Keesokan harinya aku berangkat ke kantor cabang tempat Akhza bekerja setelah memastikan semua dokumen pencairan dana sudah masuk ke dalam tas. Ia telah memberitahuku bahwa namaku akan dicatat di meja penerima tamu. Aku memilih baju lengan panjang yang sama seperti sehari sebelumnya, bukan hanya untuk menyembunyikan benjolan, tetapi juga agar tidak perlu menjelaskan kenapa aku terus memegangi lengan kanan.
Perjalanan menuju kantor cukup lancar. Aku duduk di kursi penumpang mobil sewaan dan memeriksa isi tas beberapa kali. Kartu identitas, dokumen usaha, dan buku tabungan semuanya ada. Aku memastikan teleponku berisi nomor Akhza, meski aku tahu ia sedang bekerja dan tidak bisa selalu menjawab.
Gedung kantor itu tampak sibuk ketika aku tiba. Beberapa nasabah keluar masuk, sementara pegawai berjalan cepat melewati pintu kaca. Aku berhenti sebentar di dekat pintu masuk, menarik napas panjang, lalu berjalan ke meja lobi.
“Saya ingin bertemu Pak Akhza. Saya Monica, istrinya. Saya sudah menghubungi beliau,” kataku kepada petugas.
Petugas memeriksa daftar tamu. Ia mencatat namaku dan meminta aku menunggu di area kursi. Aku duduk, meletakkan tas di pangkuan, dan mencoba tidak terlalu memperhatikan suara percakapan di sekelilingku. Lengan kananku mulai terasa berdenyut lagi. Aku menahan diri agar tidak merabanya di depan orang lain.
Tak lama kemudian, seorang pegawai menghampiri dan mengatakan bahwa dokumen pencairan perlu diperiksa terlebih dahulu. Ia meminta aku menunggu beberapa menit sebelum bertemu Akhza. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tidak ada alasan untuk tergesa-gesa; urusan itu memang harus dilakukan dengan benar.
Aku mengambil map dari tas, lalu memeriksa halaman-halamannya. Ada formulir yang perlu kutandatangani dan salinan identitas. Aku mengeluarkan pulpen dengan tangan kiri. Gerakanku canggung, tetapi aku berhasil menulis namaku. Rasa nyeri di lengan kanan terasa seperti tekanan dari dalam. Aku menunduk agar ekspresiku tidak menarik perhatian.
Dari tempat duduk, aku dapat melihat sebagian area kerja di balik sekat. Akhza tidak terlihat. Aku tidak ingin meneleponnya karena mungkin ia sedang berhadapan dengan nasabah. Aku menunggu sambil membaca ulang dokumen, memastikan jumlah dana sesuai dengan pembicaraan kami. Dana itu akan dipakai untuk kebutuhan GO MM, terutama pembelian perlengkapan setelah tempat produksi kembali bisa digunakan. Aku tidak ingin satu kesalahan administrasi membuat Murti menunggu lebih lama.
Seorang pegawai datang lagi dan meminta satu dokumen tambahan. Aku membuka tas dengan hati-hati. Saat meraih map, lengan bajuku tersangkut pada pengait tas. Aku berhenti, menahan rasa sakit, lalu melepaskannya pelan-pelan. Pegawai itu tidak menyadari apa pun. Aku menyerahkan dokumen yang diminta dan kembali duduk.
Aku mengirim kabar kepada Akhza lewat panggilan singkat. Ia mengangkat setelah beberapa dering.
“Aku sudah di lobi. Dokumennya sedang diperiksa.”
“Baik. Tunggu sebentar, Moni. Aku akan minta staf mengantarmu ke bagian administrasi.”
“Iya. Aku tunggu.”
Aku tidak menyebutkan nyeri di lengan. Aku merasa tak enak menambah urusan di tengah pekerjaannya. Setelah percakapan berakhir, seorang petugas mengarahkanku ke ruang tunggu kecil di dekat lobi. Ia bilang Akhza akan datang setelah menyelesaikan pembicaraannya.
Di ruang tunggu itu, aku menaruh tas di kursi sebelah. Aku mencoba merilekskan bahu, tetapi lengan kananku tetap terasa berat. Untuk mengalihkan perhatian, aku melihat jam dinding. Waktu berjalan lebih lambat saat seseorang sedang menunggu. Aku mengingat bahwa setelah urusan ini selesai, aku perlu menghubungi Murti untuk memastikan jadwal teknisi.
