Januari datang lagi. Setahun sejak Al-Quran diangkat di atas kepalanya di Balairung, Agha menyerahkan jabatan Ketua BEM Universitas kepada penggantinya. Laporan pertanggungjawabannya tebal sekali. Amri yang memaksa. Setiap program dicatat. Yang berhasil, yang setengah jalan, dan yang gagal total, lengkap dengan alasannya. Peta beasiswa yang dikerjakan Amri membantu lebih dari tiga ratus mahasiswa mengurus keringanan biaya kuliah. Dua program pengabdian Bani berhenti di tengah jalan karena kekurangan relawan, dan itu pun ditulis apa adanya.
Ketika laporan itu dibacakan di sidang umum, seorang mahasiswa berdiri dan bertanya kenapa BEM berani mengaku gagal. Amri yang menjawab.
"Karena itu yang kami janjikan dari awal. Bisa ditagih."
Dua minggu kemudian, di masjid dekat rumah keluarga Agha, Farrel mengumandangkan azan Zuhur dengan suara yang lebih merdu dari biasanya. Ferril bilang itu karena abangnya sedang terharu. Farrel bilang itu karena Ferril sedang berisik. Ardan, seperti biasa, tertidur di saf belakang dan dibangunkan Wira dengan jeweran.
Selepas Zuhur, masjid itu penuh.
@@@
Humaira duduk di ruang akhwat dengan kebaya putih sederhana dan kerudung yang kali ini dibetulkan oleh Zakiya, bukan oleh dirinya sendiri. Zakiya sudah tujuh bulan menjadi kakak iparnya. Perutnya mulai membulat. Rangga, sejak menikah, berubah menjadi laki-laki paling cerewet soal makanan bergizi di seluruh Depok.
"Tangan kamu dingin banget," bisik Zakiya.
"Mbak juga dulu dingin."
"Dulu Mbak gemeteran sampai Mas kamu salah nyebut nama Bapak."
Humaira tertawa. Ibuk yang duduk di sebelahnya menggenggam tangannya erat-erat.
Lima bulan lalu, Humaira diwisuda dengan skripsi tentang pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Idenya ia dapat dari tabung biru besar di belakang rumah panggung Amri. Kini ia bekerja sebagai analis di laboratorium pabrik farmasi di Cikarang, tempat ia dulu magang. Berangkat jam enam pagi, pulang menjelang Magrib, dan masih memeriksa ulang setiap angka seperti biasa.
Dari balik tirai pembatas, terdengar suara Ayah. Tenang, sedikit bergetar.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Agha Muhammad Fahlevi bin Akib, dengan putri saya, Humaira Nasywa binti..."
Lalu suara Agha. Satu tarikan nafas. Tanpa tersendat.
"Saya terima nikah dan kawinnya..."
"Sah?"
"SAH!"
Ibuk menangis. Zakiya menangis. Masayu yang bertugas mendokumentasikan acara menangis sambil terus memotret, sampai kameranya berembun. Di saf ikhwan, Akib memeluk anaknya lama sekali. Rangga menepuk-nepuk punggung adik iparnya yang baru, lalu berbisik sesuatu yang membuat Agha tertawa sambil mengusap matanya.
Humaira menunduk di balik tirai. Ia tidak menangis. Ia tersenyum begitu lebar sampai pipinya pegal.
@@@
Tamu-tamu berdatangan sepanjang sore di rumah keluarga Agha. Halaman yang luas itu dipenuhi meja-meja sederhana. Pelaminannya cuma dua kursi rotan di bawah tenda putih. Humaira yang meminta. Airin yang menyetujui. Akib yang kalah suara.
Amri datang membawa sekeranjang paprika merah dan kuning dari rumah kacanya. Di belakangnya, Yudi berjalan dengan jaket almamater sebuah politeknik negeri. Ia lulus ujian paket C awal tahun lalu, lalu diterima kuliah dengan beasiswa yang ia temukan berkat daftar beasiswa luar kampus yang ikut dikumpulkan Amri saat menyusun peta beasiswa BEM. Ia menyalami Agha dengan tangan yang dulu mengajari calon dokter itu cara membetulkan pipa.
"Bang, sekarang gantian. Kalau pipa di rumah Abang bocor, panggil saya."
