Pagi berikutnya, rasa nyeri itu belum hilang. Aku bangun lebih dulu daripada Akhza dan tetap mengenakan baju lengan panjang. Benjolan di lengan kananku terasa lunak saat kusentuh dari balik kain, tetapi aku tidak memeriksanya lagi. Aku tidak ingin memulai hari dengan membiarkan ketakutan menguasai pikiranku.
Akhza menyiapkan kopi sebelum berangkat kerja. Ia bertanya apakah aku tidur nyenyak. Aku menjawab iya, walau beberapa kali terbangun karena posisi lenganku terasa tidak nyaman. Ia memperhatikan wajahku, tetapi aku buru-buru menanyakan jadwalnya hari itu. Ia akan menghadiri rapat pagi di kantor cabang, lalu meninjau beberapa berkas.
“Kalau ada apa-apa, telepon aku,” katanya sebelum keluar.
“Iya, Za.”
Aku menutup pintu dan bersandar sebentar. Kata-katanya membuat rasa bersalahku semakin kuat. Aku tahu ia akan berusaha membantuku, tetapi aku belum sanggup melihat kecemasan di wajahnya. Aku juga takut ia akan langsung membawaku ke dokter. Di satu sisi, aku tahu pemeriksaan medis masuk akal. Di sisi lain, aku belum siap menghadapi hasil yang mungkin kudengar.
Aku memulai pekerjaan dengan tangan kiri. Kegiatan itu membuat semuanya lambat, termasuk menyortir daftar pesanan dan membuka paket contoh kain. Aku mengirim catatan kepada Murti mengenai warna yang sudah disepakati. Ia menjawab melalui panggilan singkat dan mengatakan bahwa ia sedang mencoba mencari jadwal baru untuk memeriksa mesin di tempat produksi.
“Kamu bisa datang kalau sudah siap,” katanya. “Aku tidak mau memaksamu.”
“Aku akan datang. Kita perlu tahu apakah ruangannya aman dan mesinnya memang bermasalah.”
Murti diam sejenak. “Aku senang kamu masih mau membantu. Bu Sari masih takut, tapi ia bilang mau kembali kalau ada teknisi yang memeriksa mesin lebih dulu.”
“Itu keputusan yang baik. Jangan suruh siapa pun bekerja sebelum mereka merasa aman.”
Pembicaraan kami terasa lebih hangat daripada kemarin, meski belum kembali seperti biasanya. Aku tidak menyebutkan akar hitam. Aku berharap bisa menceritakannya setelah mendapat penjelasan yang lebih jelas, bukan sekadar dugaan.
Sesudah menutup telepon, aku mencoba menyelesaikan pekerjaan toko daring. Beberapa pelanggan menunggu jawaban tentang ukuran. Aku mengetik dengan satu tangan dan berkali-kali mengoreksi salah ketik. Lengan kananku kubiarkan bertumpu di meja agar tidak banyak bergerak.
Menjelang siang, rasa nyeri kembali menusuk. Aku berdiri dan berjalan ke dapur, lalu berhenti di tengah jalan. Benjolan itu terasa berdenyut. Aku menutup mata, menghitung napas, dan menunggu rasa sakit mereda. Tidak ada suara aneh, tidak ada sosok di sudut ruangan. Hanya rumah yang sunyi dan lengan yang sakit.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku harus membedakan kejadian nyata dari ketakutan. Akar di dalam kotak memang nyata. Mesin yang berhenti dan Bu Sari yang pusing juga benar-benar terjadi. Namun belum ada bukti semua itu berasal dari satu sebab. Begitu pula benjolan ini belum tentu berkaitan dengan bunga yang kucuri. Aku harus memeriksakannya, tetapi keputusan itu terasa jauh lebih sulit daripada yang seharusnya.
