Hujan turun deras pagi itu, tapi Balairung tetap penuh. Ribuan wisudawan bertoga hitam berbaris di bawah tenda-tenda. Para orangtua berdesakan dengan payung dan kamera. Pedagang bunga di pinggir jalan tersenyum lebar, dagangannya laku keras meski harganya naik dua kali lipat.
Humaira berdiri di bawah pohon dekat pintu keluar bersama Saras. Ia sudah meminta izin setengah hari dari pembimbing magangnya sejak seminggu lalu. Di tangannya ada sebuket kecil bunga matahari. Sederhana. Ia membelinya di pasar dekat stasiun, bukan di depan Balairung yang harganya tidak masuk akal.
"Itu dia!" seru Saras.
Hanafi keluar dari Balairung dengan toga yang sedikit kebesaran. Wajahnya berseri. Di sebelahnya, Mama memegang payung tinggi-tinggi dengan susah payah. Dan di sebelah Mama, seorang remaja jangkung berkacamata yang wajahnya sangat Humaira kenal dari layar ponsel.
Hanan. Benar-benar pulang.
"Kak Maira!" Hanan melambai dengan semangat yang membuat beberapa orang menoleh. "Aslinya lebih galak ya!"
"Han!" tegur Hanafi.
Humaira tertawa sampai terbungkuk-bungkuk. Ia menyerahkan buket bunga matahari pada Hanafi. "Selamat, Pak Sarjana."
"Makasih." Hanafi menerimanya, memandangi bunga itu sebentar. "Kenapa bunga matahari?"
"Karena murah."
"Jujur amat."
"Dan karena lo gampang kepanasan kalau di luar ruangan. Biar inget minum."
Hanafi tertawa. Mama menyalami Humaira, lalu memeluknya lama. Ia berbisik terima kasih di telinga Humaira, untuk apa Humaira sendiri tidak terlalu yakin. Mungkin untuk semuanya. Untuk empat tahun ketika ia tidak ada, dan ada orang lain yang membuat anaknya tetap tertawa.
Mereka makan siang bersama di sebuah restoran kecil di Margonda. Hanan bercerita soal sekolahnya di Jepang, soal kampus yang sudah menerimanya di Barcelona, soal betapa ia rindu sambal. Hanafi lebih banyak diam, hanya tersenyum mendengarkan adiknya. Sesekali matanya bertemu dengan mata Humaira di seberang meja. Lalu sama-sama tersenyum. Lalu sama-sama mengalihkan pandangan.
"Berangkatnya kapan?" tanya Saras akhirnya.
"Kamis malam," jawab Mama. "Rumahnya udah laku. Pembelinya baik, mau nunggu sampai kami berangkat."
Kamis malam. Empat hari lagi.
Humaira menyuap nasinya pelan-pelan. Rasanya tiba-tiba hambar.
@@@
Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta ramai sekali di Kamis malam itu. Koper-koper bergerak seperti arus sungai. Pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan dalam tiga bahasa.
Humaira datang bersama Rangga. Saras sudah menunggu di dekat pintu masuk, matanya sudah merah bahkan sebelum ada yang berpamitan. Lalu, tak lama kemudian, sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari belakang.
"Telat gak gue?"
Andros. Masih memakai jaket kampus, rambutnya basah kena hujan, napasnya terengah-engah. Ia datang naik bus bandara dari Depok.
"Lo ngapain di sini?" tanya Humaira kaget.
"Nganterin rival gue lah. Masa dia pergi gak ada yang nyorakin."
Hanafi muncul dari arah konter check-in bersama Mama dan Hanan. Begitu melihat Andros, ia berhenti. Mereka berdua saling pandang beberapa detik. Dua laki-laki yang bertahun-tahun bersaing dalam segala hal. Futsal. Jabatan bendahara. Perhatian seorang perempuan yang sama.
Lalu Andros mengulurkan tangan lebih dulu.
"Jaga diri lo di sana, Naf. Jangan sampai kalah sama orang Spanyol."
Hanafi menjabatnya. Erat. "Lo juga, Dros. Jangan kalah lagi sama orang Kedokteran."
Mereka tertawa. Tawa yang canggung, lalu pelan-pelan menjadi tulus.