Agha tertawa dan menepuk bahunya keras-keras.
Shiren datang bersama Retno dan seorang laki-laki berkacamata tipis berkemeja batik. Hamid. Mereka baru melangsungkan lamaran bulan lalu, setelah Shiren sendiri yang mengatakan iya. Bukan Mama, bukan keluarga besar. Shiren memeluk Humaira dan berbisik, "Aku ikut seneng. Beneran." Retno di belakangnya mengacungkan dua jempol dengan gaya yang sama sekali tidak mirip Raden Ajeng.
Bani dan Saras datang bersama, dan bertengkar sepanjang jalan dari parkiran sampai meja prasmanan. Soal siapa yang salah membaca alamat. Masayu, dengan kameranya, memotret pertengkaran itu dari berbagai sudut sambil terkikik-kikik. Ia sudah mulai koas lebih dulu, sementara Agha baru akan menyusul setelah penelitiannya rampung. Ia masih membawa toples kacang polong ke mana-mana. Toples yang ia berikan pada Humaira sebagai kado, terbungkus pita merah, dengan kartu kecil bertuliskan: Buat jaga-jaga kalau dia lambat mikir lagi.
Menjelang Ashar, ponsel Humaira bergetar. Panggilan video. Dari Barcelona.
Wajah Hanafi muncul di layar, sedikit lebih kurus, dengan latar jendela yang menampakkan atap-atap genting oranye. Di sebelahnya, Mama melambai-lambai. Hanan menyembul dari belakang.
"Selamat, Mai. Selamat, Gha."
"Makasih, Naf," jawab Agha yang ikut mencondongkan badan ke layar.
Hanafi mengangkat sesuatu ke depan kamera. Sebuah botol kaca kecil. Kosong. Bersih. Sudah dicuci.
"Udah habis dari bulan Maret. Mama ngumpetin botolnya, katanya buat kenang-kenangan."
Humaira tertawa sampai matanya basah. Ia tidak sedih. Ia hanya bahagia, karena orang yang dulu ia lepas di bandara kini tersenyum utuh di layar, dikelilingi keluarga yang selama ini ia rindukan.
Satu pesan lagi masuk tak lama kemudian. Dari Leiden. Sebuah foto Andros berjaket tebal di depan kanal yang membeku, mengacungkan secangkir kopi.
Gefeliciteerd, Mai. Itu artinya selamat. Kali ini gue kasih tahu artinya duluan, biar gak telat lagi. Bilang ke suami lo, kalau dia nakal, gue terbang pulang.
@@@
Malam itu, setelah tamu terakhir pulang dan rumah kembali sepi, mereka duduk di teras belakang. Hanya berdua, untuk pertama kalinya. Kursi mereka bersebelahan, dan kali ini tak ada Rangga yang pura-pura membaca koran di ujung teras. Di dalam rumah, Adel sudah tertidur di sofa dengan gamis merah muda yang sama seperti hari khitbah dulu.
Langit Jakarta tak berbintang, seperti biasa. Tapi angin malam terasa sejuk.
"Gha."
"Hm?"
"Gue mau nanya sesuatu."
Agha menoleh. Istrinya menatapnya dengan wajah serius. Wajah yang sama, persis sama, dengan wajah judes di meja bundar FMIPA dulu. Wajah yang kini ia tahu, di baliknya ada hati yang gampang sekali menangis kalau tidak ada yang melihat.
"Apa visi-misi lo?"
Agha tertawa. "Lo udah tahu."
"Gue mau denger lagi."
Agha menarik nafas. Lalu menjawab dengan serius. Seserius dulu, ketika ia masih orang asing yang datang menawarkan jabatan.
"Untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi. Dunia dan akhirat." Ia berhenti sebentar. "Bareng lo. Sampai surga-Nya, insya Allah."
Humaira memandanginya lama. Lalu, dengan wajah yang sengaja dibuat datar, ia memberikan jawaban yang sama dengan jawaban pertamanya dulu.
"Akan gue pertimbangkan."
Agha tertawa sampai Adel menggeliat di sofa. Humaira ikut tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Kali ini dengan tenang. Karena kini, sandaran itu justru bagian dari ibadah yang mereka pilih bersama.
@@@
TAMAT