Hera menunggu sampai pegawai yang tadi mengantarku kembali ke meja lobi. Setelah orang itu pergi, ia menyatukan kedua tangannya di atas tas. Aku duduk diam, berusaha memahami perubahan sikapnya. Selama pertemuan di rumah, ia beberapa kali menatapku dengan cara yang membuatku tidak nyaman. Sekarang ia tampak ragu, bukan sinis.
“Aku minta maaf karena selama ini menatapmu seperti itu,” katanya.
Aku terkejut. “Kenapa, Hera?”
Ia menarik napas, lalu melihat sekeliling. Kami duduk tidak jauh dari orang lain. Ia merendahkan suara, tetapi tetap terdengar jelas.
“Waktu rapat di rumahmu, aku melihat seorang perempuan berdiri di belakangmu.”
Tubuhku menegang. Aku teringat pertemuan rahasia Akhza dengan rekan-rekannya. Malam itu aku tidak menyadari ada orang lain di dekatku. Aku hanya mengingat wajah Hera yang dingin dan suasana yang terasa ganjil.
“Perempuan seperti apa?” tanyaku.
“Dia memakai gaun bermotif bunga. Berdiri tepat di belakangmu, tapi kamu tidak menoleh. Awalnya kukira itu teman atau kerabatmu. Aku juga merasa aneh karena yang lain seperti tidak memperhatikannya.” Hera menundukkan suara lebih jauh. “Aku bertanya pada Akhza setelahnya, tapi dia bilang tidak ada siapa-siapa.”
Aku menahan napas. Gaun floral. Sosok yang sama seperti perempuan yang kadang muncul dalam penglihatanku, perempuan yang datang membeli baju lalu menaburkan tanah kuburan di pot-potku. Aku tidak tahu apakah Hera melihat Nisrina atau hanya bayangan lain yang dibuat oleh jelmaan itu. Namun ia menggambarkan sesuatu yang selama ini hanya kuceritakan kepada Akhza.
“Kamu melihat wajahnya?”
Hera menggeleng. “Tidak jelas. Aku cuma ingat gaunnya. Rambutnya panjang, dan dia berdiri sangat dekat denganmu. Setelah rapat selesai, aku melihat dia lagi di lobi kantor.”
“Di sini?” Aku menoleh sekilas ke pintu kaca.
“Beberapa kali. Dia menunggu Akhza di lobi. Tidak lama, lalu menghilang atau pergi. Aku pernah menyapanya, tapi dia tidak menjawab. Aku pikir ada masalah pribadi antara kamu dan dia. Karena itu aku jadi salah paham dan bersikap tidak baik kepadamu.”
Aku meremas ujung map. Sosok itu memang pernah menunggu Akhza, tetapi sejauh yang kutahu hanya aku yang bisa melihatnya. Akhza tidak pernah mengakui melihat perempuan itu. Kini Hera mengatakan ia juga melihat sosok bergaun bunga, tetapi Akhza tetap tidak melihatnya. Aku merasa seperti berdiri di antara dua kenyataan yang tidak saling bertemu.
“Aku tidak tahu siapa dia,” kataku jujur. “Aku juga pernah melihat perempuan yang mirip begitu, tapi Akhza tidak melihatnya.”
Hera menatapku tanpa senyum. “Jadi kamu memang mengenalnya?”
“Tidak. Dia pernah datang ke toko dan membeli baju. Setelah itu, kejadian aneh mulai terjadi di rumahku.” Aku berhenti. Aku belum yakin bisa menceritakan semuanya di tengah lobi kantor. “Aku belum mengerti apa hubungannya.”
Hera tampak ingin bertanya lagi, tetapi ia mengurungkan niat. “Aku tidak tahu harus percaya apa. Aku hanya tahu yang kulihat saat rapat. Aku tidak bilang ini sesuatu yang gaib.”
“Aku juga belum bisa membuktikan apa pun.”
