Tanggal enam, menjelang Magrib, Hanafi mengirim pesan.
Mai, bisa ketemu bentar? Di danau belakang MIPA. Gak lama. Ada Saras juga kok, dia nunggu di gazebo.
Humaira membaca pesan itu di laboratorium, tangannya masih bersarung lateks. Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. Atau mungkin alasannya terlalu jelas, dan ia saja yang tidak mau mengakuinya.
Iya. Sepuluh menit lagi.
Danau di belakang FMIPA sedang tenang. Beberapa ekor biawak berjemur di batu dekat tepian, menikmati sisa matahari. Hanafi berdiri di bawah pohon trembesi, kemejanya biru laut seperti biasa. Saras duduk di gazebo agak jauh, pura-pura sibuk memotret bebek. Humaira berhenti di sebelah Hanafi, menjaga jarak satu lengan.
"Besok sidang," kata Humaira membuka percakapan. "Udah siap?"
"Udah. Kayaknya."
"Kayaknya?"
"Siap kok. Gue udah latihan presentasi sebelas kali. Saras sampai hafal isinya."
Humaira tertawa kecil. Lalu hening. Air danau beriak pelan ditiup angin.
"Mai."
"Hm?"
"Gue mau ngomong sesuatu. Dari lama. Tapi gue gak pernah berani." Hanafi menatap danau, tidak menatapnya. "Gue gak mau berangkat sidang besok, terus berangkat ke Barca, dengan bawa omongan yang belum gue taruh."
Humaira menggenggam tali ranselnya erat-erat.
"Gue suka sama lo. Dari tahun pertama. Dari pertama lo ngebentak senior di ospek fakultas gara-gara dia nyuruh maba lari pakai sepatu basah." Hanafi tertawa kecil, lalu menelan ludah. "Gue gak pernah ngomong karena gue mikir, nanti aja, abis lulus, abis kerja, abis bisa bahagiain Mama. Terus tiba-tiba waktunya habis. Dan sekarang gue malah mau pergi."
Humaira tidak bisa berkata apa-apa. Matanya mulai basah. Ia mendongak, menatap daun-daun trembesi supaya air matanya tidak jatuh.
"Gue gak minta lo jawab," lanjut Hanafi. "Gue juga gak minta lo nunggu. Itu gak adil. Gue gak tahu bakal jadi apa di sana. Gue cuma pengen lo tahu. Biar nanti, kalau lo inget gue, lo inget gue sebagai orang yang jujur. Bukan orang yang cuma bukain pintu mobil terus diem-diem aja."
"Hanaf..."
"Hm?"
"Gue juga." Suaranya pecah. Air matanya akhirnya jatuh. "Gue juga suka sama lo. Dari lama."
Hanafi memejamkan mata. Ia tersenyum, tapi matanya ikut basah. Mereka berdiri berdampingan, sama-sama menatap danau, dan untuk beberapa saat tak ada yang sanggup bicara.
"Kita telat ya," gumam Hanafi akhirnya.
"Iya. Telat banget."
"Lo nyesel?"
Humaira menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia berpikir lama sebelum menjawab.
"Gak. Kalau dulu kita pacaran, gue pasti udah ngelanggar prinsip gue sendiri. Kalau dulu lo ngelamar, lo pasti belum siap. Mungkin emang harusnya begini." Ia menarik nafas panjang. "Gue gak mau lo batalin Barca. Lo udah nunggu bertahun-tahun buat bisa serumah lagi sama Mama dan Hanan. Itu hak lo."
"Dan gue gak mau lo nungguin gue. Itu hak lo juga."
Humaira mengangguk. "Jadi kita lepas?"
"Kita lepas." Hanafi menoleh, menatapnya untuk pertama kali sejak percakapan itu dimulai. "Tapi gue doain lo. Tiap hari. Itu boleh kan?"
"Boleh. Gue juga."
Azan Magrib terdengar dari masjid fakultas. Hanafi tertawa pelan, seperti orang yang baru saja meletakkan beban sangat berat. Ia mengangguk ke arah gazebo. Saras sudah berdiri, tisu di tangan, wajahnya merah karena menangis diam-diam sejak tadi.
"Udah, sana. Solat. Gue juga mau balik, ngapalin slide lagi."
