Kamis berikutnya, berkas pendaftaran pasangan Agha Muhammad Fahlevi dan Amri diserahkan ke panitia PEMIRA di Pusgiwa. Map itu sudah diperiksa empat kali. Dua kali oleh Masayu, sekali oleh Amri, dan sekali oleh Humaira, yang menemukan satu tanda tangan tertukar posisinya dan membuat seisi tim panik setengah jam.
Panitia membalik halaman demi halaman. Lalu mengangguk dan menyerahkan secarik kertas bercap. Tanda terima. Bani hampir bersorak. Masayu langsung memotretnya untuk arsip. Amri membaca setiap kata di kertas itu dengan teliti, seolah sedang membaca kontrak jual beli tanah.
Di halaman Pusgiwa, baliho besar sudah terpasang. Wajah Andros tersenyum lebar bersama Rudi di sebelahnya. Di bawahnya tertulis besar-besar: SUARA KITA, ARAH KITA.
"Gede banget," gumam Bani.
"Bagus," kata Humaira. "Biar kelihatan jelas bedanya."
Seminggu kemudian, panitia mengumumkan dua pasangan calon yang lolos verifikasi. Nomor urut satu, Andros Keenan Al-Kahfi dan Rudi. Nomor urut dua, Agha Muhammad Fahlevi dan Amri. Masa kampanye resmi dimulai.
@@@
Hari ketiga kampanye, sebuah video beredar di mana-mana.
Rekaman itu diambil oleh seorang jurnalis di halaman rutan pada hari demo. Gambarnya goyang, tapi suaranya jelas. Suara tamparan dari dalam gedung. Keras. Lalu kegaduhan. Kamera ikut menerobos masuk bersama rombongan jurnalis, dan di ujung lorong tampak dua polisi wanita membopong seorang perempuan berjilbab yang terkulai. Lalu seorang laki-laki merebutnya dan menggendongnya keluar. Rangga.
Rangga sendiri yang mengizinkan rekaman itu dipublikasikan oleh redaksi tempatnya bekerja, setelah wajah Humaira disamarkan dan setelah Humaira menyetujuinya. Laporan resmi sudah masuk ke Propam dua hari sebelumnya, lengkap dengan hasil pemeriksaan rumah sakit dan kesaksian beberapa jurnalis. Tujuannya satu. Supaya kasus itu tidak menguap seperti kasus-kasus sebelumnya.
Dalam satu malam, video itu ditonton ratusan ribu kali. Tagar nama kampus naik. Komentar-komentar marah membanjiri akun kepolisian.
Dan di ruang rapat tim Agha di Salemba, seorang anggota tim media mengajukan usul.
"Ini momentum, Bang," kata Galih, anak FISIP yang baru bergabung minggu lalu. Ia memutar laptopnya ke arah Agha dengan mata berbinar. "Semua orang tahu yang di video itu Humaira. Semua orang juga tahu Kak Humaira sekarang di tim kita. Kita bikin konten. Bang Agha yang bantuin bebasin mahasiswa, bendahara kita korban kekerasan aparat. Narasinya kuat banget. Pasti viral."
Beberapa anggota mengangguk-angguk. Indra mengerutkan kening. Masayu melirik Agha.
Agha menatap layar laptop itu. Di sana sudah ada rancangan poster. Potongan video, wajah yang disamarkan, tulisan besar berwarna merah. Lalu foto Agha di sebelahnya, sedang berorasi di depan gedung DPR.
Ia menutup laptop itu pelan.
"Gak."
"Tapi Bang--"
"Gue bilang gak, Lih." Suaranya tidak keras. Tapi seisi ruangan langsung diam. Bahkan Bani yang sedang mengunyah kacang polong berhenti mengunyah. "Itu pipi orang. Itu sakitnya orang. Pipi dia bukan baliho kita."
Galih menelan ludah.
"Humaira dan Mas Rangga lagi nempuh jalur hukum. Kalau kita bikin itu jadi bahan kampanye, orang-orang di sana bakal bilang kasusnya dipolitisasi. Kasusnya bisa mati. Dan yang rugi bukan kita. Yang rugi dia." Agha menatap Galih. "Lagi pula, gue gak bebasin siapa-siapa sendirian. Ada pengacara, ada jurnalis, ada keluarga gue, ada temen-temen BEM dari kampus lain. Kalau gue ngaku-ngaku, itu bohong."