Aku membuka kalender dan mencari waktu yang cocok untuk bertemu Murti. Ia menyebutkan bahwa ia ingin membawa teknisi ke lokasi produksi pada hari berikutnya. Aku berniat datang, tetapi aku juga harus mengurus pencairan dana yang sudah disiapkan untuk kebutuhan usaha. Dana itu berada di rekening yang dikelola bersama Akhza, dan dokumen pengambilannya perlu diselesaikan di kantor tempat ia bekerja.
Aku menelepon Akhza untuk menanyakan jam yang tepat. Ia mengatakan berkasnya sudah disiapkan dan aku bisa datang ke kantor saat jam istirahat atau menjelang sore. Ia akan memberi tahu petugas lobi bahwa aku datang. Kami membicarakan jumlah dana dan tujuan penggunaannya dengan singkat, lalu menutup telepon.
Setelah itu, aku menulis daftar yang harus dibawa: kartu identitas, dokumen usaha, dan buku tabungan. Aku memasukkan semuanya ke dalam tas dengan tangan kiri. Saat mencoba mengangkat tas, lengan kananku tertarik dan nyerinya meningkat. Aku meletakkannya kembali, lalu mengatur tali agar beratnya tidak menekan sisi tubuhku.
Aku memandang ponsel. Aku bisa saja menelepon Akhza lagi dan mengakui bahwa lenganku sakit. Namun aku takut percakapan itu akan berakhir dengan keputusan pergi ke rumah sakit. Aku menunda lagi, mengatakan pada diri sendiri bahwa aku akan bercerita setelah urusan dana selesai. Penundaan itu membuatku tidak tenang, tetapi aku berusaha memusatkan perhatian pada langkah yang bisa kulakukan.
Sore harinya, Akhza pulang dan kami makan malam. Aku bercerita bahwa besok aku perlu ke kantornya mengurus dokumen pencairan dana. Ia mengatakan akan menyampaikan namaku kepada petugas lobi dan meminta aku menunggu di sana. Aku tidak memberi tahu tentang nyeri di lenganku. Aku menyimpan tangan kanan di bawah meja dan menjawab pertanyaannya dengan tenang.
Sebelum tidur, aku mengecek dokumen sekali lagi dan menaruhnya di tas. Besok aku akan bertemu Akhza di kantornya, menyelesaikan urusan dana, lalu kembali untuk menghubungi Murti tentang teknisi. Aku belum tahu bahwa ada hal lain yang menungguku di lobi. Untuk malam itu, aku hanya berusaha menjaga rahasia kecil di balik lengan bajuku tetap tersembunyi.
Aku turun di depan gedung dan membayar kendaraan sebelum masuk. Udara di luar terasa panas, sedangkan lobi berpendingin udara. Pergantian suhu membuat kulitku meremang. Aku duduk sebentar untuk menyesuaikan diri, lalu mengambil nomor antrean untuk meja administrasi. Petugas memastikan dokumenku lengkap dan menjelaskan bahwa pencairan perlu persetujuan Akhza sebagai pihak yang ikut menandatangani pengajuan.
Aku tidak keberatan menunggu. Sambil duduk, aku mengamati orang-orang yang datang dengan urusan masing-masing: seorang bapak membawa map plastik, dua perempuan membicarakan cicilan, dan seorang petugas mengarahkan nasabah ke loket. Semua terlihat biasa. Aku mencoba memakai pemandangan itu untuk menenangkan diri. Tidak setiap hal aneh harus kutafsirkan sebagai pertanda, dan tidak setiap rasa sakit berarti sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Petugas kemudian menyerahkan formulir tambahan. Aku membacanya dari awal sampai akhir sebelum menandatangani. Aku ingin memastikan dana yang dicairkan masuk ke rekening yang benar dan jumlahnya sama dengan yang telah kami sepakati. Setelah formulir diterima, aku kembali ke kursi tunggu. Waktu berjalan, dan aku bertanya-tanya apakah Akhza sempat menemui nasabah lain sebelum datang.