"Kamu nolak karena gak suka, atau karena takut?"
Suara Ibuk dari Jogja terdengar jernih di telepon. Humaira duduk di lantai kamar, punggungnya bersandar ke ranjang. Sudah hampir jam sebelas malam. Ia sudah bercerita semuanya pada ibunya. Tentang Agha. Tentang Rangga yang menjadi perantara. Tentang Hanafi yang baru pergi. Tentang akun gosip kampus.
"Maira gak tahu, Buk."
"Ya udah. Ibuk tanya yang lebih gampang. Kalau gak ada akun gosip, gak ada Hanafi, gak ada jabatan BEM, kamu tertarik gak sama anak itu?"
Humaira terdiam lama. Terlalu lama.
Di seberang sana, Ibuk tertawa pelan. "Nah. Itu jawabannya."
"Buk!"
"Ibuk gak nyuruh kamu nerima. Ibuk cuma nyuruh kamu jujur sama diri sendiri." Ibuk menghela nafas. "Kamu tahu dulu Ibuk juga takut waktu Bapak kamu dateng?"
"Takut kenapa?"
"Bapakmu itu duda, Neng. Bawa anak laki-laki umur enam tahun. Orang Jawa pula, Ibuk orang Sunda. Keluarga Ibuk di Garut ribut semua. Tetangga ngomong macem-macem. Katanya Ibuk mau aja dijadiin ibu tiri." Suara Ibuk terdengar seperti sedang tersenyum. "Tapi Ibuk liat cara Bapak megangin tangan Rangga kecil waktu nyebrang jalan. Cara Bapak nyuapin dia, padahal Bapak sendiri belum makan. Dari situ Ibuk tahu. Laki-laki yang begitu ke anaknya, pasti gak bakal nyakitin istrinya."
Humaira menggigit bibirnya. Ia tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya.
"Kamu udah liat anak itu kerja berbulan-bulan, Neng. Kamu udah liat cara dia nerima omelan kamu. Cara dia ngalah. Cara dia jujur pas kalah dan pas menang. Itu lebih banyak dari yang Ibuk liat dari Bapak dulu." Ibuk berhenti sejenak. "Istikharah. Terus dengerin hati kamu. Jangan dengerin akun gosip."
@@@
Andros datang ke kantin FMIPA keesokan siangnya dengan dua gelas es teh manis. Seperti biasa. Ia duduk di depan Humaira tanpa permisi. Seperti biasa.
"Muka lo kayak orang belum tidur tiga hari."
"Dua hari."
"Kenapa? Skripsi?"
Humaira menutup laptopnya. Andros langsung menegakkan punggung. Ia sudah hafal gelagat ini.
Humaira bercerita. Andros mendengarkan tanpa menyela sedikit pun, sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang persahabatan mereka. Ketika Humaira selesai, Andros memutar-mutar sedotan di gelasnya cukup lama.
"Lo tahu gak artinya?"
"Arti apa?"
"Je betekent ontzettend veel voor me."
Humaira mengerutkan kening. Kalimat itu. Kalimat yang dulu sering Andros ucapkan untuk menggodanya di kantin ini, setiap kali ia sedang sibuk dan Andros sedang iseng. Ia selalu menjawab berhenti kadalin gue, tanpa pernah bertanya artinya.
"Gak tahu. Lo kan gak pernah ngasih tahu."
"Kamu sangat berarti bagiku." Andros tersenyum. Senyum yang aneh. Bukan senyum raja kadal yang biasa. "Gue udah ngomong itu ke lo mungkin seratus kali sejak maba. Pakai bahasa yang lo gak ngerti. Biar aman. Biar kalau lo marah, gue bisa bilang cuma bercanda."
Humaira membeku. Gelas es teh di tangannya berhenti di tengah jalan.
"Dros..."
"Gue gak lagi minta apa-apa, Mai. Tenang." Andros mengangkat kedua tangannya. "Gue udah lama tahu gue bukan orangnya. Dari SMA, mungkin. Lo selalu ngeliat gue kayak ngeliat saudara. Gue cuma pengen lo tahu, sekali aja, dalam bahasa yang lo ngerti. Biar gue bisa berangkat dengan tenang."
"Berangkat ke mana?"
Andros merogoh tasnya, mengeluarkan selembar kertas yang dilipat dua. Surat berkop universitas berbahasa Inggris.
"Leiden. Beasiswa S2. Studi Belanda. Berangkat September." Ia nyengir. "Akhirnya gelar sastra gue berguna buat sesuatu selain gombalin lo."
Humaira tertawa. Lalu menangis. Lalu tertawa lagi. Andros menyodorkan tisu dari dalam tasnya. Ia memang selalu membawa tisu, sejak SMA, karena tahu sahabatnya ini gampang menangis tapi gengsi mengaku.
