"Sembilan puluh persen?"
Humaira mengangkat lembar materi itu tinggi-tinggi. Malam sebelum debat, ruang BEM Salemba penuh kertas, gelas kopi, dan wajah-wajah kurang tidur. Semua orang berhenti bergerak.
"Kita targetkan sembilan puluh persen aspirasi mahasiswa tuntas dalam satu semester," ia membaca keras-keras. "Ini siapa yang nulis?"
Galih mengangkat tangan pelan-pelan. "Saya, Kak. Biar kedengeran meyakinkan."
"Datanya dari mana?"
"Itu... target, Kak."
"Kita bahkan belum tahu ada berapa aspirasi. Kita belum tahu berapa yang urusannya rektorat, berapa yang urusannya fakultas, berapa yang urusannya kementerian." Humaira meletakkan kertas itu di depan Agha. "Kalau besok Andros nanya, sembilan puluh persen dari berapa, lo mau jawab apa?"
Agha membaca baris itu. Lalu mengambil pulpen dan mencoretnya.
"Ganti," katanya. "Tulis: setiap aspirasi dicatat, diberi jawaban, dan statusnya diumumkan. Termasuk yang gak bisa kita kerjain, beserta alasannya."
"Kurang heboh, Bang," protes Galih lemah.
"Gak apa-apa kurang heboh," sahut Amri dari pojok tanpa mengangkat kepala dari kertasnya. "Yang heboh biasanya yang bohong."
Galih menunduk dan mulai mengetik ulang.
@@@
Balairung UI penuh sesak keesokan malamnya. Kursi-kursi di lantai bawah terisi. Balkon di atas juga. Mahasiswa yang tidak kebagian kursi berdiri di lorong-lorong samping, berjaket kuning, membawa poster buatan sendiri. Sebagian bertuliskan nomor satu. Sebagian nomor dua. Di barisan ketiga dari depan, Humaira duduk bersama Saras dengan buku catatan di pangkuan. Ia tidak membawa poster. Ia membawa pulpen merah.
Andros membuka debat dengan sangat baik. Terlalu baik, pikir Masayu yang duduk di belakang panggung sambil menggigiti kukunya. Ia bicara tanpa membaca. Ia melempar lelucon di saat yang tepat, menyelipkan kutipan tokoh pergerakan, lalu menutup dengan kalimat dalam bahasa Belanda yang membuat seisi balkon bersorak walau tak ada yang paham artinya.
Agha bicara setelahnya. Lebih pelan. Lebih tenang. Ia tidak melempar lelucon. Ia menjelaskan apa yang akan dikerjakan, siapa yang mengerjakan, dan bagaimana mahasiswa bisa menagihnya. Beberapa orang di balkon terlihat menguap. Tapi beberapa yang lain mencatat.
Lalu tiba sesi saling bertanya. Andros berdiri, memegang mikrofon dengan santai.
"Saudara Agha. Semua orang di ruangan ini tahu Anda dari keluarga mana. Rumah sakit keluarga, perusahaan keluarga. Waktu demo kemarin, saya dengar ambulans-ambulans keluarga Anda berkeliaran di Senayan. Gedung-gedung yang melindungi mahasiswa, punya siapa? Saya gak menuduh. Saya cuma bertanya. Kalau Anda terpilih, apa bedanya BEM kita dengan dinasti politik yang selama ini kita demo?"
Balairung mendadak riuh. Sebagian bersorak. Sebagian bersiul. Di belakang panggung, Masayu memejamkan mata. Indra mengumpat pelan.
Humaira tidak bergerak. Ia hanya menatap panggung. Menunggu.
Agha berdiri. Ia tidak langsung bicara. Ia menunggu sampai ruangan tenang. Cukup lama, sampai orang-orang mulai heran.
"Pertanyaan yang bagus, Saudara Andros. Dan jawabannya: iya. Saya punya privilese."
Hening. Orang-orang saling pandang. Mereka tidak menyangka jawaban itu.
"Saya gak bisa memilih lahir di keluarga mana. Itu takdir Allah. Waktu demo, keluarga saya memang menolong. Bukan cuma saya. Puluhan mahasiswa dari banyak kampus, yang saya bahkan gak kenal namanya. Saya bersyukur untuk itu, dan saya gak malu." Ia menarik nafas. "Tapi Saudara benar. Privilese itu berbahaya kalau dipakai untuk membungkam orang. Atau untuk membeli suara."