Hening. Galih menunduk. "Maaf, Bang. Saya gak kepikiran sampai situ."
"Gak apa-apa. Lo niatnya bantu. Tapi mulai sekarang, apa pun yang nyangkut kejadian di rutan, gak boleh disentuh tim media. Siapa pun. Termasuk gue."
Pintu ruang rapat terbuka. Humaira berdiri di ambangnya dengan ransel di punggung. Napasnya sedikit terengah, sepertinya baru berlari dari Stasiun Cikini. Dari raut wajahnya, jelas ia sudah mendengar bagian akhir percakapan itu.
Seisi ruangan menoleh. Galih makin menunduk.
Humaira menatap Agha. Lama. Tatapan yang sulit dibaca. Lalu ia masuk, menaruh ransel di kursi, dan membuka buku kasnya seolah tak terjadi apa-apa.
"Sorry telat. Kereta gangguan. Kita bahas pengeluaran stiker dulu ya."
@@@
Rapat berjalan seperti biasa. Tapi Masayu tidak bisa berkonsentrasi.
Ia sudah mengenal Agha bertahun-tahun. Ia sudah melihat laki-laki itu marah. Tidak sering, tapi pernah. Waktu ada senior yang merundung mahasiswa baru di ospek. Waktu dana kegiatan BEM fakultas dipotong sepihak oleh pihak dekanat. Agha marah dengan cara yang tenang, terukur, dan selalu soal prinsip.
Tadi juga soal prinsip. Masayu tahu itu.
Tapi ada sesuatu yang lain. Cara Agha mengucapkan kalimat itu. Pipi dia bukan baliho kita. Ada getar di sana. Getar yang belum pernah Masayu dengar sebelumnya. Getar orang yang marah bukan hanya karena prinsip, tapi karena seseorang yang ia pedulikan disakiti.
Selesai rapat, Masayu menahan Agha di pintu. Yang lain sudah turun.
"Gha."
"Hm?"
"Lo tadi marah banget."
Agha menghela nafas. "Galih gak salah. Gue aja yang kebawa."
"Kalau yang di video itu gue," Masayu tersenyum tipis, "lo bakal semarah itu juga?"
Agha menatapnya heran. "Ya iya lah, Yu. Lo pikir gue bakal biarin?"
"Iya. Gue tahu." Masayu mengangguk. Senyumnya masih di sana. "Gue cuma nanya."
Ia berbalik dan berjalan turun lebih dulu. Agha memandanginya bingung, lalu mengendikkan bahu. Ia tidak menyadari bahwa jawaban yang benar itu justru jawaban yang menyakitkan. Karena Masayu tahu Agha akan marah untuknya. Tapi ia juga tahu, tidak dengan getar yang sama.
@@@
Malam itu, Humaira tidak bisa tidur. Ia duduk di teras kontrakan sambil memeluk lutut. Bi Inah sudah tidur. Rangga belum pulang. Lampu jalan berkedip-kedip.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk. Dari nomor yang baru beberapa minggu tersimpan di kontaknya.
Maaf soal tadi. Harusnya gue jaga tim gue lebih baik dari awal. Gak bakal kejadian lagi. Udah jam sembilan lewat lima puluh. Gue gak telepon, sesuai syarat nomor tiga.
Humaira membaca pesan itu dua kali. Lalu tanpa sadar, ia tersenyum. Ia mengetik balasan.
Makasih udah ngebela. Tapi lain kali gak usah semarah itu. Galihnya sampai mau nangis.
Balasan datang cepat.
Iya. Besok gue traktir dia es teh.
Humaira tertawa kecil sendirian di teras. Ia meletakkan ponsel di pangkuan dan memandangi langit Depok yang tak berbintang. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Hangat, tapi asing. Ia memutuskan untuk tidak memikirkannya.
Bukan sekarang. Masih ada Hanafi di sana. Masih ada tanggal tujuh yang makin dekat.
@@@