"Agha itu nyebelin," kata Andros setelah tangis Humaira reda. "Ngalahin gue di debat. Ngalahin gue di pemilihan. Ngalahin gue di sini." Ia menunjuk dadanya sendiri sambil pura-pura meringis. "Tapi dia orang baik, Mai. Gue udah lawan dia berbulan-bulan. Gue tahu. Jangan tolak orang baik cuma karena lo takut omongan orang."
"Lo ngomong gitu karena kalah?"
"Gue ngomong gitu karena gue sahabat lo." Andros berdiri, mengambil gelas es tehnya. "Dan karena gue gak mau lo nyesel kayak gue. Ngomong pakai bahasa yang gak dimengerti, bertahun-tahun, sampai telat."
Ia berjalan pergi, melambaikan tangan tanpa menoleh. Seperti biasa. Kali ini, Humaira tidak memandangi punggungnya. Ia memandangi gelas es teh yang ditinggalkan Andros untuknya, dan untuk pertama kalinya ia sadar, sahabatnya itu selalu meninggalkan satu gelas. Selalu.
@@@
Pada Kamis berikutnya, BEM mengadakan dialog terbuka di Fakultas Kedokteran Salemba. Humaira datang untuk mencatat pengeluaran acara. Ia duduk di barisan belakang aula, sibuk dengan buku kasnya, ketika seseorang duduk di kursi sebelahnya.
Perempuan cantik berwajah Arab dengan jilbab cokelat susu. Humaira mengenalinya dari foto-foto lama di akun gosip fakultas. Shiren.
"Kamu Humaira kan? Bendaharanya BEM?"
"Iya. Kamu... Shiren?"
Shiren tersenyum. Senyumnya lembut dan sedikit malu. "Aku cuma mau nyapa. Retno sering cerita soal tote bag spanduk itu. Aku beli tiga."
Humaira tertawa kecil. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Mereka mengobrol singkat. Tentang kuliah. Tentang Shiren yang sedang sibuk penelitian sebelum koas. Tentang seorang insinyur dari Pekalongan yang setiap minggu mengirim pesan berisi pertanyaan-pertanyaan lucu soal ilmu kedokteran, dan yang belakangan mulai membuat Shiren tersenyum ketika membaca ponselnya.
"Kami masih kenalan," kata Shiren. "Pelan-pelan. Gak ada yang maksa. Ternyata enak juga ya, dikasih waktu."
Di depan aula, Agha sedang menjawab pertanyaan seorang mahasiswa soal biaya praktikum. Suaranya tenang, seperti biasa. Lalu, di sela jawabannya, matanya bergeser sebentar ke barisan belakang. Ke arah mereka. Ke arah Humaira. Hanya sedetik. Lalu ia kembali menatap si penanya.
Shiren melihat itu. Humaira melihat Shiren melihat itu.
"Dulu," kata Shiren pelan, nyaris berbisik, "dia gak pernah ngeliat aku kayak gitu."
Humaira tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku gak tahu ada apa di antara kalian. Dan itu bukan urusan aku." Shiren berdiri, merapikan tasnya. Ia tersenyum lagi. Kali ini senyumnya utuh, tidak patah seperti dulu di bangku taman. "Tapi kalau ada, jangan ragu karena aku ya. Aku udah selesai. Dan dia orang baik. Dia selalu dateng dengan cara yang bener. Bahkan waktu nolak orang."
Ia berjalan keluar aula. Humaira memandanginya pergi, lalu menunduk menatap buku kas di pangkuannya. Angka-angkanya mendadak kabur.
@@@
Malam itu, Humaira solat istikharah untuk ketujuh kalinya dalam dua minggu.
Setelah salam, ia tidak langsung berdiri. Ia duduk di atas sajadah, membuka laci meja belajarnya. Di sana ada headband merah yang terlipat rapi. Ada buku kronologi kejadian di rutan. Ada foto ospek dari Hanafi, yang kini ia selipkan di halaman pertama buku itu.
Ia menyentuh foto itu sebentar. Rasanya masih sedikit perih. Tapi tidak lagi sesak. Hanafi kini sebuah kenangan yang baik. Kenangan yang ia doakan setiap malam, seperti janjinya di tepi danau. Dan kenangan, ia baru mengerti sekarang, bukan sesuatu yang harus dibuang supaya bisa melangkah. Cukup disimpan di laci, dengan rapi.
Lalu ia memejamkan mata dan mengingat hal lain. Seorang laki-laki di meja bundar FMIPA, berbulan-bulan lalu, menjawab pertanyaan visi-misinya dengan serius sampai keringat menetes di pelipisnya. Untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi.
Humaira membuka mata. Ia keluar kamar. Rangga sedang menonton berita di ruang tengah.
"Mas."
Rangga menoleh. Ia melihat wajah adiknya, lalu mematikan televisi.
"Maira mau ta'aruf. Belum tentu lanjut. Tapi Maira mau kenal dulu. Dengan cara yang bener."
Rangga tersenyum. Lalu ia mengambil ponselnya, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, mengirim pesan pada Agha.
@@@