Dalam perjalanan pulang dari rumah Mbah Pur, aku terus memikirkan ucapannya. Aku tidak bisa meminta orang lain mengembalikan bunga yang pernah kuambil. Kalau benar ada sesuatu yang mengikuti dari panti, aku harus menemui tempat itu dan mencari tahu apa yang sebaiknya kulakukan. Mbah Pur juga menyarankan agar aku berbicara jujur kepada orang-orang yang akan terkena akibatnya. Namun aku belum sanggup membuka semua rahasia sekaligus.
Sesampainya di rumah, aku meletakkan buku catatan di meja. Kotak kayu masih berada di rak lemari. Aku tidak membukanya. Aku hanya memandangnya sejenak, mengingat pesan Mbah Pur agar benda itu tetap tertutup. Bau tanah tidak tercium, dan tidak ada suara dari dalam. Rumah terasa hening, tetapi pikiranku belum tenang.
Aku menelepon Akhza saat ia sedang tidak rapat. Aku mengatakan bahwa aku menemui Mbah Pur untuk meminta arahan tentang bunga-bunga yang mati dan akar hitam yang kami temukan di pot.
“Beliau menyarankan aku menghubungi panti jompo tempat kegiatan sosialmu dulu,” kataku. “Aku ingin mencari tahu soal kebun belakangnya.”
Akhza terdiam sebentar. “Kamu yakin itu berhubungan dengan bunga yang sekarang ada di rumah?”
“Aku belum tahu. Mbah Pur juga tidak memastikan. Tapi tempat itu satu-satunya petunjuk yang kupunya.”
“Kalau mau datang, cari tahu dulu apakah mereka menerima kunjungan. Jangan pergi mendadak. Kita bisa lihat jadwalku.”
Aku mengiyakan. Ia terdengar sibuk, jadi aku tidak memperpanjang telepon. Aku juga tidak mengatakan bahwa aku pernah memetik sekuntum bunga tanpa izin. Pengakuan itu terasa seperti batu di dadaku, tetapi aku belum menemukan keberanian untuk mengatakannya kepada Akhza.
Aku mencari nomor panti melalui catatan lama di email dan daftar kontak kegiatan sosial. Pencarian itu memakan waktu. Nama panti masih kuingat samar-samar, tetapi alamat persisnya berubah karena jalan di desa tersebut pernah diperbaiki. Aku menemukan kartu kegiatan lama yang terselip di map dokumen. Di sana ada nama desa dan nomor telepon kantor panti. Aku menyalinnya ke buku catatan.
Aku kembali memikirkan kata-kata Mbah Pur: bertanggung jawab, bukan meminta jaminan. Selama ini aku ingin semua penderitaan berhenti secepat mungkin. Aku takut kehilangan usaha, takut sosok itu menyakiti Akhza, dan takut mendengar dokter mengatakan sesuatu yang buruk tentang lenganku. Namun ketakutan itu tidak mengubah fakta bahwa ada sesuatu yang belum beres.
Lengan kananku kembali terasa nyeri saat aku menutup map. Aku duduk, menahan bagian yang sakit melalui kain, lalu membiarkan tanganku diam di pangkuan. Benjolan itu masih ada. Aku tidak membukanya untuk memeriksa karena takut rasa panikku akan bertambah. Aku memilih tidak menceritakan hal itu kepada Akhza malam ini. Aku tahu keputusan itu bukan penyelesaian, hanya penundaan yang harus segera kuakhiri.
Sore itu aku menyiapkan makan malam sederhana. Beberapa kali aku hampir menjatuhkan sendok karena berusaha memakai tangan kiri. Aku berhenti dan mengatur piring di meja agar tidak perlu mengangkat benda berat. Aku juga menelepon Murti untuk memberitahunya bahwa teknisi boleh memeriksa tempat produksi tanpa kehadiranku jika jadwalnya bertepatan dengan urusanku ke panti.
“Ada urusan keluarga?” tanya Murti.
“Aku perlu mencari tahu sesuatu tentang panti jompo yang pernah kukunjungi. Aku belum tahu kapan bisa pergi.”
“Baik. Kabari kalau sudah pasti. Aku bisa atur jadwal teknisi.”
Aku merasa lega karena Murti tidak menuntut penjelasan lebih jauh. Namun hubungan kami belum sepenuhnya kembali seperti biasanya. Aku tidak ingin menambah alasan baginya untuk merasa aku menyembunyikan sesuatu, tetapi aku juga belum tahu bagaimana menjelaskan kejadian aneh tanpa membuatnya takut.
Akhza pulang setelah matahari mulai turun. Saat makan malam, aku mengatakan bahwa aku menemukan nomor telepon panti dan ingin menghubungi mereka esok pagi. Ia setuju, selama aku meminta izin kunjungan lebih dulu. Kami membicarakan kemungkinan pergi bersama, tetapi ia belum bisa memastikan jadwal kerjanya.
“Kalau mereka cuma menerima tamu pada jam tertentu, kabari aku,” katanya. “Aku akan coba atur waktu.”
Aku mengangguk. Aku ingin mempercayai bahwa kami akan pergi bersama, tetapi jadwal Akhza sering berubah. Aku memutuskan untuk tidak mendesaknya malam itu. Aku juga tidak menceritakan bunga yang pernah kuambil. Aku berharap setelah mendapat keterangan dari pengurus, aku bisa menjelaskan semuanya dengan lebih baik.
Aku merasa lega karena Akhza tidak mengejek ceritaku dan tidak memaksaku mengambil keputusan malam itu. Namun kelegaanku tidak menghilangkan rasa takut. Ia tetap tidak tahu alasan sebenarnya aku ingin kembali ke panti. Aku berniat mengaku, tetapi belum bisa memastikan kapan. Setiap kali membayangkan wajahnya berubah kecewa, aku memilih diam.
Aku juga membuka laci tempat menyimpan dokumen kegiatan lama. Ada beberapa foto rombongan dari hari bakti sosial, tetapi gambar kebun tidak terlihat. Aku meneliti wajah-wajah yang kukenal dan mencoba mengingat siapa yang berdiri dekat denganku ketika bunga itu kupetik. Ingatanku belum utuh. Karena itulah aku ingin berbicara kepada pengurus yang mungkin masih menyimpan daftar kegiatan atau mengenal para lansia yang tinggal di sana.
Aku tidak akan menyalahkan kesibukan atau lupa sebagai alasan. Aku memang pernah menganggap bunga itu milikku hanya karena tumbuh di tempat terbuka. Kalau pengurus menganggap tindakanku tidak sopan, aku harus menerima teguran mereka. Aku tidak akan meminta mereka langsung percaya pada cerita tentang akar hitam. Pertama-tama, aku hanya perlu mengakui perbuatanku dengan jujur.
Sebelum tidur, aku menulis beberapa pertanyaan untuk panti: apakah kebun belakang masih ada, apakah mereka masih menanam bunga biru keabuan, dan siapa yang bertugas saat kunjungan kami dulu. Aku tidak ingin menelepon dalam keadaan bingung. Besok aku akan mencari tahu cara datang dengan benar. Untuk pertama kalinya, langkah berikutnya terasa nyata, meskipun aku belum tahu jawaban apa yang menungguku.
Aku menyadari diamku tidak membuat rasa takut berkurang. Setiap kali ada pertanyaan, aku malah menambah alasan untuk menunda. Aku ingin menjadi lebih berani, tetapi keberanian bukan berarti bertindak tanpa memikirkan akibat. Aku masih bisa menghubungi Akhza jika perjalanan terasa sulit. Meski begitu, aku tetap belum memberi tahu rencanaku membawa kotak.