Syukuran kemenangan itu sederhana sekali. Nasi padang bungkus dari warung langganan di depan Salemba, es teh plastik, dan kerupuk kulit yang dibawa Bani sekantong besar. Semua dibeli dari iuran tim, dan Humaira mencatat setiap rupiahnya di buku kas sambil makan dengan tangan kiri memegang pulpen.
"Mai, berhenti nulis dulu napa," protes Saras yang ikut datang. "Ini syukuran, bukan audit."
"Bentar. Kerupuknya tiga puluh lima ribu kan, Ban?"
"Tiga puluh. Gue nawar."
Humaira mencoret angkanya, menulis ulang, lalu menutup buku kas dengan puas. Seisi ruangan tertawa.
Masayu duduk di ujung meja, seperti biasa. Toples kacang polongnya terbuka di tengah, dan tangan-tangan bergantian mengambil isinya. Ia ikut tertawa. Ikut bercerita. Ikut menirukan gaya Andros yang menutup debat dengan bahasa Belanda sampai Indra tersedak es teh. Dari luar, ia terlihat paling bahagia di ruangan itu.
Tapi matanya sesekali melirik ke arah Agha. Laki-laki itu duduk di dekat jendela, makan dengan lahap, sesekali tertawa mendengar lelucon Bani. Dan sesekali, sangat sebentar, matanya bergeser ke arah Humaira yang sedang berdebat dengan Saras soal sambal hijau. Lalu cepat-cepat kembali ke nasinya.
Masayu melihat itu. Ia sudah melihatnya berkali-kali sejak rapat pertama. Ia sudah menyangkalnya berkali-kali juga.
Malam ini, ia memutuskan untuk berhenti menyangkal.
@@@
Teras masjid kampus Salemba selepas Isya selalu sepi. Hanya ada satu dua mahasiswa koas yang tidur-tiduran di serambi menunggu jaga malam. Masayu mengirim pesan pada Agha sebelum ia sempat berubah pikiran.
Gha, bisa ngobrol bentar? Di teras masjid. Lima menit.
Agha datang tiga menit kemudian. Ia duduk di anak tangga, berjarak dua anak tangga dari Masayu. Seperti biasa.
"Kenapa, Yu? Ada yang kurang soal laporan?"
"Bukan soal laporan."
"Terus?"
Masayu memandangi sandalnya. Ia sudah menyusun kalimat ini selama empat tahun. Di kepalanya, kalimat itu selalu terdengar indah. Sekarang, ketika akhirnya harus diucapkan, kalimat itu terasa seperti batu di tenggorokan.
"Gha, gue suka sama lo."
Agha membeku.
"Dari maba," lanjut Masayu cepat, sebelum keberaniannya habis. "Dari pertama lo nolongin gue waktu gue pingsan pas ospek. Lo yang lari manggil tim medis, nemenin sampai gue sadar, terus besoknya lo bilang lupa muka gue." Ia tertawa kecil, getir. "Gue ikut BEM karena lo. Gue jadi tukang kepo informasi biar lo butuh gue. Gue bawa kacang polong tiap hari biar lo ada alasan duduk di deket gue."
"Yu..."
"Gue gak minta lo jawab sekarang. Eh, enggak. Gue minta lo jawab sekarang. Biar gue bisa berhenti."
Agha tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia menatap halaman masjid yang gelap. Kepalanya memutar ulang empat tahun terakhir. Toples kacang polong. Botol air setelah orasi. Pesan-pesan tengah malam soal jadwal. Senyum Masayu setiap kali ia bilang terima kasih. Semuanya tiba-tiba terlihat berbeda. Dan ia merasa bodoh sekali.
"Yu, maaf."
Masayu menutup mata.
"Maaf karena gue gak pernah sadar. Empat tahun, dan gue gak pernah sadar. Itu jahat banget. Harusnya gue lebih peka, biar lo gak perlu nunggu selama itu." Suara Agha pelan. "Lo sahabat terbaik gue, Yu. Lo orang paling bisa diandelin yang pernah gue kenal. Tanpa lo, gue gak bakal menang kemarin. Gue sayang sama lo. Tapi bukan sayang yang lo maksud. Dan gue gak mau bohong soal itu."
