Pagi berikutnya aku menelepon panti jompo menggunakan nomor yang kutemukan di kartu kegiatan lama. Akhza sudah berangkat kerja, tetapi sebelum keluar ia mengingatkanku untuk meminta izin berkunjung dan mencatat nama orang yang kuajak bicara. Aku berjanji akan melakukannya. Lengan kananku masih nyeri, namun aku tetap menjaga gerakannya pelan-pelan.
Seorang perempuan menjawab panggilan. Aku memperkenalkan diri sebagai Monica, mantan peserta kegiatan sosial dari kantor suamiku. Aku menyebutkan tahun kunjungan secara kira-kira dan bertanya apakah mereka masih memiliki kebun belakang. Perempuan itu mengatakan kebun tersebut masih ada, walaupun sebagian tanaman sudah dipindahkan. Ia meminta aku datang pada hari kerja dan berbicara dengan pengurus yang bertugas.
Aku tidak menceritakan soal kutukan lewat telepon. Aku hanya mengatakan ingin meminta maaf atas sesuatu yang pernah kulakukan saat berkunjung dan ingin bertanya tentang satu jenis bunga. Perempuan itu terdengar heran, tetapi tidak menolak. Ia memberi tahu jam kunjungan dan nama jalan yang harus kucari. Aku mencatat semuanya di buku.
Setelah menutup panggilan, aku mencatat nama perempuan yang menjawab dan jam kunjungan yang disebutkannya. Aku memastikan kembali nomor teleponnya dengan membacanya perlahan dari buku kegiatan, lalu membandingkan angka satu per satu. Aku tidak ingin salah menekan nomor dan mengganggu orang lain. Alamatnya kutulis lengkap, termasuk nama desa dan petunjuk jalan yang ia sebutkan.
Aku juga mencatat bahwa mereka memintaku datang tanpa tanaman atau benda. Permintaan itu terdengar wajar. Mereka belum tahu cerita lengkapnya dan perlu memeriksa kebun sebelum memutuskan apa pun. Aku berjanji akan menghormati aturan kunjungan. Pada saat itu, aku benar-benar berniat meninggalkan kotak di rumah.
Akhza pulang sebentar pada jam makan siang untuk mengambil berkas yang tertinggal. Ia bertanya apakah aku sudah menelepon panti. Aku menjawab bahwa mereka menerima kunjungan esok hari, tetapi ia belum tahu apakah bisa ikut. Ia mengingatkan agar aku tidak berangkat jika merasa lemah. Aku mengangguk dan menjawab akan menunggu kepastian darinya.
Sebelum menutup telepon, aku bertanya apakah perlu membawa tanaman atau benda yang berkaitan dengan bunga itu. Pengurus tersebut menjawab sebaiknya aku datang lebih dulu tanpa membawa apa pun. Mereka ingin mendengar ceritaku dan memeriksa kebun sebelum memutuskan langkah berikutnya. Aku mengucapkan terima kasih dan berjanji mengikuti arahan itu.
Setelah telepon berakhir, aku membuka peta di ponsel dan mencari rute. Panti itu berada di desa sekitar dua puluh kilometer dari tempat kami tinggal. Perjalanan tidak terlalu jauh, tetapi ada beberapa tikungan sempit di jalan menuju desa. Aku mencatat nama jalan dan nomor telepon panti supaya bisa menghubungi mereka bila tersesat.
Aku lalu menelepon Akhza dan memberi tahu bahwa panti menerima kunjungan esok hari. Ia menarik napas pelan. Ia ingin ikut, tetapi ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan. Ia menyarankan agar aku menunggu sampai ia punya waktu.
“Aku tidak mau memaksamu meninggalkan pekerjaan,” kataku. “Aku bisa pergi sendiri. Tempatnya tidak jauh.”
“Kalau begitu, setidaknya kabari aku sebelum berangkat dan setelah sampai. Jangan pergi kalau kamu merasa tidak enak badan.”
“Iya. Aku akan kabari.”
