan menerima kami pagi hari. Aku berharap pemeriksaannya sederhana, tetapi aku berjanji pada diri sendiri untuk mendengarkan sampai selesai. Aku belum menyetujui tindakan apa pun. Besok aku hanya akan datang, menjelaskan gejala, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada lenganku.