Pagi itu aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Tas kecil yang berisi kotak akar masih berada dekat pintu. Aku duduk di tepi ranjang beberapa saat, mencoba meyakinkan diri bahwa aku hanya akan pergi menemui pengurus panti, bukan melakukan sesuatu yang berbahaya. Akhza belum bangun. Ia tidur larut setelah menyelesaikan berkas kantor, dan aku tidak ingin membangunkannya lalu mendengar ia memintaku menunda perjalanan.
Aku sudah berjanji akan memberitahunya sebelum berangkat. Namun janji itu kutafsirkan dengan cara yang membuatku merasa sedikit lebih baik: aku mengirim panggilan singkat setelah kendaraan datang. Aku mengambil ponsel, memesan ojek, lalu berdiri di dekat jendela menunggu. Aku tetap mengenakan baju lengan panjang. Lengan kananku terasa nyeri, tetapi belum cukup menghalangiku bergerak.
Sebelum keluar, aku menatap pintu kamar. Akhza masih belum bergerak. Aku hampir membatalkan semuanya. Peringatan Mbah Pur tentang tidak membawa kotak terngiang lagi, begitu pula permintaan pengurus panti agar aku datang tanpa benda apa pun. Namun kotak itu ada di tanganku, dan aku merasa akar di dalamnya mungkin menjadi satu-satunya bukti yang bisa menjelaskan kedatanganku.
Ponselku bergetar. Pengemudi ojek sudah sampai. Aku mengirim panggilan kepada Akhza, tetapi ia tidak menjawab. Aku meninggalkan panggilan itu tanpa pesan dan keluar rumah. Aku mengatakan pada diri sendiri bahwa aku akan menghubunginya lagi setelah sampai.
Perjalanan mula-mula berjalan lancar. Jalan utama mulai ramai, tetapi pengemudi memilih rute yang disarankan peta. Aku memeluk tas yang berisi kotak kayu di pangkuan. Setiap kali kendaraan melewati lubang kecil, aku memeriksa tas itu. Pengemudi sempat bertanya apakah aku baik-baik saja.
“Iya, Pak. Hanya takut kotak di dalam tasnya terbentur.”
“Kalau barangnya rapuh, kita pelan-pelan saja.”
Aku berterima kasih. Ia mengurangi kecepatan saat memasuki jalan desa. Udara pagi terasa lembap. Di kiri jalan ada kebun dan rumah-rumah yang jaraknya berjauhan. Aku mengikuti peta sambil membaca nama jalan yang sudah kutulis di buku.
Menjelang sebuah tikungan, kendaraan di depan kami melambat. Pengemudi ojek ikut mengurangi kecepatan. Permukaan jalan tampak licin karena sisa hujan semalam, dan ban tergelincir saat ia mencoba menjaga jarak dari kendaraan lain. Aku hanya sempat mencengkeram sisi jok sebelum tubuhku condong ke samping. Kendaraan berhenti setelah jatuh miring di tepi jalan.
Aku tidak langsung bergerak. Beberapa saat aku hanya mendengar suara kendaraan yang melintas dan langkah warga mendekat. Pengemudi meminta maaf dan bertanya apakah aku terluka. Aku menjawab bahwa aku masih bisa menggerakkan tangan dan kaki. Ia juga memastikan dirinya tidak mengalami cedera serius. Wajahnya pucat karena merasa bersalah, jadi aku mengatakan bahwa jalan memang licin dan kami harus memastikan keadaan lebih dulu.
Salah seorang warga menuntun kami ke bangku di depan warung. Ia membawa kotak pertolongan pertama sederhana dan menawarkan antiseptik. Aku membersihkan lecet kecil di lengan, lalu menutupnya dengan kain bersih. Saat lenganku bergerak, nyeri di bagian benjolan terasa lebih tajam. Aku menahan ekspresi dan tidak menyebutkannya. Aku tidak ingin menambah kepanikan, apalagi aku sendiri belum tahu apakah rasa sakit itu bertambah karena jatuh atau memang sudah ada sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, kami menepi dari jalan agar tidak menghalangi kendaraan lain. Pengemudi meminta maaf sekali lagi. Aku berkata tidak apa-apa, meskipun pikiranku mulai kacau.
Pengemudi meminta maaf dan bertanya apakah aku terluka. Lututku terasa perih dan lengan kananku nyeri, tetapi aku masih bisa duduk. Beberapa warga yang berada di dekat warung datang membantu. Mereka meminta kami tetap tenang dan memindahkan kendaraan ke sisi jalan setelah memastikan tidak ada yang cedera berat.
Tas yang kupeluk terlepas saat aku jatuh. Isinya berhamburan di dekat parit kecil. Buku catatan terbuka, dompet bergeser, botol air menggelinding, sementara kotak kayu terjatuh beberapa langkah dari tempatku. Aku bangkit perlahan dan memeriksa tubuhku. Ada lecet di lengan dan lutut, tetapi aku tidak melihat darah banyak. Rasa sakit di lengan kanan membuatku meringis.
Seorang warga mengambil kotak itu dan menyerahkannya kepadaku. Tutupnya terbuka sedikit. Aku segera memeriksa ke dalam. Kotaknya kosong.
Aku menahan napas. Aku yakin akar hitam itu berada di dalam sebelum berangkat. Aku mencari di sekitar tepi jalan dan di antara barang-barangku. Warga membantu menyisir rerumputan, memeriksa bawah kendaraan, bahkan melihat ke parit. Tidak ada akar. Yang tersisa hanya sedikit tanah kering menempel di sudut kotak.
“Barang apa yang hilang?” tanya seorang warga.
“Cuma akar tanaman,” jawabku, tidak mampu menjelaskan lebih banyak.
Pengemudi memeriksa kotak dan mengatakan ia tidak melihat apa pun ketika tas jatuh. Aku tidak menyalahkannya. Ia juga terlihat khawatir dengan kejadian itu. Salah seorang warga menyuruhku duduk sebentar dan menawarkan air. Aku minum beberapa teguk sambil berusaha menenangkan diri.
Panti masih beberapa kilometer lagi. Aku bisa saja memesan kendaraan baru, tetapi tubuhku gemetar dan lenganku semakin sakit. Aku juga tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada pengurus tanpa membawa kotak atau akar yang ingin kutunjukkan. Aku merasa malu datang hanya untuk mengaku sesuatu yang telah terjadi bertahun-tahun lalu tanpa bukti apa pun.
Aku menelepon nomor panti dari catatan. Setelah tersambung, aku mengatakan bahwa ada kendala di jalan dan aku tidak bisa tiba sesuai jadwal. Aku meminta maaf dan bertanya apakah dapat menjadwalkan ulang kunjungan. Petugas itu menjawab bahwa aku bisa menelepon lagi untuk mencari waktu yang sesuai. Ia tidak menanyakan barang apa yang kubawa.
Setelah panggilan itu, aku meminta pengemudi mengantarku kembali. Ia menawarkan untuk melanjutkan perjalanan jika aku masih ingin pergi, tetapi aku menolak. Aku tidak sanggup memaksa tubuhku dan pikiranku berjalan seolah tak terjadi apa-apa. Aku juga tidak ingin datang dalam keadaan panik lalu berbicara tanpa arah.
Di perjalanan pulang, aku memeluk kotak kosong itu. Aku kehilangan akar yang kubawa dengan nekat. Aku tidak tahu apakah akar itu jatuh di tikungan atau lenyap sebelum sempat kutemukan. Yang pasti, aku gagal sampai ke panti dan belum meminta maaf kepada siapa pun di sana.