Masayu mengangguk pelan. Matanya masih terpejam. Ketika ia membukanya, air mata sudah menggenang di sana. Tapi ia tersenyum.
"Gue tahu. Gue udah tahu dari lama."
"Terus kenapa--"
"Karena kalau gak ngomong, gue bakal terus berharap. Gue capek berharap, Gha." Ia menghapus air matanya cepat-cepat dengan ujung jilbab. "Lagian gue tahu lo suka sama orang lain."
Agha tersentak. Ia menoleh. "Gue gak--"
"Gak usah bohong. Lo bilang barusan gak mau bohong." Masayu tertawa sambil menangis. "Gue informan, Gha. Gue tahu semua hal di kampus ini. Masa gue gak tahu yang paling deket?"
Agha terdiam. Ia tidak membantah. Ia tidak bisa.
"Gue gak marah," kata Masayu. "Sumpah. Dia orang baik. Dia bahkan muji profil-profil kandidat bikinan gue, padahal gak ada yang pernah muji itu. Dia makan kacang polong gue kayak anak kecil dikasih permen." Ia menarik nafas panjang. "Gue cuma minta satu hal."
"Apa?"
"Jangan berubah ke gue. Jangan tiba-tiba canggung. Jangan tiba-tiba ngejauh. Gue masih mau jadi ketua tim lo. Gue masih mau kerja bareng lo setahun ke depan. Gue cuma butuh waktu buat ngebiasain hati gue. Itu aja."
"Iya, Yu. Janji."
Masayu berdiri. Ia merapikan roknya, lalu menoleh sekali lagi pada Agha yang masih duduk di anak tangga.
"Dan satu lagi. Kalau lo serius sama dia, jangan kelamaan mikir. Lo itu lambat banget, Gha. Empat tahun aja gak nyadar ada yang suka sama lo."
Ia berjalan pergi sebelum Agha sempat membalas. Langkahnya cepat, setengah berlari. Agha memandanginya sampai hilang di balik gerbang. Lalu ia menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan, dan beristighfar berkali-kali.
@@@
Di kamar kosnya di Cikini, Masayu menangis sampai jam satu malam. Ia menangis sambil memeluk toples kacang polong yang sudah kosong. Ia menangis sambil memutar lagu-lagu galau dari ponselnya. Ia menangis sampai tertawa sendiri karena merasa konyol, lalu menangis lagi.
Menjelang jam dua, ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Humaira. Lama ia menatap layar kosong itu. Lalu ia mengetik.
Mai, lo udah tidur?
Jawabannya datang semenit kemudian.
Belum. Lagi ngerjain laporan praktikum. Kenapa, Yu?
Masayu tersenyum kecil. Tentu saja gadis itu masih bangun. Tentu saja sedang mengerjakan sesuatu.
Gak apa-apa. Gue cuma mau bilang makasih. Lo udah jadi bendahara yang keren banget.
Lo juga ketua tim yang keren. Kok tiba-tiba?
Masayu menggigit bibirnya. Ia mengetik kalimat berikutnya, menghapusnya, mengetiknya lagi.
Mai, kalau suatu hari ada orang baik yang dateng ke lo dengan cara yang baik, jangan bikin dia nunggu lama ya. Ada orang yang lambat banget nyadarnya. Kalau udah sadar, kasian kalau masih harus nunggu.
Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi.
Hah? Siapa? Lo ngomong apa sih, Yu? Lo lagi mabok kacang polong ya?
Masayu tertawa. Tertawa sampai air matanya keluar lagi.
Nanti lo tahu sendiri. Tidur sana. Bendahara juga butuh tidur.
Ia meletakkan ponsel di samping bantal, menarik selimut sampai ke dagu, dan memejamkan mata. Hatinya masih sakit. Mungkin masih akan sakit untuk waktu yang lama. Tapi untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia tidak lagi berharap. Dan anehnya, itu terasa jauh lebih ringan.
@@@