Pagi itu aku mengenakan blus lengan panjang yang sudah kusiapkan semalam. Akhza sedang bersiap berangkat kerja ketika aku merapikan kerahnya. Ia menatapku sebentar dan bertanya apakah aku kedinginan.
“Tidak. Aku cuma ingin pakai ini,” jawabku sambil tersenyum.
Ia tidak bertanya lebih jauh. Setelah berpamitan, Akhza berangkat dengan mobilnya. Aku mengunci pintu, lalu memulai pekerjaan seperti biasa. Untuk beberapa jam pertama, semuanya berjalan lancar. Aku membalas pertanyaan pelanggan, mencocokkan jumlah stok dengan catatan, dan menelepon gudang untuk memastikan kiriman berikutnya tidak tertunda.
Menjelang siang, rasa nyeri muncul di lengan kananku. Awalnya hanya seperti pegal setelah terlalu lama mengetik. Aku mengubah posisi duduk dan memutar bahu beberapa kali. Rasa itu berkurang sebentar, lalu kembali lebih tajam tepat di bawah siku. Aku menghentikan pekerjaan dan menggosok bagian yang sakit.
Mungkin aku terlalu lama menatap layar, pikirku. Aku berdiri untuk mengambil air minum. Saat mengangkat gelas, lengan kananku terasa berat. Aku menaruhnya kembali sebelum sempat terjatuh. Jantungku mulai berdebar, tetapi aku berusaha menenangkan diri. Beberapa hari terakhir memang menguras pikiranku. Bisa saja tubuhku hanya kelelahan.
Aku duduk di tepi sofa dan menggulung lengan blus. Kulitku terlihat normal. Tidak ada luka atau perubahan warna. Namun ketika kuraba bagian yang nyeri, jemariku menyentuh sesuatu yang lunak dan sedikit menonjol. Aku menarik tanganku seketika.
Dengan napas tertahan, aku meraba lagi. Benjolan itu ada, tidak keras, tetapi jelas berbeda dari permukaan kulit di sekitarnya. Ukurannya tidak besar, kira-kira sebesar kelereng kecil. Rasa sakitnya bertambah ketika kutekan. Aku segera menurunkan lengan baju untuk menutupinya, seolah kain bisa membuat benda itu lenyap.
Aku mengambil ponsel dan membuka kontak Akhza. Nama “My Hubby” terlihat di layar. Aku hampir meneleponnya, tetapi jempolku berhenti di atas tombol panggil. Ia sedang bekerja. Lagi pula, aku belum tahu harus menjelaskan apa. Kalau ia mendengar kata benjolan, ia pasti akan menyuruhku memeriksakan diri ke dokter. Aku belum siap mendengar itu.
Kata-kata dokter dalam ingatanku membuat tengkukku terasa dingin. Belum ada dokter yang memeriksa benjolan ini, dan aku tidak boleh menyimpulkan apa pun. Aku tahu itu. Namun setiap kali teringat cairan yang menurut dokter bisa mengental di bawah kulit, rasa takutku muncul lebih dulu daripada pikiranku yang jernih.
Aku membatalkan panggilan. Sebagai gantinya, aku mengoleskan minyak hangat pada lengan, berharap nyerinya berkurang. Setelah itu aku bekerja memakai tangan kiri. Pekerjaanku jadi lebih lambat. Beberapa kali aku salah mengetik alamat pelanggan dan harus mengulanginya. Aku kesal kepada diriku sendiri, lalu berhenti sebelum emosi membuatku semakin ceroboh.
Siang bergeser menjadi sore. Aku tetap memakai blus lengan panjang meskipun udara terasa panas. Saat ada kurir mengantar paket, aku menandatangani penerimaan dengan tangan kiri. Kurir itu tidak memperhatikan apa pun. Aku juga berusaha bersikap normal ketika menelepon staf gudang.
