Awal Januari, Balairung UI kembali penuh. Kali ini suasananya khidmat. Yang tampak hanya deretan kursi rapi, karangan bunga dari rektorat, dan para pengurus BEM baru yang duduk tegang dengan jas almamater yang baru disetrika.
Agha berdiri di depan. Di sebelahnya, Amri. Di depan mereka, seorang rohaniwan memegang Al-Quran di atas kepala keduanya.
"Demi Allah, saya bersumpah..."
Suara Agha bergetar sedikit. Hanya sedikit. Tapi Umminya yang duduk di barisan tamu bisa mendengarnya. Airin menggenggam tangan suaminya erat. Di sebelah mereka, Adel duduk tegak dengan wajah serius, seolah ia yang sedang dilantik.
Agha mengucapkan setiap kata sumpah itu dengan pelan. Ia pernah meneriakkan kalimat yang hampir sama di depan gedung DPR. Ingat Al-Quran yang ditaruh di atas kepala Anda sebagai pertanda betapa sakralnya janji itu. Waktu itu ia berteriak untuk orang lain. Sekarang kalimat itu kembali padanya. Dan ternyata, ketika Al-Quran benar-benar berada di atas kepalamu sendiri, rasanya jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.
Selesai pelantikan, Aday menghampirinya. Ketua BEM lama itu menepuk bahunya.
"Selamat, Gha. Mulai hari ini, lo gak bisa lagi demo cuma buat teriak. Lo harus siap dengerin orang teriak ke lo."
"Siap, Kak."
"Dan satu lagi." Aday tersenyum. "Jangan lupa tidur. Gue dulu lupa. Hasilnya masuk rumah sakit dua kali."
@@@
Daftar pengurus inti BEM yang baru diumumkan sore itu. Masayu, Kepala Departemen Kajian dan Informasi. Bani, Kepala Departemen Pengabdian Masyarakat. Indra, Sekretaris Jenderal. Lia, Wakil Bendahara. Dan di baris Bendahara Umum, tertulis satu nama.
Humaira Nasywa.
Ia menerima jabatan itu dengan satu syarat tambahan, yang ia sampaikan di rapat pertama kepengurusan, sehari setelah pelantikan.
"Mulai minggu depan gue magang di Cikarang. Sampai akhir Februari. Berangkat jam lima pagi, pulang Magrib. Jadi selama magang itu, kas harian dipegang Lia. Gue cuma meriksa laporannya tiap Sabtu. Kalau ada pengeluaran di atas lima juta, harus nunggu persetujuan gue sama Lia berdua. Dan gue gak mau ditelepon di jam kerja, kecuali kantor BEM kebakaran."
"Kalau kebakaran beneran?" tanya Bani.
"Telepon damkar. Bukan gue."
Seisi ruangan tertawa. Lia mengangguk mantap, wajahnya sedikit pucat membayangkan memegang kas BEM universitas sendirian. Humaira menepuk bahunya. "Lo bisa. Gue udah liat cara lo nyatet iuran kampanye. Lebih rapi dari gue."
Lalu tibalah pembahasan program kerja. Agha mulai membagikan daftar. Satu halaman penuh. Lalu halaman kedua. Lalu halaman ketiga.
"Bulan pertama kita mulai peta beasiswa, terus dialog terbuka tiap fakultas, terus pendampingan advokasi, terus--"
"Gha."
Amri memotong. Seisi ruangan menoleh ke arahnya.
"Itu semua mau lo yang pegang?"
"Ya enggak lah, Bang. Dibagi."
"Dibagi ke siapa? Di daftar itu, semua penanggung jawab programnya nama lo."
Agha melihat daftarnya. Lalu terdiam. Amri benar. Tanpa sadar, ia menulis namanya sendiri di setiap kolom. Ia ingin memastikan semuanya berjalan sempurna. Ia ingin semua janji kampanye ditepati secepat mungkin. Dan tanpa sadar pula, ia sedang mengulang kesalahan yang paling ia benci dari para pejabat. Memegang semuanya sendirian.