Ia mengangguk pelan. Untuk sesaat, kami sama-sama diam. Aku ingin bertanya kapan tepatnya ia melihat perempuan itu di lobi dan apakah sosok itu selalu mengenakan gaun yang sama. Namun aku tidak ingin membuatnya merasa sedang diperiksa. Yang penting, ada orang lain yang melihat sesuatu yang selama ini kukira hanya muncul di hadapanku.
“Aku minta maaf karena menilaimu,” kata Hera. “Harusnya aku bertanya, bukan malah bersikap buruk.”
“Terima kasih sudah menjelaskan. Aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi aku menghargai kejujuranmu.”
Hera menghela napas. “Aku tidak akan membicarakan ini ke orang kantor. Aku tahu rapat itu juga seharusnya rahasia.”
Aku mengangguk. Rapat tersebut memang urusan kerja Akhza dan rekan-rekannya. Aku tidak ingin memperluas pembicaraan ini ke orang lain. Aku pun tidak ingin membuat kesimpulan yang dapat merusak pekerjaan suamiku.
Saat itulah Akhza muncul dari koridor. Ia menghampiri kami dengan berkas di tangan. “Moni, maaf menunggu. Dokumennya sudah bisa diproses.” Ia menoleh kepada Hera. “Kalian sedang bicara?”
Hera berdiri. “Aku cuma menyapa Monica.” Wajahnya kembali tenang. Ia tidak mengulang penjelasan tadi.
Akhza tidak menunjukkan tanda bahwa ia tahu isi percakapan kami. Ia menjelaskan bahwa bagian administrasi akan memeriksa dokumen terakhir sebelum dana dicairkan. Aku mengikutinya ke meja petugas, tetap memegang map dengan tangan kiri. Sebelum beranjak, aku melirik Hera. Ia memberi anggukan kecil, lalu kembali ke pekerjaannya.
Proses administrasi berlangsung beberapa menit. Akhza memastikan jumlah dan tujuan pencairan sesuai dengan berkas. Aku menandatangani formulir yang diperlukan. Ketika urusan selesai, ia menanyakan apakah aku ingin pulang bersama atau menunggu sebentar sampai ia bisa mengantarku.
“Aku bisa pulang sendiri. Kamu masih ada pekerjaan, kan?”
“Aku tinggal menyelesaikan satu berkas. Kalau lenganmu capek membawa tas, bilang.”
Aku hampir bertanya bagaimana ia bisa tahu lenganku terasa berat, tetapi ia hanya melihatku memegang tas dengan tangan kiri. Aku berkata tidak apa-apa dan mengucapkan terima kasih. Ia tidak memaksaku bercerita. Kami berpisah di dekat lobi setelah ia memastikan aku sudah memesan kendaraan.
Di perjalanan pulang, aku memikirkan ucapan Hera. Ia melihat perempuan bergaun bunga di belakangku saat rapat di rumah dan melihat sosok itu menunggu Akhza di lobi. Namun Akhza tidak pernah melihatnya. Pengakuan itu tidak membuat semuanya jelas. Justru pertanyaanku bertambah: mengapa Hera bisa melihatnya, dan apa yang membuat sosok itu datang ke kantor?
Lengan kananku berdenyut lagi saat kendaraan melewati jalan yang tidak rata. Aku memeluk tas dengan tangan kiri dan menahan rasa sakit tanpa membuka lengan baju. Aku masih menyembunyikan benjolan itu dari Akhza. Di dalam pikiranku, dua hal yang belum selesai saling mendesak: rasa sakit di tubuhku dan perempuan yang kini ternyata pernah dilihat Hera.
Aku tetap belum tahu apakah harus menceritakan pengakuan Hera kepada Akhza malam ini. Aku ingin mendengar suamiku lebih dulu, tanpa membuatnya merasa dituduh. Untuk sementara, aku akan menyimpan keterangannya dengan hati-hati dan mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya.