Kontrakan kecil di dekat Depok itu belum pernah sesibuk ini. Sejak Subuh, Bi Inah sudah memasak opor. Zakiya datang jam tujuh membawa kue lapis dan dua kursi lipat pinjaman dari tetangga. Rangga menyapu teras tiga kali, padahal teras itu sudah bersih sejak sapuan pertama. Ayah dan Ibuk tiba dari Jogja dengan kereta malam, wajahnya masih lelah tapi matanya berbinar.
Humaira bersembunyi di kamar.
"Neng, keluar atuh," panggil Ibuk dari balik pintu. "Masa tuan rumah ngumpet."
"Bentar, Buk. Kerudungnya miring."
"Udah dibenerin lima kali."
"Belum lurus!"
Ibuk tertawa dan membiarkannya. Ia tahu putrinya bukan sedang membetulkan kerudung. Putrinya sedang mengumpulkan keberanian.
Menjelang jam sepuluh, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Agha turun lebih dulu dengan kemeja batik cokelat. Lalu Akib dan Airin. Lalu, meloncat dari pintu belakang sebelum siapa pun sempat menahannya, seorang gadis kecil dengan gamis merah muda dan wajah sangat serius.
"Assalamualaikum! Adel ikut! Adel mau liat yang galak!"
Seisi teras meledak oleh tawa. Agha menepuk dahinya. Airin buru-buru menarik tangan putrinya sambil meminta maaf. Rangga tertawa paling keras. Dari balik gorden kamar, Humaira menutup mulutnya, menahan tawa. Ketegangannya mendadak hilang separuh.
@@@
Di ruang tamu yang sempit, para orangtua duduk berhadapan. Akib membuka pembicaraan. Suaranya pelan dan sopan, tidak seperti Akib yang suka bercanda di meja makan.
"Kami datang untuk menyampaikan niat anak kami. Agha ingin mengenal Humaira dengan niat menikah. Tapi kami datang bukan untuk menentukan apa-apa. Yang menentukan itu Humaira. Kami cuma mengetuk pintu."
Ayah Humaira mengangguk pelan. Ia laki-laki pendiam dengan rambut yang sudah memutih di pelipis. Rangga mewarisi kulit cokelat dan tubuh tingginya. Ia memandangi Agha cukup lama sebelum bicara.
"Anak saya ini keras kepala. Dari kecil. Kalau dia sudah bilang tidak, gempa pun gak bakal bikin dia bilang iya." Ayah tersenyum tipis. "Tapi kalau dia sudah bilang iya, dia gak akan mundur. Jadi saya cuma minta satu hal ke Nak Agha. Jangan pernah bikin dia menyesal bilang iya."
"Insya Allah, Pak. Saya akan berusaha."
Lalu Ibuk memanggil Humaira keluar.
Ia keluar dengan gamis hijau tua dan kerudung yang akhirnya lurus. Ia mencium tangan Airin, menangkupkan kedua tangan di dada dengan sopan ke arah Akib, lalu duduk di sebelah Ibuk. Ia tidak menatap Agha. Agha juga tidak menatapnya. Keduanya menatap karpet. Adel memandangi mereka bergantian dengan bingung.
"Kok gak liat-liatan?"
"Teh," tegur Airin.
"Kan katanya ta'aruf. Ta'aruf itu kenalan. Kenalan kok gak liat-liatan?"
Kali ini Humaira tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa sampai bahunya berguncang, dan ketika ia mengangkat wajah, ia tak sengaja menatap Agha. Laki-laki itu juga sedang tertawa. Dan untuk sedetik, mereka saling memandang tanpa canggung.
@@@
Setelah makan opor, para orangtua memberi kesempatan keduanya bicara. Di teras, ditemani Rangga yang duduk di kursi lipat di ujung, pura-pura membaca koran. Zakiya duduk di sebelahnya, pura-pura membantu membaca koran yang sama.
Humaira duduk di bangku kayu. Agha di kursi plastik, berjarak dua meter. Matahari siang menyelinap lewat daun-daun pohon jambu.
"Gue mau nanya sesuatu," kata Humaira akhirnya.
"Silakan."
"Kenapa gue?"