Waktu boarding semakin dekat. Mama memeluk Saras, lalu memeluk Humaira lama sekali. Hanan menyalami semuanya dan berjanji akan mengirim foto pemandangan setiap hari. Rangga menepuk bahu Hanafi dan mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar oleh yang lain. Hanafi mengangguk serius.
Lalu tinggal Hanafi dan Humaira. Berdiri berhadapan, berjarak satu lengan, seperti biasa.
"Ini." Humaira mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari tasnya. Dibungkus plastik berlapis-lapis dan diikat karet. "Sambal terasi. Bikinan Bi Inah. Udah gue cek, boleh masuk bagasi kalau dibungkus rapet."
Hanafi memandangi botol itu. Lalu tertawa, matanya langsung basah. "Mama cerita ya?"
"Soal lo nangis di Shanghai gara-gara kangen sambal? Cerita."
"Itu aib keluarga, Mai."
"Makanya gue bawain. Biar gak ada aib baru di Barca."
Hanafi menerima botol itu dan menyimpannya hati-hati di tas kabin. Lalu ia mengeluarkan sesuatu juga. Sebuah foto lama, sudah sedikit menguning di pinggirnya. Humaira belum pernah melihatnya, padahal hari Minggu itu ia sudah membongkar hampir seisi kotak kayu milik Mama.
Foto ospek fakultas. Ratusan mahasiswa baru berjaket kuning duduk di lapangan. Dan di barisan depan, seorang gadis berjilbab sedang berdiri sambil menunjuk-nunjuk seorang senior dengan wajah marah. Di pojok foto, agak buram, seorang anak laki-laki berkacamata menatap gadis itu dengan mulut sedikit terbuka.
"Ini kan..."
"Hari pertama gue suka sama lo." Hanafi tersenyum. "Mama nemu di kotak. Katanya dulu gue minta dicetak dari panitia, terus gue umpetin di laci. Kayak mainan kesayangan."
Humaira memegang foto itu dengan kedua tangan. Ia tidak bisa bicara.
"Buat lo. Biar ada yang inget gue di sini."
"Gue gak butuh foto buat inget lo, Hanaf."
"Iya. Tapi biar adil. Lo kasih gue sambal. Gue kasih lo aib."
Humaira tertawa sambil menangis. Pengumuman boarding terdengar sekali lagi. Hanafi menarik nafas panjang, lalu mengangkat tas kabinnya.
"Assalamualaikum, Mai."
"Waalaikumsalam."
Ia berjalan menuju pemeriksaan imigrasi bersama Mama dan Hanan. Di depan gerbang, ia menoleh sekali dan melambaikan tangan. Humaira membalas. Lalu Hanafi berbalik dan menghilang di balik dinding kaca.
Humaira berdiri di sana lama. Rangga tidak bicara apa-apa. Ia hanya berdiri di sebelah adiknya, menunggu. Saras sudah menangis sesenggukan, dan Andros dengan canggung menyodorkan tisu padanya selembar demi selembar, sampai sebungkus habis.
@@@
Di ruang tunggu, sebelum ponselnya dimatikan, Hanafi mengirim satu pesan. Bukan pada Humaira. Pada Agha.
Gha, gue berangkat. Makasih udah jadi ketua yang gak bikin gue nyesel gabung. Inget yang di masjid. Lewat Mas Rangga. Jangan kelamaan, tapi jangan juga buru-buru. Dia baru aja ngelepas orang. Kasih dia waktu.
Agha membaca pesan itu di kamarnya, di atas sajadah, selepas Isya. Ia membacanya berkali-kali. Lalu ia membalas.
Hati-hati di jalan, Naf. Gue doain lo. Gue janji, soal dia, gue bakal sabar.
Pesan itu terkirim, tapi tidak langsung terbaca. Mungkin pesawatnya sudah lepas landas. Agha meletakkan ponsel, menengadahkan tangan, dan berdoa lama. Untuk perjalanan Hanafi. Untuk hati seorang gadis di Depok yang malam ini pasti sedang menangis diam-diam. Dan untuk dirinya sendiri, supaya diberi kesabaran yang tidak ia miliki.
@@@