Rasa nyeri sempat mereda, lalu datang lagi saat aku membawa tumpukan pakaian dari kamar ke ruang tengah. Aku terpaksa meletakkannya di lantai. Benjolan itu terasa lebih sensitif ketika lengan bajuku bergesekan dengannya. Aku menahan napas dan menunggu sampai rasa sakitnya surut.
Aku mengambil cermin kecil dan memeriksa lengan sekali lagi di kamar mandi. Benjolan itu masih tertutup kain. Aku tidak berani membuka lengan baju. Melihatnya sekali tadi saja sudah membuat pikiranku berlari terlalu jauh. Aku mengingatkan diri sendiri bahwa rasa takut bukan diagnosis.
Akhza menelepon sekitar pukul lima. Ia bilang sedang menyelesaikan pekerjaan dan mungkin pulang sedikit terlambat. Aku bertanya apakah ia sudah makan siang. Ia menjawab singkat, lalu balik bertanya apakah aku baik-baik saja.
“Baik, Za. Cuma capek sedikit.”
“Kalau kamu pusing atau sakit, bilang. Jangan ditahan sendiri.”
“Iya.” Aku menelan ludah. “Kamu fokus kerja dulu.”
Setelah telepon berakhir, aku merasa bersalah. Akhza selalu memintaku bercerita, tetapi aku memilih menyembunyikan sesuatu yang mungkin penting. Aku berkata pada diri sendiri bahwa aku hanya ingin menunggu satu malam. Besok kalau benjolan itu masih ada, aku akan memikirkan langkah berikutnya.
Malamnya, saat Akhza pulang, aku sudah berganti ke baju tidur lengan panjang. Ia bertanya kenapa aku memakai baju seperti itu di rumah. Aku menjawab bahwa pendingin ruangan terasa dingin. Ia menerimanya tanpa curiga, kemudian menceritakan pekerjaannya.
Aku mendengarkan sambil menjaga tangan kananku tetap dekat tubuh. Ketika ia menyentuh lenganku untuk menarik kursi, aku menahan gerak dan pura-pura meraih gelas. Ia tidak menyadarinya. Sepanjang makan malam, aku memakai tangan kiri sebisa mungkin.
Di kamar, setelah Akhza tertidur, aku mengangkat lengan baju sedikit dan meraba benjolan itu sekali lagi. Nyeri berdenyut pelan. Aku segera menutupnya kembali. Aku belum mengatakan apa pun kepada suamiku. Aku hanya berharap esok pagi rasa sakit itu sudah hilang.
Aku menimbang-nimbang apakah akan memberi tahu Murti bahwa ada sesuatu yang membuatku sulit bergerak. Namun ia sudah cukup memikirkan kondisi Bu Sari dan Rika. Aku tidak ingin menambah kekhawatirannya sebelum kami memahami kejadian di ruang produksi. Pada saat yang sama, aku sadar bahwa menyembunyikan semuanya membuatku makin terisolasi. Aku mengulang kalimat Akhza dalam hati: kalau ada apa-apa, telepon dia. Untuk sekarang, aku hanya belum sanggup melakukannya.
Menjelang sore aku menghubungi bagian administrasi yang menangani pencairan dana. Petugas menjelaskan dokumen yang harus kubawa dan mengingatkan bahwa prosesnya akan dilakukan langsung di kantor cabang. Aku mencatat keterangannya dengan teliti. Dana tersebut bukan untuk keperluanku pribadi; kami menyiapkannya bersama sebagai modal kerja GO MM. Aku merasa perlu memastikan penggunaannya tercatat dengan benar, apalagi hubungan kerja dengan Murti sedang terasa rapuh.
Aku mengirim kabar kepada Murti bahwa pencairan akan kuurus esok hari. Ia membalas dengan ucapan terima kasih dan mengingatkan agar aku menyimpan semua bukti transaksi. Jawaban singkat itu terdengar wajar, tetapi aku tetap berharap kami bisa kembali berbicara tanpa kehati-hatian. Aku melipat daftar dokumen dan meletakkannya di dekat tas.