Hari pemungutan suara jatuh pada pertengahan bulan. Langit Depok mendung sejak pagi, tapi tidak hujan. Tempat pemungutan suara dibuka di setiap fakultas, dari Salemba sampai Depok. Antrean mahasiswa mengular sejak jam delapan, sebagian masih memakai sandal jepit karena baru bangun, sebagian datang berombongan dengan jaket kuning lengkap.
Agha solat Dhuha di masjid kampus Salemba, lalu menelepon Umminya.
"Mi, doain ya."
"Ummi doain dari Subuh, Ak. Abi juga. Adel malah udah bikin poster di kamarnya. Tulisannya A'ak menang, Adel dapet es krim."
Agha tertawa. Ketegangannya mencair sedikit.
Sesuai aturan panitia, kandidat tidak boleh berada di sekitar tempat pemungutan suara terlalu lama. Agha datang ke TPS fakultasnya, mencoblos, lalu pergi. Sebelum pergi, ia mengirim pesan ke grup tim.
Hari ini libur kampanye. Jangan nyamperin orang di antrean, jangan bagi-bagi apa pun. Biarin mereka milih dengan tenang. Siapa pun yang mereka pilih.
Masayu membalas dengan jempol. Amri membalas dengan satu kata: Setuju. Humaira, yang hari itu menjadi saksi tim di TPS FMIPA, tidak membalas apa-apa. Ia sedang sibuk menghitung jumlah surat suara kosong bersama saksi dari tim Andros, memastikan angkanya cocok sebelum kotak disegel.
@@@
Penghitungan suara digelar malam harinya di Pusgiwa. Rekap dari setiap TPS dibawa ke sana dan dibacakan satu per satu di depan saksi kedua pasangan. Ruangan itu penuh. Kursi-kursi plastik disusun berhadapan. Di dinding, sebuah layar besar menampilkan tabel yang angkanya terus berubah.
Agha dan Amri duduk di sisi kanan. Andros dan Rudi di sisi kiri. Di antara mereka, panitia bekerja dengan wajah tegang.
Angka-angka bergerak seperti pasang-surut air laut. Salemba memberi Agha keunggulan besar, persis seperti yang diramalkan Hamas dulu. Lalu FIB, FISIP, dan Hukum memberi Andros keunggulan yang tak kalah besar. FMIPA terbelah hampir rata. Teknik condong ke Andros. FEB condong ke Agha, entah karena Amri atau karena tote bag yang ternyata laris di sana.
Menjelang jam sebelas malam, TPS terakhir dibacakan. Layar menampilkan angka akhir sementara.
Pasangan nomor satu, Andros dan Rudi: 9.305 suara.
Pasangan nomor dua, Agha dan Amri: 9.462 suara.
Tidak sah: 211.
Sisi kanan ruangan meledak. Bani melompat dari kursinya. Lia memeluk Masayu. Indra berteriak sampai suaranya serak. Agha tidak bergerak. Ia memandangi angka itu lama. Selisih 157 suara. Dari hampir sembilan belas ribu.
"Interupsi!"
Suara itu memotong sorak-sorai. Ruangan mendadak sunyi. Rudi berdiri dari kursi di sisi kiri, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
"Mohon maaf, panitia. Saksi kami di TPS FIB memotret formulir hasil penghitungan setelah ditandatangani. Di formulir, suara pasangan nomor satu tertulis 412. Di layar rekap, tertulis 402. Ada selisih sepuluh suara. Kami minta dicocokkan."
Bisik-bisik menyebar ke seluruh ruangan. Beberapa pendukung nomor dua mulai bersuara keras. Ada yang berteriak curang. Ada yang menuduh tim nomor satu cari-cari alasan.
Andros berdiri di sebelah Rudi. Ia mengangkat tangan, meminta tenang.
"Kami gak nuduh siapa-siapa curang," katanya. Suaranya tegas. "Kami cuma minta dicek. Kalau angka di layar yang benar, kami terima. Kalau formulir yang benar, tolong dibetulkan. Itu aja."
