Fotonya diambil dari kejauhan. Agak buram, tapi cukup jelas untuk dikenali. Halaman Pusgiwa pada malam hari. Lampu jalan kuning. Seorang laki-laki berjaket kuning berjalan di depan, dan seorang perempuan berjilbab dengan ransel besar berjalan beberapa langkah di belakangnya. Hanya mereka berdua. Jam di pojok foto menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh malam.
Keterangannya lebih kejam dari fotonya.
Cinlok di tim nomor dua? Bendahara cadas MIPA pulang malam bareng calon ketua. Katanya sih rapat. Kasian yang di Fisika sama yang di FIB, gigit jari. Cinta segitiga jadi segi empat nih.
Akun gosip kampus itu punya puluhan ribu pengikut. Dalam dua jam, unggahan itu sudah dibagikan ke ratusan grup.
"Itu bohong!" Saras membanting ponselnya ke meja kantin. Wajahnya merah padam. "Malam itu rapatnya bertujuh! Gue ada di situ! Bani ada! Masayu ada! Mereka motong fotonya pas yang lain masih di dalam beresin kursi!"
"Gue tahu, Ras," jawab Humaira datar. Ia tetap mengunyah gorengannya.
"Terus lo diem aja?"
"Terus gue harus ngapain? Bikin klarifikasi? Nanti malah makin rame."
"Tapi Mai, mereka nyebut-nyebut Hanafi!"
Humaira berhenti mengunyah. Itu bagian yang paling membuatnya kesal. Bukan namanya sendiri. Ia sudah biasa jadi bahan omongan sejak fotonya dikirim Saras ke akun mahasiswi cantik dulu. Tapi menyeret Hanafi dan Andros ke dalamnya, dua orang yang sedang punya urusan masing-masing yang jauh lebih berat, itu yang membuat dadanya panas.
"Udah, Ras. Biarin. Besok juga mereka bosen."
Tapi kabar burung tidak bosan secepat itu.
@@@
Agha membaca unggahan itu di ruang BEM Salemba bersama Masayu dan Indra. Ia membacanya sekali, lalu meletakkan ponsel tertelungkup di meja.
"Gue bikinin klarifikasi?" tawar Masayu.
"Jangan. Nanti dikira kita kebakaran jenggot."
"Terus?"
Agha diam sebentar. "Mulai sekarang, rapat gak boleh lewat jam sembilan. Dan gue gak mau ada momen gue jalan sendirian sama siapa pun dari tim. Cewek atau cowok. Selalu bareng-bareng. Kalau pulang, yang cewek dianter rombongan."
Indra mengangkat alis. "Lo serius? Gara-gara satu foto?"
"Bukan gara-gara fotonya. Gara-gara dia." Agha mengusap wajahnya. "Dia gak pernah minta jadi bahan omongan, Dra. Dia cuma mau jadi bendahara. Gue yang ngajak dia masuk. Jadi gue yang harus jaga."
Masayu memandangi Agha dari samping. Lagi-lagi kalimat itu. Gue yang harus jaga. Ia menunduk ke laptopnya dan pura-pura sibuk mengetik jadwal.
Sore harinya, sebuah unggahan lain muncul. Kali ini dari akun pribadi Andros. Hanya tulisan putih di latar hitam.
Buat temen-temen yang dukung nomor satu: kalau kalian sayang sama gue, stop sebarin gosip soal tim sebelah. Apalagi soal sahabat gue. Kita menang pakai program, bukan pakai foto orang pulang rapat. Malu, gaes. Malu.
Humaira membaca unggahan itu di kereta pulang. Ia tersenyum kecil. Lalu mengirim pesan.
Makasih, raja kadal.
Balasannya datang dengan stiker kadal mengedipkan mata.
@@@
Hanafi menunggu di serambi Masjid Ukhuwah Islamiyah selepas Isya. Lampu-lampu masjid berpendar di permukaan danau. Agha datang sendirian, sesuai permintaan. Mereka duduk berdampingan di anak tangga, memandangi jamaah yang satu per satu pulang.
"Sorry ganggu. Lo pasti capek."
"Santai, Naf. Ada apa?"