Ia mengangkat sesuatu dari bawah meja. Sebuah tote bag. Lusuh, terbuat dari bahan spanduk bekas, dengan tulisan acara fakultas tahun lalu yang masih terbaca samar-samar. Di pojoknya ada stiker kecil nomor dua.
"Ini dana kampanye kami. Dijahit ibu-ibu di Depok. Dijual dua puluh ribu. Gak ada satu rupiah pun uang keluarga saya di kampanye ini. Bukan karena saya hebat. Tapi karena bendahara kami mengancam akan mundur kalau itu terjadi."
Balairung meledak oleh tawa. Lalu tepuk tangan. Panjang. Humaira di barisan ketiga menunduk, pipinya panas. Saras menyikutnya keras-keras sambil cekikikan.
"Dan kalau suatu hari saya kedapatan memakai nama keluarga saya untuk menekan siapa pun di kampus ini," lanjut Agha, "wakil saya sudah berjanji akan jadi orang pertama yang berdiri dan bilang tidak. Di depan kalian semua."
Ia menoleh ke Amri. Amri mengangguk. Tanpa senyum.
Andros duduk kembali. Ia tersenyum kecil, dan untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya bukan senyum panggung.
@@@
Amri mendapat giliran ketika moderator membacakan pertanyaan dari penonton. Seorang mahasiswa baru bertanya, apakah pasangan nomor dua akan memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang kesulitan membayar uang kuliah.
Amri berdiri. Ia tidak memegang kertas apa pun.
"Kami gak janji beasiswa," katanya. Datar. Beberapa orang terdengar kecewa. "Waktu saya SMA, ada orang yang janji beasiswa ke saya dan teman-teman saya. Orang itu jadi pejabat. Beasiswanya gak pernah ada. Ayah saya yang ikut menyampaikan janji itu ke warga kampung, meninggal dengan nama yang dicap pembohong."
Balairung hening total.
"Jadi saya gak mau berjanji duit yang belum ada. Yang kami janjikan cuma ini. Kami akan memetakan semua beasiswa dan keringanan yang sudah tersedia di kampus ini. Siapa yang berhak, bagaimana caranya, kapan tenggatnya. Kami akan duduk sama kalian dan bantu urus berkasnya. Kami akan umumkan berapa yang berhasil, berapa yang gagal, dan kenapa gagalnya." Ia berhenti. "Itu kedengarannya kecil. Tapi itu bisa kalian tagih."
Ia duduk. Selama beberapa detik, tidak ada yang bertepuk tangan. Lalu seseorang di balkon memulai. Kemudian yang lain. Kemudian hampir seisi Balairung.
Humaira berhenti mencatat. Ia ikut bertepuk tangan. Keras sekali, sampai telapak tangannya perih.
@@@
Di tengah tepuk tangan itu, Agha tanpa sadar menoleh ke arah barisan ketiga. Matanya mencari. Dan ketemu.
Gadis berjilbab abu-abu dengan pulpen merah di tangan. Sedang tersenyum. Bukan senyum jutek yang biasa. Senyum lebar yang membuat matanya menyipit.
Satu detik. Dua detik.
Agha langsung menunduk. Menatap mejanya. Jemarinya meremas ujung kertas materi sampai kusut. Astagfirullahal'adzim, bisiknya dalam hati, berulang-ulang. Ini bukan tempatnya. Ini bukan waktunya. Ia sedang berdiri di depan ribuan mahasiswa, berjanji soal amanah, dan matanya justru mencari-cari satu orang di barisan ketiga.
Selesai debat, Andros menghampirinya di belakang panggung. Ia mengulurkan tangan. Agha menjabatnya.
"Jawaban lo tadi bagus," kata Andros. "Nyebelin, tapi bagus."
"Pertanyaan lo juga. Nyebelin, tapi perlu."
Andros tertawa. Lalu ia mencondongkan badan sedikit, berbisik. "Dan lo nyolong bendahara gue. Jangan lupa itu."
"Dia milih sendiri, Dros."
"Iya. Itu yang paling nyebelin." Andros menepuk bahunya dan berjalan pergi bersama Rudi, bersiul-siul kecil seolah tak ada yang terjadi.
Agha menatap tote bag lusuh di tangannya. Tote bag yang ia dapatkan dua hari lalu, ketika Humaira menyerahkannya di ruang rapat dengan pesan singkat: Bawa ini besok. Kalau ditanya soal duit, tunjukin aja.
Gadis itu bahkan sudah menebak pertanyaan Andros sebelum Andros sendiri memikirkannya.
@@@