Agha tersenyum. Pertanyaan yang sama. Persis sama dengan yang dulu dilemparkan gadis ini di meja bundar FMIPA, ketika ia datang menawarkan jabatan. Waktu itu ia menjawab panjang lebar, mengutip survei, berbicara soal amanah dan pemimpin. Kali ini, ia tahu, jawaban panjang tidak akan cukup.
"Karena lo satu-satunya orang yang pernah nanya visi-misi gue sebelum nanya gue anak siapa."
Humaira terdiam.
"Gue udah ketemu banyak orang, Mai. Yang deketin gue karena keluarga gue. Yang ngejauh juga karena keluarga gue. Lo gak dua-duanya. Lo cuma nanya apa yang mau gue kerjain, terus nagih. Terus nyoret. Terus ngomel." Agha tertawa kecil. "Gue gak nyari orang yang bikin hidup gue gampang. Gue nyari orang yang bikin gue tetap lurus. Dan dari semua orang yang pernah gue kenal, cuma lo yang berani nyoret angka gue di depan seluruh tim."
Humaira menunduk. Telinganya terasa panas.
"Pertanyaan kedua."
"Oke."
"Apa visi-misi lo jadi suami?"
Rangga di ujung teras tersedak. Zakiya menepuk-nepuk punggungnya sambil menahan tawa. Agha tidak tertawa. Ia menjawab dengan serius, seserius dulu.
"Sama kayak visi-misi gue jadi ketua BEM. Untuk beribadah dan jadi khalifah di muka bumi." Ia berhenti sejenak. "Bedanya, kali ini gak sendirian. Bareng. Lo boleh kerja. Lo boleh lanjut S2. Lo boleh bahagiain Mas Rangga, Ayah, sama Ibuk dulu. Gue gak mau lo ngapus jalan lo sendiri buat gue. Gue cuma mau jalan di sebelah lo."
"Kalau gue nyoret program lo di rumah?"
"Gue revisi."
"Kalau gue nolak duit keluarga lo?"
"Gue jualan tote bag."
Humaira tertawa. Tawa yang lepas, yang membuat matanya menyipit. Agha memandangnya sebentar, lalu cepat-cepat menunduk lagi. Humaira melihat itu. Dan entah kenapa, cara laki-laki itu menunduk justru membuat dadanya hangat.
"Satu lagi," katanya pelan.
"Iya."
"Gue mau lulus dulu. Skripsi gue belum selesai. Lo juga masih ketua sampai akhir tahun. Gue gak mau ada yang setengah-setengah. BEM lo selesai, skripsi gue selesai. Baru."
"Baru apa?"
Humaira melotot. "Gak usah pura-pura gak ngerti!"
Agha tertawa. Kali ini ia tidak menunduk. "Setuju. Semuanya."
"Jangan cepet-cepet setuju."
"Gue udah mikir dari bulan lalu, Mai. Gak cepet-cepet."
@@@
Sore itu, sebelum keluarga Agha pulang, Airin mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru dari tasnya. Ia memberikannya pada Ibuk, bukan pada Humaira. Ibuk membukanya. Sebuah cincin sederhana, emas tipis tanpa permata.
"Ini tanda khitbah," kata Airin lembut. "Kalau Humaira bersedia. Kalau belum, kami bawa pulang lagi, gak apa-apa."
Semua mata menoleh pada Humaira. Ia memandangi cincin itu lama. Lalu menatap Rangga, yang mengangguk pelan. Lalu Ayah. Lalu Ibuk, yang matanya sudah basah.
"Bersedia, Tante."
Ibuk memakaikan cincin itu di jari manis Humaira. Airin memeluknya. Akib berdeham keras, menyembunyikan matanya yang memerah. Agha menunduk dalam-dalam dan mengucap hamdalah berkali-kali tanpa suara.
Adel menarik-narik ujung gamis Humaira.
"Kak Maira."
"Iya, Adel?"
"Nanti kalau A'ak nakal, marahin ya. Yang kenceng."
Humaira berjongkok di depan gadis kecil itu, lalu mengangguk dengan wajah sangat serius. "Siap. Kenceng banget."
Adel tersenyum puas, lalu berlari ke arah kakaknya dan berbisik keras-keras sampai semua orang mendengar. "A'ak, Kak Maira-nya galak. Adel suka."
@@@