Hanafi tidak langsung menjawab. Ia memainkan kunci mobil di tangannya. Lalu, tanpa basa-basi, ia bertanya.
"Lo suka sama Maira?"
Agha terdiam. Angin malam dari arah danau terasa dingin.
Ia bisa saja mengelak. Ia bisa bilang itu cuma gosip, cuma foto yang dipotong, cuma kerja tim. Semua itu benar. Tapi pertanyaan Hanafi bukan soal foto. Dan Agha tahu, laki-laki di sebelahnya ini layak mendapat jawaban yang jujur.
"Gue kagum sama dia," jawabnya pelan. "Dari pertama ketemu di FMIPA, waktu dia nanya visi-misi gue sampai gue keringetan. Makin lama gue kenal, makin kagum. Mungkin..." ia berhenti. "Mungkin udah lebih dari kagum. Gue juga gak tahu pastinya."
Hanafi mengangguk pelan. Ia tidak terlihat marah. Tidak juga terkejut.
"Tapi gue gak bakal ngapa-ngapain, Naf," lanjut Agha cepat. "Selama dia di tim gue, dia bendahara gue. Titik. Gue gak mau dia ngerasa dimanfaatin, atau mikir gue ngajak dia masuk tim karena ada maunya."
"Dan selama gue masih di sini?"
Agha menoleh. Hanafi tersenyum tipis. Senyum yang lelah.
"Gue juga tahu, Gha. Satu fakultas juga tahu. Gue sama Maira itu..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menunduk, menatap kunci mobil di telapak tangannya. "Gue mau pergi. Ke Barca. Abis wisuda. Mungkin gak balik."
"Gue denger."
"Gue gak bisa janjiin apa-apa ke dia. Gue belum kerja. Belum tahu bakal tinggal di mana. Masa depan gue masih kayak peta yang belum digambar." Ia tertawa kecil, getir. "Gue gak berhak nyuruh dia nunggu. Dan gue juga gak berhak ngelarang siapa pun."
"Naf--"
"Gue gak lagi ngasih lampu hijau ke lo. Jangan salah paham." Hanafi menatap Agha. Untuk pertama kalinya malam itu, ada ketegasan di matanya. "Gue cuma mau bilang, siapa pun yang nanti ada di samping dia, orang itu harus orang yang gak pernah bikin dia nangis diam-diam. Dia itu kelihatannya galak, Gha. Tapi dia gampang banget nangis kalau gak ada yang lihat."
Agha teringat sesuatu. Ia pernah melihat Humaira menangis. Di rumah sakit, setelah dokter selesai memeriksa, saat ia mengintip dari kaca pintu sebelum memutuskan pulang. Gadis itu menutup wajahnya dengan selimut dan bahunya berguncang. Hanya beberapa detik. Lalu ia membuka selimut dan sudah memasang wajah galak lagi untuk mengomeli kakaknya.
"Gue tahu," jawab Agha.
Mereka diam lama. Seekor kelelawar melintas rendah di atas danau.
"Lo udah ngomong ke dia?" tanya Agha akhirnya. "Soal perasaan lo?"
"Belum." Hanafi berdiri, menepuk-nepuk celananya. "Besok lusa. Sebelum sidang. Gue gak mau berangkat sidang dengan beban yang belum gue taruh."
Agha ikut berdiri. Ia mengulurkan tangan. Hanafi menjabatnya.
"Semoga sidang lo lancar, Naf."
"Semoga lo menang, Gha. Beneran." Hanafi melepas jabatan tangannya, lalu berjalan ke arah parkiran. Beberapa langkah kemudian ia berhenti, menoleh. "Satu lagi. Kalau suatu hari lo serius, jangan lewat chat. Lewat Mas Rangga. Dia galak, tapi adil."
Agha hanya bisa tertawa pelan. Ia memandangi punggung Hanafi sampai hilang ditelan gelap parkiran. Lalu ia kembali duduk di anak tangga masjid, sendirian, menatap danau yang tenang.
Malam itu ia baru menyadari sesuatu yang selama ini ia hindari. Ia benar-benar jatuh cinta. Dan orang pertama yang mengatakannya dengan lantang justru laki-laki yang juga mencintai perempuan yang sama.
@@@