"Sebelas kali belum cukup?"
"Dua belas biar genap."
@@@
Tanggal tujuh, ruang sidang Departemen Fisika penuh oleh teman-teman Hanafi. Humaira dan Saras duduk di bangku tunggu di luar, karena sidangnya tertutup. Mereka hanya bisa mendengar suara samar dari balik pintu. Kadang suara Hanafi menjelaskan sesuatu dengan tenang. Kadang suara dosen penguji yang bertanya panjang. Kadang hening yang lama sekali dan membuat Saras meremas tangan Humaira sampai sakit.
Dua jam kemudian, pintu terbuka. Hanafi keluar dengan wajah pucat, lalu tersenyum lebar.
"Lulus. Revisi minor."
Saras menjerit. Teman-teman Fisika yang menunggu di koridor langsung menyerbu, menepuk-nepuk bahu Hanafi, mengalungkan bunga plastik yang entah dibeli di mana. Seseorang membawa kue. Seseorang lagi menyiram kepala Hanafi dengan air mineral, tradisi angkatan mereka. Hanafi tertawa basah kuyup.
Humaira berdiri agak jauh. Ia bertepuk tangan bersama yang lain. Ia tersenyum ketika Hanafi menoleh ke arahnya dan mengacungkan jempol. Ia mengucapkan selamat dengan suara paling ceria yang bisa ia keluarkan.
Lalu ia pamit ke toilet.
Ia tidak ke toilet. Ia berjalan cepat keluar gedung, berbelok ke lorong sempit di belakang Departemen Fisika, tempat orang-orang jarang lewat. Di sana, bersandar di dinding yang lembap, ia akhirnya membiarkan dirinya menangis. Bukan tangis yang keras. Hanya bahu yang berguncang dan tangan yang menutup mulut rapat-rapat, supaya tidak ada suara yang keluar.
Hanafi lulus. Hanafi akan wisuda. Hanafi akan pergi.
Semuanya berjalan persis seperti yang seharusnya. Dan justru karena itu, rasanya sakit sekali.
@@@
Agha tidak berencana datang. Ia hanya kebetulan ada di FMIPA siang itu, mengantar Masayu bertemu ketua BEM MIPA soal jadwal dialog kampanye. Ia hanya kebetulan mengambil jalan pintas lewat belakang Departemen Fisika untuk menuju parkiran.
Lalu ia melihatnya. Dari ujung lorong.
Humaira, bersandar di dinding, menutup wajahnya dengan dua tangan.
Agha berhenti. Kakinya mendadak berat. Bagian dari dirinya ingin menghampiri. Menanyakan apa ia baik-baik saja. Menawarkan tisu, atau air, atau apa saja. Tapi bagian lain dirinya tahu. Bukan dia yang dibutuhkan gadis itu sekarang. Dan tangis yang disembunyikan di lorong sepi tidak ingin ditemukan oleh siapa pun, apalagi oleh laki-laki yang bukan siapa-siapa.
Ia mundur pelan. Tanpa suara. Lalu berbalik dan berjalan cepat kembali ke depan gedung, tempat kerumunan anak Fisika masih merayakan kelulusan Hanafi. Ia mencari-cari wajah yang ia kenal. Ketemu.
"Saras!"
Saras menoleh, kaget. "Eh, Agha? Ngapain di sini?"
"Lorong belakang Fisika," kata Agha pelan. "Temen lo butuh lo."
Saras langsung paham. Wajahnya berubah. Ia mengangguk sekali dan berlari ke arah yang ditunjuk Agha tanpa bertanya apa-apa lagi.
Agha memandanginya pergi. Lalu ia berjalan ke parkiran, masuk ke mobil, dan duduk lama di balik kemudi tanpa menyalakan mesin. Masayu mengetuk kaca jendelanya sepuluh menit kemudian.
"Lo kenapa? Dicariin dari tadi."
"Gak apa-apa, Yu. Yuk balik."
Masayu masuk dan memasang sabuk pengaman. Ia memandangi Agha dari samping. Ia tidak bertanya lagi. Tapi ia melihat dari kaca spion, ke arah gedung Fisika, dan entah bagaimana, ia mengerti.
@@@