"Kalau semua lewat lo," lanjut Amri, "program berhenti pas lo sakit. Atau pas lo ujian. Atau pas lo jatuh cinta."
Indra tersedak. Masayu menunduk menahan tawa. Humaira yang sedang menulis tidak mengangkat kepala, tapi pulpennya berhenti bergerak sedetik.
Agha menatap wakilnya. Lalu ia mengambil pulpen dan mencoret namanya sendiri dari hampir semua kolom.
"Peta beasiswa, Bang Amri yang pegang. Dialog fakultas, Masayu. Advokasi, gue bareng tim hukum. Pengabdian, Bani." Ia meletakkan pulpen. "Gue koordinasi. Gue tanya perkembangan tiap minggu. Tapi keputusan di bidang masing-masing, kalian yang ambil."
Amri mengangguk. Sekali. Seperti biasa. Tapi kali ini sudut bibirnya terangkat sedikit.
@@@
Seminggu kemudian, Rangga datang ke kontrakan dengan wajah yang jarang sekali Humaira lihat. Wajah lega.
Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di meja makan, di samping piring nasi goreng buatan Bi Inah.
"Sidang kode etiknya udah keluar, Mai."
Humaira yang baru pulang magang, masih memakai seragam pabrik farmasi dengan nama tertera di dada, langsung duduk tegak. "Terus?"
"Polisi yang nampar kamu dinyatakan melanggar. Dikenai sanksi demosi. Dipindah ke bagian administrasi, gak boleh lagi tugas lapangan pengamanan demo. Plus wajib minta maaf tertulis." Rangga membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas berkop. "Ini suratnya. Dikirim lewat pengacara."
Humaira memandangi surat itu lama. Kalimat-kalimatnya kaku dan resmi. Tapi di bawahnya ada tanda tangan. Nama lengkap. Pangkat. Orang yang dulu menamparnya sampai pingsan, kini menuliskan kata maaf di atas kertas.
"Cuma demosi?" gumamnya.
"Mas tahu itu belum adil. Masih banyak kasus yang lebih parah dan gak pernah diproses sama sekali." Rangga duduk di depannya. "Tapi ini yang pertama di tahun ini yang tembus sampai putusan. Teman-teman LBH bilang, ini bisa jadi pegangan buat kasus-kasus berikutnya. Gak sia-sia, Mai."
Humaira mengangguk pelan. Ia melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop. Lalu Rangga mengeluarkan satu benda lagi dari tasnya. Sebuah plastik bening berisi kain merah yang terlipat.
Headband merah. Yang ia pakai di hari demo. Yang bertuliskan sindiran untuk para pejabat di gedung DPR.
"Ini ikut disita bareng hape kamu waktu itu. Baru dibalikin bareng barang-barang bukti lain."
Humaira membuka plastik itu. Kainnya sudah kusut dan sedikit kotor. Tulisannya masih terbaca jelas. Ia memandanginya lama sekali, lalu tertawa kecil. Matanya basah.
"Simpen aja, Mai," kata Rangga. "Buat cerita ke anak kamu nanti."
"Anak dari mana, Mas? Calon aja belum ada."
"Ya nanti kan ada."
Humaira melemparinya dengan bantal kursi. Rangga menangkapnya sambil tertawa. Bi Inah yang mendengar keributan dari dapur hanya geleng-geleng kepala.
Malam itu, Humaira melipat headband merah itu dengan rapi, lalu menyimpannya di laci meja belajarnya. Di samping buku catatan berisi kronologi kejadian di rutan yang dulu ia tulis untuk Rangga. Ia menutup laci itu pelan-pelan.
Sebelum tidur, ia membuka ponsel. Ada satu pesan masuk dari grup pengurus BEM, dikirim Agha jam sembilan malam tadi.
Laporan kas minggu pertama dari Lia udah masuk. Rapi banget. Bendum kita lagi magang, jadi jangan ada yang ganggu dia sampai Sabtu. Siapa yang ganggu, gue suruh nyetrika jas almamater satu departemen.
Humaira tersenyum. Lalu menaruh ponsel di meja dan mematikan lampu.
@@@