Magang Humaira selesai di akhir Februari. Laporan akhirnya dinilai baik oleh pembimbing, dan ia pulang ke kontrakan pada hari terakhir dengan membawa sekotak donat dari teman-teman pabrik dan perasaan yang campur aduk. Lega karena satu beban terangkat. Sedih karena hari-hari panjang di Cikarang ternyata membantunya tidak memikirkan sebuah bandara.
Kini, tanpa jam lima pagi dan kereta yang berdesakan, waktu luangnya mendadak terlalu banyak. Dan waktu luang adalah musuh orang yang sedang belajar melupakan.
Jadi ia mencari kesibukan lain. Kesibukan yang sudah lama ia tunda.
"Mas."
"Hm?"
Rangga sedang mengetik di laptop di meja makan. Malam Sabtu. Di dapur, Bi Inah dan Zakiya sedang menggoreng tempe sambil mengobrol. Zakiya memang sering mampir belakangan ini. Katanya membantu Rangga menyusun laporan LSM soal kasus-kasus kekerasan aparat sepanjang tahun lalu. Tapi Humaira tahu, laporan itu sudah selesai dua minggu lalu.
"Mbak Kiya udah tiga kali dateng minggu ini."
"Ya kan bantuin kerjaan."
"Kerjaan apa? Laporannya udah dicetak. Udah dibagiin ke wartawan. Maira liat sendiri kemarin."
Rangga berhenti mengetik. Ia melirik ke arah dapur, lalu kembali ke adiknya dengan tatapan memohon. Humaira tidak terpengaruh. Ia melipat tangan di dada.
"Mas udah tiga puluh. Mbak Kiya udah dua puluh delapan. Mas nunggu apa lagi?"
"Mas bilang kan nunggu kamu lulus."
"Maira lulus semester depan. Masih lama. Mas pikir Mbak Kiya bakal nunggu selamanya? Kemarin Maira liat di akun Mbak Kiya, ada yang komen-komen terus. Cowok. Pakai emoji bunga."
Rangga tersedak kopinya sendiri.
"Mas."
"Iya, iya."
"Kalau malam ini Mas gak ngomong, Maira yang ngomong. Maira serius."
Rangga memandangi adiknya lama. Ia tahu Humaira tidak pernah main-main dengan ancaman semacam itu. Ia pernah melihat gadis ini menunjuk-nunjuk muka polisi di atas mobil tahanan. Menyampaikan perasaan kakaknya pada seorang perempuan, jelas bukan hal yang sulit baginya.
Ia menutup laptopnya.
@@@
Zakiya pamit pulang jam sembilan kurang. Rangga mengantarnya sampai pagar, seperti biasa. Humaira dan Bi Inah, tidak seperti biasa, mengintip dari balik gorden jendela ruang tamu.
"Neng, gak sopan," bisik Bi Inah.
"Sstt. Bibi juga ngintip."
Di luar, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, Rangga berdiri di depan Zakiya. Ia memasukkan tangan ke saku celana, mengeluarkannya lagi, menggaruk tengkuk, lalu memasukkan tangan ke saku lagi. Humaira menepuk dahinya sendiri. Ya Allah. Jurnalis yang berani berdebat dengan petinggi polisi di depan kamera, sekarang tidak bisa berdiri dengan benar di depan seorang perempuan.
"Kiya."
"Ya, Mas?"
"Mas mau ngomong sesuatu."
Zakiya menunggu. Bekas luka di dahinya, sisa hari demo itu, sudah memudar menjadi garis tipis yang tertutup poni jilbab.
"Mas gak pinter ngomong soal beginian. Mas biasanya nulis berita. Jadi Mas langsung aja." Rangga menarik nafas panjang. "Mas mau ngelamar kamu. Bukan ngajak pacaran. Ngelamar. Kalau kamu mau, Mas dateng ke rumah Bapak kamu minggu depan. Kalau kamu gak mau, bilang aja, Mas gak akan ganggu kamu lagi. Eh, maksudnya, Mas tetep temen kamu, tapi gak bakal--"
"Mas."
"Ya?"
Zakiya tertawa. Lalu menutup mulutnya dengan tangan. Lalu matanya berair. Ia tertawa dan menangis bersamaan, dan Rangga berdiri mematung di depannya, tidak tahu harus berbuat apa.
"Lama banget sih, Mas," katanya di sela tawa. "Aku hampir nerima lamaran orang lain."
Rangga pucat. "Hah? Siapa?"