Pintu lobi terbuka dan beberapa orang masuk. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka sampai melihat seorang perempuan berdiri di dekat meja penerima tamu. Ia mengenakan pakaian kerja dan tampak sedang berbicara dengan petugas. Setelah beberapa saat, ia menoleh ke arahku.
Aku mengenalinya sebagai Hera, rekan kantor Akhza yang pernah datang ke rumah kami saat pertemuan dengan Septa, Devi, dan Akmal. Tatapannya membuatku teringat sikap dinginnya malam itu. Aku tidak tahu apakah ia juga mengenaliku. Ia memandangku beberapa detik, lalu berjalan ke arah ruang tunggu.
Aku merapikan map di pangkuan. Saat Hera berhenti di hadapanku, aku mencoba menyapanya dengan sopan.
“Selamat siang, Hera.”
Ia tidak langsung menjawab. Matanya sempat bergerak ke lengan bajuku, kemudian kembali ke wajahku. Aku bertanya apakah Akhza sedang sibuk. Hera menarik kursi di seberang dan duduk tanpa meletakkan tasnya.
“Aku tahu kamu datang untuk mengurus pencairan dana,” katanya.
Aku mengangguk. “Dokumennya sedang diperiksa.”
Hera tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi ia berhenti. Ada kegelisahan di wajahnya yang tidak pernah kulihat ketika ia datang ke rumah. Aku menunggu, tidak ingin mendesaknya. Sebelum ia bicara lebih jauh, pegawai yang tadi membantuku masuk kembali dan mengatakan bahwa Akhza masih menyelesaikan urusan. Aku menjawab bahwa aku bisa menunggu.
Hera menatap pintu lobi, seolah memastikan seseorang tidak datang. Kemudian ia berkata pelan, “Ada sesuatu yang ingin aku jelaskan tentang sikapku selama ini.”
Aku menegakkan punggung. Aku tidak tahu apa yang akan ia katakan, tetapi suaranya terdengar lebih serius daripada sapaan biasa. Di sekitar kami, aktivitas kantor terus berjalan. Aku memegang map dengan tangan kiri, menunggu penjelasannya.
Aku mencoba meminta Hera menyebutkan kapan ia melihat perempuan itu di lobi. Ia mengatakan tidak ingat tanggalnya, hanya mengingat bahwa kejadian itu berlangsung lebih dari sekali dalam beberapa pekan terakhir. Ia biasanya melihat sosok itu sebentar, lalu mendapati tempatnya kosong ketika mencoba memastikan. Hera mengira perempuan itu menunggu seseorang, mungkin Akhza, tetapi tidak pernah melihatnya berbicara dengannya.
“Kamu pernah bertanya langsung kepada Akhza?” tanyaku.
“Pernah. Dia bilang tidak ada orang yang menunggunya. Aku tidak mau memaksakan dugaan. Setelah melihatnya di belakangmu saat rapat, aku mulai berpikir mungkin kamu tahu sesuatu. Itu sebabnya aku bersikap tidak ramah.”
Aku mengerti bagaimana kesalahpahaman itu terbentuk, meski tidak membenarkan sikapnya. Aku juga belum bisa menyalahkan Hera karena berusaha memahami sesuatu yang hanya ia lihat sepintas. Aku mengatakan bahwa aku akan berbicara dengan Akhza setelah mendapat waktu yang tepat. Aku tidak ingin membahasnya terburu-buru di kantor atau membuat rumor tentang rekan kerjanya.
Hera mengatakan ia bersedia menceritakan lagi apa yang ia ingat jika aku membutuhkannya. Aku mengucapkan terima kasih, lalu menanyakan apakah ia pernah melihat wajah sosok itu dengan jelas. Ia menjawab tidak; yang paling ia ingat adalah gaun bermotif bunga, rambut panjang, dan posisinya yang berdiri tepat di belakangku. Tidak ada detail lain yang bisa ia pastikan. Aku meminta Hera menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri sampai kami memahami apa yang terjadi. Ia setuju dan berjanji tidak akan menyebarkannya kepada rekan kantor lain. Hera lalu meminta izin kembali bekerja. Aku mengangguk, masih memikirkan pengakuannya.
Keterangan itu justru membuatku berhati-hati. Aku tidak boleh mengubah ingatan Hera menjadi bukti bahwa semua kejadian berkaitan. Namun aku juga tidak bisa mengabaikannya. Selama ini Akhza menyarankan penjelasan yang masuk akal karena ia sendiri tidak melihat sosok itu. Kini Hera pun pernah melihatnya, meskipun Akhza tetap tak mengetahui apa-apa. Ada pertanyaan baru yang perlu kusimpan sampai kami bisa membicarakannya tanpa tergesa-gesa.