Panitia saling pandang. Ketua panitia meminta formulir asli dari TPS FIB dibawa ke depan. Saksi kedua pasangan dipanggil untuk melihat bersama-sama. Dari tim Agha, Humaira yang maju.
Ia berdiri di samping saksi tim Andros, membungkuk di atas formulir yang dibentangkan di meja. Ia membaca setiap angka dengan teliti. Membandingkannya dengan layar. Lalu dengan foto di ponsel Rudi.
Ruangan menahan nafas.
"Formulirnya 412," kata Humaira akhirnya, cukup keras untuk didengar semua orang. "Yang di layar salah ketik. Angka satunya kebaca nol."
Panitia memeriksa ulang dan membenarkan. Kesalahan pemindahan data, kata mereka. Angka di layar dikoreksi. Total dihitung ulang.
Pasangan nomor satu: 9.315.
Pasangan nomor dua: 9.462.
Selisih: 147 suara.
Panitia bertanya apakah ada keberatan lain yang disertai bukti. Rudi menggeleng. Andros menggeleng. Ketua panitia mengetukkan palu.
@@@
Sorak-sorai tim Agha kali ini lebih pelan. Mungkin karena semua orang masih terkejut. Mungkin karena kejadian barusan membuat kemenangan itu terasa lebih berat, sekaligus lebih bersih.
Agha bangkit dari kursinya. Ia tidak menghampiri timnya lebih dulu. Ia berjalan menyeberangi ruangan, menuju sisi kiri, dan mengulurkan tangan pada Andros.
"Makasih, Dros."
Andros menatap tangan itu sejenak, lalu menjabatnya. "Makasih buat apa? Gue kalah."
"Lo baru aja nyelametin kemenangan gue dari keraguan. Kalau angka tadi gak dicek, setahun ke depan gue bakal dihantui omongan orang. Sekarang gak bakal ada yang bisa bilang gue menang karena salah ketik."
Andros tertawa. Tawa yang kalah, tapi lapang. "Gue cuma mau menang kalau beneran menang. Kalah juga gitu."
"Itu yang bikin lo pantes jadi lawan."
"Udah, udah. Jangan bikin gue terharu di depan orang banyak." Andros melepas jabatan tangannya, lalu menunjuk dengan dagunya ke arah meja panitia, tempat Humaira masih berdiri sambil merapikan formulir. "Tuh. Jagain bendahara lo. Matanya tajem banget. Angka satu yang kebaca nol aja ketahuan."
Agha tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu kembali ke timnya. Masayu menarik-narik ujung lengan jaketnya sambil menangis sesenggukan, lalu buru-buru melepaskannya dan menutup wajah karena malu. Tangannya memang suka khilaf. Indra merangkul bahunya. Bani mengacak-acak rambutnya. Amri berdiri paling akhir, menepuk bahunya sekali.
"Selamat," kata Amri. "Mulai besok, kita ditagih."
"Iya, Bang. Mulai besok."
Agha melepaskan diri dari kerumunan, mencari tempat yang agak sepi di pojok ruangan. Ia menghadap kiblat dan bersujud. Lama. Ketika bangkit, matanya basah.
@@@
Humaira keluar dari Pusgiwa hampir tengah malam. Andros sedang duduk di atas motor bebeknya di parkiran, memainkan kunci, menunggu Rudi yang masih berpamitan dengan panitia.
"Dros."
"Eh. Bu Bendahara pemenang."
"Lo keren tadi."
Andros mendongak. Lalu nyengir. "Gue emang dari dulu keren. Lo aja yang telat nyadar."
Humaira tertawa. Ia berdiri di samping motor itu, menjaga jarak seperti biasa. Angin malam Depok terasa dingin.
"Lo kecewa?"
"Banget." Andros menatap langit. "Tapi tadi waktu lo maju ke meja itu, terus bacain angka yang bikin gue tambah sepuluh suara, gue mikir. Sahabat gue ini emang gak bisa dibeli. Bahkan sama timnya sendiri." Ia tersenyum. "Gue bangga, Mai. Sumpah."
Humaira tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, lalu menunduk menatap aspal parkiran, menunggu dadanya berhenti terasa sesak.
@@@