"Bohong." Zakiya menghapus air matanya. "Tapi hampir. Kalau Mas nunggu setahun lagi, mungkin beneran."
"Jadi?"
"Jadi dateng ke rumah Bapak. Minggu depan. Jangan telat. Bapak paling gak suka orang telat."
Di balik gorden, Humaira memekik tertahan dan memeluk Bi Inah. Bi Inah tertawa sambil menepuk-nepuk punggungnya. Di luar, Rangga menoleh tajam ke arah jendela. Gorden itu langsung tertutup rapat.
Malam itu, setelah Zakiya pulang, Rangga masuk ke rumah dengan wajah merah padam. Ia berdiri di depan adiknya yang pura-pura sedang membaca buku di sofa. Bukunya terbalik.
"Kamu ngintip."
"Gak."
"Bukunya kebalik, Mai."
Humaira menutup bukunya, lalu tertawa terbahak-bahak sampai jatuh dari sofa. Rangga ikut tertawa. Ia mengacak-acak jilbab adiknya, dan kali ini Humaira membiarkannya.
"Makasih, Mai," katanya pelan setelah tawa mereka reda.
"Buat apa?"
"Udah ngancem Mas."
@@@
Di rumah keluarga Agha, malam yang sama, Agha duduk di meja makan bersama Abi dan Umminya. Adik-adiknya sudah tidur. Kecuali satu, yang ternyata bersembunyi di balik pintu dapur dengan telinga ditempelkan ke dinding.
"Bi. Mi. Agha mau cerita sesuatu."
Akib meletakkan cangkir tehnya. Airin berhenti mengupas apel. Wajah anak sulungnya terlalu serius untuk sekadar laporan BEM.
"Agha suka sama seseorang."
Hening.
"A'AK SUKA SAMA CEWEK?"
Adel melompat keluar dari balik pintu dapur dengan piyama kelinci dan wajah syok. Ketiga orang dewasa itu terlonjak.
"Teh! Kok belum tidur?"
"Pacaran itu dosa, A'aaak!" Adel berkacak pinggang, persis seperti ketika ia menegur Abinya beberapa bulan lalu. "A'ak mau terperosok dosa?"
"Bukan pacaran, Teh. A'ak gak mau pacaran."
"Terus apa?"
Agha menatap adiknya. Lalu menatap kedua orangtuanya. "A'ak mau ta'aruf. Lewat keluarganya. Kalau dia mau."
Adel memiringkan kepala, mencerna. Lalu wajahnya berubah cerah. "Oh. Kalau itu boleh. Ustazah di sekolah bilang boleh." Ia naik ke kursi di sebelah Agha. "Siapa ceweknya? Cantik gak? Galak gak?"
"Galak banget."
"Bagus. Biar A'ak ada yang marahin."
Akib tertawa sampai harus menyeka air mata. Airin menggendong Adel dan membawanya kembali ke kamar, diiringi protes keras dari si bawel. Begitu suasana tenang, Akib menatap anaknya.
"Anak MIPA itu? Bendahara kamu?"
Agha mengangguk. Ia tidak heran Abinya tahu. Ia sudah terlalu sering menyebut nama itu di meja makan tanpa sadar.
"Kamu yakin?"
"Agha udah istikharah, Bi. Dari bulan lalu. Jawabannya selalu sama."
"Dia tahu?"
"Belum. Agha gak mau ngomong langsung ke dia. Agha mau lewat walinya. Ayahnya di Jogja. Tapi di sini ada kakaknya, Mas Rangga."
Akib mengangguk-angguk pelan. "Bagus. Lewat pintu depan. Itu cara laki-laki." Ia menyesap tehnya. "Tapi Abi mau nanya satu hal. Dan kamu harus jawab jujur."
"Iya, Bi."
"Kalau dia nolak, kamu siap?"
Agha terdiam. Pertanyaan itu sudah ia tanyakan pada dirinya sendiri ratusan kali. Di atas sajadah. Di mobil. Di ruang rapat BEM, setiap kali gadis itu mengetuk meja tanda tidak setuju.
"Siap, Bi. Sakit pasti. Tapi siap." Ia menarik nafas. "Agha gak mau dia nerima karena gak enak. Atau karena Agha ketuanya. Atau karena keluarga kita. Kalau dia nolak, Agha mau itu karena dia emang gak mau. Dan Agha bakal hormatin."
Akib tersenyum. Senyum seorang ayah yang melihat anaknya tumbuh lebih cepat dari yang ia kira.
"Kalau gitu, kamu udah siap ngetuk pintu."
@@@