Aku tidak berjanji akan menunda. Setelah panggilan berakhir, aku memeriksa kembali tas kecil yang telah kusiapkan: kartu identitas, buku catatan, air minum, dan nomor panti. Aku merasa ada sesuatu yang kurang. Mataku beralih ke lemari tempat kotak kayu tersimpan.
Mbah Pur menyuruhku menyimpan kotak itu dan tidak membukanya. Pengurus panti juga memintaku datang tanpa membawa benda. Aku tahu seharusnya aku mengikuti arahan mereka. Namun aku terus memikirkan akar hitam di dalam kotak. Jika akar itu berasal dari bunga yang dulu kuambil, mungkin ia satu-satunya bukti yang dapat menjelaskan mengapa aku datang setelah sekian lama.
Aku berusaha mencari alasan lain untuk membawanya. Aku takut pengurus menganggap ceritaku dibuat-buat tanpa melihat sesuatu yang nyata. Aku juga takut bila menunda lagi, kesempatan untuk mengembalikan bunga itu semakin jauh. Pikiran itu tidak menghapus peringatan yang sudah kudengar. Aku tahu keputusan ini nekat dan mungkin keliru.
Aku membuka lemari, mengambil kotak dengan hati-hati, lalu memastikan tutupnya masih rapat. Aku tidak mengintip ke dalam. Untuk beberapa saat aku hanya memegangnya, mencoba meyakinkan diri bahwa aku masih bisa berubah pikiran. Kotak itu terasa lebih berat daripada terakhir kali kuangkat, walau mungkin hanya karena lenganku sakit.
Aku meletakkannya di lantai dekat tas. Aku tidak langsung memasukkannya. Jika Akhza tahu, ia mungkin akan memintaku menunggu sampai kami pergi bersama. Ia juga mungkin akan mengingatkan bahwa pengurus panti tidak meminta benda apa pun. Aku paham alasan mereka, tetapi rasa takutku membuatku ingin membawa akar itu sebagai pegangan.
Siang harinya, Murti menelepon untuk memastikan teknisi akan datang ke ruang produksi esok pagi. Aku mengatakan bahwa aku ada urusan ke panti, jadi ia bisa memeriksa mesin tanpa aku. Murti setuju dan berterima kasih karena aku sudah memberi kabar. Pembicaraan singkat itu membuatku semakin sadar bahwa aku sedang mengatur banyak urusan sendirian.
Menjelang sore, Akhza menelepon lagi. Rapatnya akan berlangsung sampai siang esok, jadi ia tidak mungkin menemaniku. Ia meminta aku memindahkan jadwal kunjungan. Aku berkata akan mempertimbangkannya, tetapi setelah panggilan berakhir aku tetap memandang kotak di lantai.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi sendiri ke panti esok pagi dan membawa kotak akar itu. Aku tahu keputusan tersebut bertentangan dengan saran Mbah Pur, permintaan pengurus, dan kekhawatiran Akhza. Aku juga tahu aku belum siap menjelaskan semuanya. Namun aku merasa tidak bisa terus menunggu orang lain menentukan kapan aku berani menghadapi kesalahanku.
Aku memasukkan kotak ke dalam tas yang cukup kuat, memastikan tutupnya tidak terbuka, lalu meletakkan tas dekat pintu. Aku belum memberi tahu Akhza bahwa aku memutuskan berangkat. Sebelum tidur, aku menatap tas itu lama-lama dan bertanya pada diri sendiri apakah aku benar-benar siap. Tidak ada jawaban. Yang ada hanya keputusan yang sudah kubuat dan rasa cemas tentang perjalanan esok hari. Malam itu aku memeriksa baterai ponsel, memasukkan uang tunai ke dompet, dan memastikan nomor panti tersimpan di catatan. Aku berusaha tidur, tetapi beberapa kali terbangun untuk melihat tas di dekat pintu. Keputusan membawa akar masih terasa berat. Aku tahu aku bertindak nekat, namun aku takut datang tanpa satu-satunya petunjuk yang kumiliki.